Mencari Negarawan Sejati Pada Saat Musibah dan Wabah

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Pemerhati Politik Asal NTT)

Menurut salahsatu ilmuwan Australia, Indonesia akan dilanda 'badai' virus Corona (Jawapos,24/3/2020). Semoga Pemerintah RI bisa lebih waspada dan mau menerapkan kebijakan Lock Down. Sedangkan dalam negeri, ramai-ramai para wakil rakyat akan mengadakan tes kesehatan untuk mengetahui dirinya mengidap penyakit Corona atau tidak.
Seperti diberitakan oleh CNN pada tanggal 23/3/20, 575 anggota DPR akan menjalani tes kesehatan pada hari Kamis (26/3) atau Jum'at (27/3). Positif atau negatif pun hasilnya para anggota dewan yang terhormat akan dilayani dengan perawatan kesehatan.

Wajar saja jika publik melihat wakil rakyat sangat diuntungkan oleh jawabannya. semuanya dibiayai oleh negara. Bukankah para wakil rakyat berkuasa karena dipilih oleh rakyat sehingga mereka berhak menikmati setiap fasilitas yang diberikan oleh negara? Seperti kunjungan ke berbagai daerah dalam dan luar negeri serta fasilitas kesehatan.

Hal berbeda terjadi pada masyarakat biasa. Memang negara berencana mengimpor alkes (alat tes kesehatan) dari China untuk mengetes seseorang mengidap penyakit Corona atau tidak. Namun sayang kabarnya alat kesehatan itu tidak digunakan secara cuma-cuma atau gratis.

Rakyat pun harus bayar. Harga tes kesehatan untuk mengetahui adanya penyakit Corona dalam tubuh yang paling murah adalah Rp.275.000. Harganya berbeda tiap Rumah Sakit bahkan ada yang mematok seharga Rp.679.000. Diduga banyak orang tak akan mampu mengikuti tes tersebut disebabkan mereka berpenghasilan rendah. Padahal mayoritas rakyat di negeri ini membayar pajak.

Masyarakat berharap bisa menikmati fasilitas yang gratis seperti para anggota dewan yang dipilihnya. Mereka pun berharap Indonesia bisa lock down agar tidak menjadi seperti Italia yang merupakan salahsatu negara dengan rate fatality paling tinggi di dunia.

Ada harapan agar setiap warga Indonesia mendapatkan tes kesehatan gratis dari rumah ke rumah tanpa harus dikumpulkan secara massal di suatu tempat. Ada kekhawatiran virus Corona menyebar sangat cepat melalui perantaraan perkumpulan massa. Ada anggapan publik bahwa para pejabat lebih mementingkan kesehatan dan nyawanya daripada rakyat. Mereka merindukan para pemimpin yang lebih pro umat.

Para pemimpin yang peduli terhadap penderitaan rakyat sebenarnya ada dalam sejarah Islam (bukan dongeng atau mitos). Pemimpin ini tidak pernah melakukan pencitraan tetapi selalu dicintai Kaum Muslimin sepanjang zaman. Yang pertama adalah Rasulullah Muhammad SAW, yang menurut Michael H. Hart dalam bukunya "The One hundred - A rangking of the most influential persons in history"
(100 Tokoh Paling berpengaruh di Dunia, dinobatkan sebagai pemimpin paling berpengaruh nomer satu sepanjang masa). Beliau SAW mampu meletakkan peradaban Islam sebagai kekuatan yang berkontribusi terhadap dunia selama 14 abad lamanya hanya dalam kurun waktu 23 tahun. Rasulullah SAW dikenal sebagai Bapak pencegahan penularan penyakit Kusta.

Selanjutnya adalah Khalifah Umar bin Khattab ra, Beliau terkenal seorang pemimpin yang menolak menggunakan fasilitas negara seperti menerima gaji khalifah dan istana meawah sebagai kantornya. Beliau memilih tinggal di rumah sederhananya, tidur di atas pelepah kurma dan wajib blusukan setiap malam melihat kondisi masyarakat.

Pada saat wabah kelaparan melanda negaranya, Khalifah menolak makan makanan yang mewah. Beliau hanya makan roti kering yang dioleskan madu. Beliau mencari solusi agar masyarakatnya di Hijaz tidak kelaparan. Beliau memerintahkan gubernurnya di Mesir, Amr bin Ash ra untuk mengirimkan sejumlah unta yang panjang barisannya dari Mesir hingga kota Madinah (Shaikh Taqiyuddin An Nabhani, Ajhizah Daulah Islamiyah).

Khalifah Umar memerintah dengan sistem Islam sehingga masyarakatnya bertakwa. Pernah ada seorang anak yang menolak menjual domba tanpa sepemilik tuannya dan seorang gadis yang menolak mencampur susu murni dengan air. Khalifah Umar bin Abdul Aziz melanjutkan sistem kepemimpinan Rasulullah SAW. Pada masanya tak ditemukan orang miskin di Afrika.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak pernah korupsi. Beliau menggunakan dua jenis minyak untuk lampu di rumahnya. Jika tamu datang untuk urusan negara maka lampu negara yang dipakai. Jika tamu datang untuk urusan pribadi, lampu pribadi dipakai dan lampu negara dipadamkan. Beliau tidak seperti kebanyakan pejabat pada zaman sekarang yang memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Selain itu, Kekhilafahan Ustmani berhasil menyelamatkan negerinya dan Inggris yang terjangkit virus smallpox dengan vaksin khusus ini terjadi jauh sebelum Khilafah runtuh pada tahun 1924 dan Vaksin dikembangkan pada tahun 1960 oleh ilmuwan Barat bernama Jenner. Khilafah Ustmani dalam percaturan politik Internasional tidak pernah memonopoli perdagangan dan pernah menyumbang makanan ke Eropa pada saat musim kelaparan melanda benua tersebut.

Rakyat di Indonesia rindu para pemimpin Islam yang adil. Para pemimpin yang  empati terhadap penderitaan rakyat, tidak banyak pencitraan, mandiri, dan banyak melayani kepentingan masyarakat. Para pemimpin itu hanya bisa diwujudkan ketika Indonesia berada dalam Sistem Islam bukan sistem demokrasi yang lebih mementingkan materi.[]

Bumi Allah SWT, 25 Maret 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Ravid test Covid-19

Post a Comment

  1. Benar, kita sangat merindukan pemimpin yang amanah seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semoga Allah SWT merezekikan kita pemimpin yang amanah seperti beliau, Amin

    ReplyDelete

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.