Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menumbuhkan Empati ditengah Pandemi, Rakyat Jangan dikhianati!

Penulis : Rini Ummu janissa

Pemerintah mengumumkan data terbaru kasus virus Corona (COVID-19). Total kasus positif Corona melonjak jadi 1.155 dengan pasien meninggal dunia 102 orang per 28 Maret 2020.

Informasi tersebut disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang ditayangkan di saluran YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Sabtu, 28 Maret 2020. (detik.com)

Dengan meningkatnya jumlah kasus positif corona, semakin membuat riuh dunia medsos (media social) dengan berita mengenai COVID 19. Atmosfer kepanikan begitu cepat menghantui semua orang, sebagian masyarakat malah mengambil tindakan siaga yang berlebihan. Panic buying yang dilakukan masyarakat misalnya, Semakin menambah persoalan baru ditengah suasana pandemi saat ini. Masyarakat semakin cemas ketika melihat berita kosongnya bahan makanan diberbagai supermarket. Maka dengan cepat mereka melakukan hal serupa dengan kepanikan yang sama.

Masker dan hand sanitizer menjadi barang langka. Harganya kemudian melangit begitu sampai ditangan para oknum. Membuat masyarakat geram. Namun pemerintah tak kunjung tegas. Bahkan untuk sekedar menyediakan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga medis saja pemerintah lambat. Sehingga rakyat mengambil langkah mandiri untuk mengatasinya.

Belum surut kepanikan yang membuat gaduh masyarakat. Baik didunia nyata maupun didunia maya. Muncul kegaduhan baru, yang datang dari pernyataan Juru Bicara Pemerintah Untuk COVID-19 Achmad Yurianto, dalam akun youtube kompas tv, dikantor BNPB ketika menggelar jumpa pers untuk menyampaikan sejumlah informasi terkait penanganan COVID 19, beliau menyampaikan pernyataan yang menganggu hati rakyat. Terkhusus rakyat miskin. beliau mengatakan, “yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”. Pernyataan kontroversial ini jelas bisa memicu kemarahan rakyat. Padahal rakyat Indonesia baik kaya atau miskin bahu-membahu saling membantu dalam berbagai bentuk ditengah ketidakpastian kondisi ekonomi yang kian merosot.

Dalam hal berita, islam mengajarkan keseimbangan dalam menyampaikan pemberitaan. Utamanya terkait kondisi saat ini, ditengah suasana pandemi yang membuat jiwa masyarakat semakin cemas. Selain iman yang harus senantiasa kuat, imun tak kalah penting. Harus kuat. Maka yang harus disampaikan ketengah masyarakat adalah himbauan-himbauan yang menyejukan dan menentramkan. Bukan semakin memperkeruh keadaan.

Namun, seperti itulah tabiat sesungguhnya yang nyata dilahirkan oleh sistem kapitalisme. melahirkan penguasa yang tak berempati terhadap rakyat dan penguasa yang enggan menanggung beban rakyat, sehingga rakyat harus berjibaku mengurusi segala kebutuhan dan keperluannya secara mandiri. Sudah seperti anak ayam kehilangan induknya. Sehingga rakyat tak mampu lagi mempercayai pemerintah.

Maka sebagai seorang yang beriman, kita harus Bahagia dan yakin dengan kabar gembira dari Rasulullah SAW, bahwa akan kembalinya sistem pemerintahan islam, Khilafah Islamiyah yang mengikuti manhaj kenabian setelah kekuasaaan diktator.
ثم تكون خـلافة راشدة على منهاج النبوة، ثم سكت )مسند الإمام أحمد 
Kemudian akan ada khilafah rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam.” (Musnad Imam Ahmad).

Kontributor; WadahAspirasiMuslimah

Post a Comment for "Menumbuhkan Empati ditengah Pandemi, Rakyat Jangan dikhianati!"