Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wahai Rezim India, Nenek Moyang Kalian Pernah Merasakan Keadilan Islam !


Oleh ; Ahmad Sakhroni

Saat ini, dibelahan Negeri india, kita menyaksikan bagaimana pilunya umat Islam disana, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil penguasa, disahkannya "UU Anti Islam" sebagai bukti kesewenang-wenangan penguasa india. Padahal, jauh sebelum itu, Kaum muslim dan umat beragama lainnya hidup damai berdampingan, aman sejahtera dalam naungan Khilafah.

Tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban Islam yang agung, Adalah Malik Ibnu Dinar dan 20 sahabat Rasulullah SAW yang kali pertama menyebarkan ajaran Islam di negeri itu. Saat itu, Malik dan sahabatnya menginjakkan kaki di Kodungallur, Kerala.

Konon, dari wilayah itulah Islam menyebar ke seantero India. Malik lalu membangun masjid pertama di daratan India, yakni di wilayah Kerala. Masjid pertama yang dibangun kaum Muslimin itu berbentuk mirip candi, tempat ibadah umat Hindu. Diyakini, masjid itu dibangun pada 629 M.

Dalam versi lain, masjid pertama di India itu dibangun oleh Cheraman Perumal Bhaskara Ravi Varma, seorang Muslim berdarah India. Sesuai dengan nama orang yang membangun, masjid di Kerala tersebut diberi nama Masjid Cheraman Juma.

Sejumlah catatan sejarah menyebut, masuknya Islam di India dibawa oleh para pedagang Arab. Dari tanah Arab, mereka berlayar ke pantai barat India untuk berdagang. Berbagai macam barang mereka perdagangkan, mulai dari rempah-rempah, emas, sampai aneka barang dari Afrika.

Sembari berdagang, mereka juga menyebarkan agama Allah SWT ini di wilayah pesisir yang dekat dengan daerah perdagangan mereka. Melalui aktivitas perdagangan antara para saudagar Muslim Arab dan India, Islam terus menyebar di pesisir dan kota-kota di India.

Selain kontribusi para pedagang Muslim dari Arab, penyebaran Islam di India juga ditopang oleh ekspansi yang dilakukan kaum Muslimin pada masa kekhalifahan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus.

Bukti-bukti sejarah peradaban Islam itu hingga kini masih dapat kita saksikan, diantaranya adalah Taj Mahal di Agra, Uttar Pradesh, Masjid Sultan Ahmad Shah dan Masjid Bilal Khan Qazi di Gujarat, Benteng Merah (Red Fort) di New Delhi, dan Turkash Mahal di Karnataka.

Dalam bidang politik, Kesultanan Mughal (yang secara politik menjadi bagian ke Khalifahan Turki Utsmani) berhasil menyatukan rakyat Islam, Hindu, dan penganut lainnya. Di bidang militer, pasukan Mughal dikenal dengan pasukan yang kuat. Terdiri dari pasukan gajah, berkuda, dan meriam.

Wilayahnya dibagi menjadi distrik-distrik yang dikepalai oleh Sipah Salar. Di bidang ekonomi, memajukan pertanian. Terdiri dari padi, kacang, tebu, kapas, tembakau, dan rempah-rempah. Pemerintah membentuk sebuah lembaga yang mengurusi hasil pertanian serta hubungan dengan para petani.

Industri tenun juga banyak diekspor ke Eropa, Asia Tenggara dll. Masa Jahangir, investor diizinkan menanamkan investasinya, seperti mendirikan pabrik. Di bidang seni, Jahangir merupakan salah satu pelukis terhebat.

Kesultanan Mughal juga terkenal dengan karya seni ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Diantara bangunan yang terkenal: benteng merah, makam kerajaan, masjid Delhi, dan yang paling popular adalah Taj Mahal di Aghra.

Di bidang ilmu pengetahuan, Syah Jahan mendirikan perguruan tinggi di Delhi. Aurangzeb mendirikan pusat pendidikan di Lucknow. Tiap masjid mempunyai lembaga tingkat dasar yang dipimpin oleh seorang guru.

