Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wabah Virus Corona : Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis

Oleh: Rini Syafri (Doktor Biomedik, Pengamat Kebijakan Publik)

Dunia benar-benar dibuat sengsara oleh wabah yang satu ini. Severa Acute Respiratory Syndrome related coronavirus-2 (SARS-CoV-2) yang sebelumnya dinamai virus corona baru, 2019-nCoV.

Demikian pula penyakit sindrom pernafasan akut yang ditimbulkannya, yang dinamai coronavirus diseases (Covid-19). Bagaimana tidak, hingga hari ini sedikitnya 82.000 jiwa terinfeksi dan sedikitnya 2.800 jiwa terbunuh.[1]

Penyebaran virus begitu cepat, dalam waktu sekitar 2 (dua) bulan telah meluas hampir ke 50 negara,[2] tanpa bisa dicegah. Yang juga mencemaskan, riset menunjukkan penularan dapat terjadi pada penderita tanpa gejala klinis (asimtomatik).[3],[4]

Sementara, Indeks Keamanan Kesehatan Global, yang dikeluarkan Oktober tahun lalu oleh Pusat Keamanan dan Kesehatan Johns Hopkins, menilai 195 negara berdasarkan kesiapan menghadapi epidemi atau pandemi.

Secara keseluruhan hasilnya tidak menggembirakan.1 Ini baru dari aspek kesehatan dan keselamatan jiwa publik dunia, termasuk Indonesia tentunya. Belum lagi dampak keamanan[5] dan ekonomi yang dikhawatirkan memperparah resesi dunia.[6]

Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis

Asal muasal virus merupakan aspek terpenting dalam pencegahan dan penanganan wabah. Namun sampai sekarang para ilmuwan (virologi dan epidemiologi) seperti kehilangan landasan. Pasalnya, harapan kelelawar dari pasar hewan liar Wuhan akan memberikan petunjuk sumber wabah pupus.

Seiring penemuan sejumlah pengidap Covid-19, tetapi tidak berhubungan dengan pasar Wuhan.[7] Pun demikian karakteristik genetiknya (sequence genom). Ia benar-benar baru, berbeda dengan strain virus corona lain. Baik SARS-CoV virus corona penyebab SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), MERS-CoV penyebab MERS (Middle East Respiratory Syndrome), dan juga virus corona pada kelelawar dan trenggiling sendiri.[8],[9] Perbedaan itu juga tampak pada kemampuan menular antarmanusia[10] dan karakteristik klinisnya.[11]

Di tengah kebuntuan yang bukan pertama kali terjadi, wacana ideologis yang dianggap tabu dan hoaks menguat. Rusia, pengemban ideologi sosialisme, yang bermusuhan secara ideologi dengan kapitalisme yang dipimpin Amerika Serikat, melalui salah satu jaringan TV nasional utama, Channel One, meluncurkan slot reguler pada program berita malam utamanya, Vremya (“Time”).

Pesan pokok pemberitaan tersebut, Amerika Serikat menjalankan laboratorium di Georgia tempat mereka menguji senjata biologis pada manusia. Perusahaan farmasi Amerika Serikat atau agennya (CIA) terlibat dalam menciptakan dan menyebarkan virus untuk etnis Asia (bioweapon Etnis). Tujuannya, meraup keuntungan dari penjualan vaksin melawan coronavirus dan memukul ekonomi Cina untuk melemahkan pesaing geopolitik.[12],[13]

Namun, pemerintah Amerika serikat membantah dan mengatakan Rusia berada di balik hoaks tersebut. Serta harus bertanggung jawab atas ketidakpercayaan dunia terhadap solusi Barat.

Hanya saja juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova pada 22 Februari 2020 mengecam klaim Amerika Serikat itu dan menyebutnya sebagai “kepalsuan yang disengaja.”[14]

Benarkah pernyataan penjabat Kremlin itu hoaks tidak berdasar yang harus dijauhi? Satu fakta menarik adalah ilmuwan menemukan empat sisipan protein pada SARS-CoV-2, yang tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan manusia.[15]

Penting dicatat, akhir-akhir ini kekhawatiran dunia akan munculnya kuman-kuman baru yang sengaja dibuat untuk berbagai tujuan politik dan ekonomi semakin memuncak. Sampai-sampai dituangkan dalam suatu topik khusus pada Forum Ekonomi Dunia tahun 2019.

Hal ini sangat beralasan, karena kemajuan teknologi terkini khususnya printer tiga dimensi, kecerdasan buatan dan robotika memungkinkan pembuatan senjata biologi secara lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah.[16] Seperti, teknologi editing genom, salah satu perkembangan bioteknologi yang paling menjanjikan abad ini bagi kemudahan proses pembuatan kuman.[17]

Ini pada aspek ketersediaan sains, aspek lain yang lebih mendasar dan potensial terletak pada karakter dasar peradaban Barat itu sendiri. Sekularisme sebagai asas, yang memisahkan agama dari kehidupan, agama dari negara, telah menihilkan aspek ruhiyah (kesadaran hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala) dan menjadikan nilai materi berada di atas segalanya. Gambaran tentang kehidupan adalah manfaat, bahkan ukuran aktivitas dan kebahagiaan tidak lebih dari mereguk sepuasnya kenikmatan jasadiyah/materi. [18] Sehingga, pengemban ideologi sekularisme –demi mewujudkan tujuan politiknya– tidak akan peduli penderitaan dunia.

Ditambah lagi, paradigma batil sekularisme terhadap sains sebagai faktor produksi untuk pertumbuhan ekonomi Knowledge Based Economy (KBE), yang dijadikannya sebagai politik ekonomi seiring agenda pasar bebas. Semua ini benar-benar menjadi ruang subur bagi upaya terkutuk tersebut.

