Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HUTANG RIBAWI NEGARA, HARUSNYA TERHINA BUKAN BANGGA

Wajah Kapitalisme, menjadikan Hutang sebagai sumber pendapatan

Oleh : Agan Salim

Baru-baru ini pemerintah  menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) yang merupakan obligasi pemerintah dengan tenor terlama yang pernah diterbitkan  hingga 50 tahun.

Dengan Pandemic Bond juga akan digunakan untuk menutup pelebaran defisit anggaran dan hutang jatuh tempo dan bunga (riba) dalam APBN 2020 yang diperkirakan hingga Rp 853 triliun.

Dan hebatnya lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam peluncuran global bond dengan nada penuh kebanggaan dan menggangap sebagai sebuah prestasi. Inilah wajah Sistem Ekonomi Kapitalis, yang menjadikan Hutang sebagai “Sumber Pendapatan” selain pajak. Begitupun dinegeri ini.

Dalam sistem kapitalis, PDB perkapita adalah alat ukur yang sering digunakan untuk kelayakan sebuah negara berutang, padahal faktanya alat ukur ini tidaklah layak dijadikan ukuran dengan besarnya perbedaan pendapatan rakyat disebuah negara.

Lihat saja kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia setara dengan 10,3% PDB, yang merupakan jumlah yang sama dengan kombinasi harta milik 60 juta rakyat miskin di negeri ini. Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi kekayaan yang besar untuk kelompok elit yang kecil.

Sungguh fakta-fakta di atas menunjukan betapa negeri ini sudah masuk pada jerat hutang ribawi.  Dan ini semua bermula dari paradigma Kapitalisme yang diadopsi di negeri ini.

Bagaiman kita tidak terjebak  hutang RIBAWI.
Paham kapitalisme mengharuskan sumber potensi pendapatan negara yang halal diserahkan pengelolaannya kepada asing dan swasta dengan kebijakan privatisasi, dan sebaliknya sumber potensi yang haram seperti hutang ribawi justru dijadikan solusi pragmatis penutup defisit anggaran negara.

Padahal negeri yang berpenduduk mayoritas Islam, harusnya sadar bahwa transaksi ribawi bukanlah perkara yang kecil
Rasullah pernah bersabda :
“ Jika perzinaan dan riba sudah merajalela di suatu negeri maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan adzab Allah atas mereka.”

Inilah fakta yang kita hadapi saat ini, alih-alih wabah corona ini menjadi pelajaran berharga untuk kembali ke aturan Sang Khaliq dalam tata kelola perekonomian negeri ini.  Justru yang dilakukan sebaliknya, malah menambah hutang ribawi yang nyata-nyata akan mengundang adzab Allah yang jauh lebih besar.

Sungguh Islam punya solusi atas problematika hutang ribawi dan resesi saat ini, karena sistem ekonomi merupakan bagian integral dari ajaran Islam, dan karenanya ekonomi Islam akan terwujud hanya jika ajaran Islam diyakini dan dilaksanakan secara menyeluruh.

Post a Comment for "HUTANG RIBAWI NEGARA, HARUSNYA TERHINA BUKAN BANGGA"