Masa keemasan peradaban Islam pun berangsur melemah, seiring dengan masuknya serangan (fisik dan pemikiran-pemikiran) asing serta faktor-faktor internal, Kekalahan melawan pasukan penjajah inggris menjadi masa akhir pemerintahan islam di India. Ini terjadi pada tahun 1857 M. Setelah sebelumnya kekuasaan mereka ditundukan dalam sebuah perjanjian dengan inggris (IEC) pada masa pemerintahan Akbar II (1806-1837 M).

melemahnya kesultanan Mughal tidak bisa lepas dari melemahnya keKhilafahan turki utsmani, karena secara geopolitis, kesultanan Mughal termasuk wilayah daulah Khilafah Utsmani.

jauh sebelum terseret dalam perang besar, Khilafah Utsmani sebenarnya sedang sakit. Antara tahun 1908 masehi hingga tahun 1913 masehi, Utsmani dilanda ancaman dari dalam dan luar, yaitu Revolusi Turki Muda dan tuntutan merdeka daerah-daerah di Semenanjung Balkan.

Ketika Utsmani memutuskan bergabung dengan Jerman dalam perang besar melawan pasukan sekutu, kekhalifahan berusia enam abad lebih yang menguasai tiga benua ini perlahan-lahan berjalan sempoyongan seperti tak punya arah.

Hal ini diperparah dengan perjanjian gencatan senjata pada tahun 1919 masehi yang sangat merugikan Utsmani, sebelum akhirnya musnah dari peradaban pada tahun 1924 masehi.

Usaha Kembali Bersatu

Sinyal kebangkitan khilafah sebagai usaha penyatuan umat Islam muncul dengan adanya gerakan All Khilafat Conference di India (tahun 1919). Gerakan ini secara tetap mengadakan pertemuan-pertemuan dalam membicarakan dan mengusahakan tegaknya kembali kekhilafahan. Dilanjutkan pertemuan serupa di Karachi, Pakistan (1921).

Tahun 1926 di Kairo diselenggarakan Kongres Khilafah yang diprakarsai para ulama Al-Azhar. Kemudian Kongres Islam Sedunia di Mekkah (1926), Konferensi Islam Al-Aqsa di Yerussalem (1931), Konferensi Islam International kedua di Karachi (1949), Konferensi Islam International ketiga di Karachi (1951).

Juga diselenggarakan Pertemuan Puncak Islam di Mekkah (1954), Konferensi Muslim Dunia di Mogadishu (1964), Konferensi Muslim Dunia di Rabat Maroko yang melahirkan OKI (1969), dan Konferensi Tingkat Tinggi Islam di Lahore Pakistan (1974).

Di Indonesia sendiri, usaha penyatuan Muslimin dalam bingkai Khilafah juga dilakukan oleh beberapa tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, KH Munawar Cholil, Dr. Abdul Karim Amrullah, dan Wali Al-Fatah.

Dimulai dengan penyelenggaraan Komite Khilafah berpusat di Surabaya (1926), dilanjutkan dengan Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta (1949), dan Kongres Alim Ulama Mubalighin Seluruh Indonesia di Medan (1953).

Kini, usaha untuk mengembalikan Khilafah terus bergema, terlepas dari tanggapan positif atau negatif, Khilafah sudah menjadi buah bibir umat, walaupun halangan dan rintangan terus menerpa para pengembannya, itu semua tidak menyurutkan mereka dalam memperjuangkannya. Dorongan imanlah yang menjadikan mereka tegar, mereka yakin dengan apa yang di Janjikan Allah SWT lewat lisan RasulNya

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ  فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Realitas yang menujukan lemahnya kaum muslim saat ini, turut serta membangun kesadaran di tengah-tengah umat akan pentingnya penegakan Khilafah Islamiyah, cara demokrasi sudah dan terus dicoba untuk membangkitkan umat, tetapi selalu kandas dan semakin terperosok ke dalam jurang kenestapaan.[]

Post a Comment for "Wahai Rezim India, Nenek Moyang Kalian Pernah Merasakan Keadilan Islam !"