Bagaimana kejahatan senjata kuman menyatu dengan peradaban sekularisme telah menjadi catatan penting dunia. Pada 1972 ketika pelanggaran dunia terhadap konvensi Jenewa 1925 meningkat, 103 negara menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Konvensi Senjata Biologi atau Biological Weapon Convention (BWC).17

Meski setiap tahun, penandatanganan diharuskan untuk menyerahkan informasi tertentu tentang program penelitian biologis setiap negara kepada PBB dan pelanggaran yang dilaporkan.[19]

Namun, keberadaan PBB justru memfasilitasi pelanggaran terutama bagi negara-negara yang memiliki hak veto. Yakni Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Cina, dan Rusia. Sebab, bagi mereka tidak ada ketentuan yang tegas mana penelitian biologis defensif yang diizinkan dan yang tidak dizinkan.

Ditegaskan ahli patologi Dr. Riedel, “Jumlah program yang disponsori negara (yang terlibat dalam penelitian senjata biologi ofensif) telah meningkat secara signifikan selama 30 tahun terakhir.”17

Sehingga tidak heran, makin sering muncul kuman dan penyakit baru (emerging disease) beberapa dekade terakhir. Seperti Human Imunodefisiensi Virus (HIV), Flu Burung H5N1, ebola, termasuk SARS-CoV-2 sendiri.

Bersamaan dengan itu, Big Pharma – MNC (Multi Nasional Corporate bidang farmasi pengendali kebijakan kesehatan dunia) datang sebagai “penyelamat”. Menjajakan obat dan vaksin yang harganya selangit, belum lagi tidak ada jaminan keampuhannya atau justru menjadi silent killer. Saat ini, Johnson and-Johnson yang berkantor pusat di New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat tengah melakukan riset vaksin SARS-CoV-2.[20]

Kebutuhan pada Khilafah

Dunia tidak akan pernah lepas dari penderitaan saat ini selama kemajuan sains berada di tangan negara adidaya pengemban ideologi sekularisme, berikut keberadaan PBB dan MNC. Karenanya, merupakan kebutuhan mendesak bagi Indonesia dan dunia akan kehadiran negara adidaya baru, yang berkarakter pemelihara kehidupan dan pembebas dunia dari kesengsaraan.

Yakni Khilafah, yang berjalan di atas minhaj kenabian. Pewujud peradaban Islam yang dilandaskan pada akidah Islam. Aspek ruhiyah menjadi jiwa peradaban dan sekaligus menjadi gambaran tentang kehidupan. Aktivitas kehidupan berjalan sesuai syariat Allah SWT, dan puncak kebahagiaan adalah meraih rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ini di satu sisi, di sisi lain, kehadiran penguasa sebagai pelaksanaan syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara kafah termasuk paradigma sahih sains dan fungsi negara, benar-benar mewujudkan secara serasi nilai materi, kemanusiaan, moral, dan ruhiyah.

Pada titik inilah kemajuan sains dan teknologi akan mempercepat terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh alam di samping mempermudah semua orang berada dalam ketaatan pada Allah SWT.

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu…” (TQS Al Anfaal: 24) [MNews]

[1] https://hub.jhu.edu/2020/02/27/trump-johns-hopkins-study-pandemic-coronaviruscovid-19-649-emo0-art-dtd-health

[2] https://www.theguardian.com/world/ng-interactive/2020/feb/26/corona-virus-map-haw-covid-19-is-spreading-across-the-world.

[3] http://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2761890. February 20, 2020. Covid-19 in singapure-current experience critical global issues that require attention and action.

[4] https://www.statnews.com/2020/01/24/coronavirus-infections-no-symptoms-lancet-studies.

[5] http://economist.com/china/2020/02/17/ thecoronavirus-spreads-racism-againts-and-among-atnic-chinese.

[6] http://www. theguardian.com/business/nils-pratley-on-finance/2020/feb/27/a-market-in-tumoil-over-fears-of-a-coronavirus-induced-global-recession

[7] https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30185-9/fulltext

[8] https://www.asianscientist.com/2020/02topnews/china-coronavirus-covid-19-study; February 25, 2020. Chinese Scientists Sequence Genome of Covid -19.

[9] https://www.nature.com/articles/d41586-020-00548-w; 26 February 2020; Mystery deepens over animal source of corona virus

[10] https://www.nemj.org/doi/full/10.1056/NEMJc2001272; February 27, 2020. Importation and Human to Human Transmission of a Novel Coronavirus in Vietnam.

[11] https://ama.com.au/article/update-novel-coronavirus-covid-19

[12] https://www.theguardian.com/coronavirus-US-syas-russia-behind-disinformation-campaign; 22 Feb 2020.

[13]https://www-bbc.com/news/amp/world-us-canada;23 February 2020; Coronavirus: Russia denies spreading US conspiracy on social media.

[14] https://www-rferl-org– u-s-officials-link-covid-19-disinformation-campaign-to-russian-proxy; 22 Feb 2020

[15] https://theprepared.com/blog/np-the-2019-ncov-genome-doesnt-actually-seem-engineered-from-hiv

[16] https://www.weforum.org/agenda/2019/03/haw-emerging-technologies-increase-the-traet-from-biological-weapons

[17] https://futureoflife.org/2018/10/12/genome-editing-and-the-future-of -biowarfare-a-coversation-with-dr-piers–millett/?cn-reloaded=1

[18] An Nabhani, T. An Nidzomul Im. 2001. Hal 23-58; 64-69.

[19] https://www. Unog.ch

[20] https://www.jnj.com; Nover Coronavirus, SARS-CoV-2 Johson and Johnson.

Post a Comment for "Wabah Virus Corona : Tinjauan Ilmiah hingga Ideologis"