Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KUII: Jangan Salah Diagnosa Common Enemy


Oleh: Sherly Agustina M.Ag
(Member Revowriter Cilegon)

Dilansir oleh Republika.co.id, Ketua Pengarah Kongres Umat Islam Indonesia VII 2020 Anwar Abbas mengatakan, Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) 2020 akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kegiatan akbar umat Islam ini akan digelar di Pangkal Pinang, Bangka Belitung pada 26-29 Februari 2020 mendatang. Sementara itu, pada penutupan acara kongres rencananya akan mengundang Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin yang juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) non aktif. (17/01/20)

KUII Mencari Solusi

Sekjen MUI Pusat, Buya Anwar menjelaskan, kongres umat Islam tahun ini menangkat tema “Strategi perjuangan umat Islam Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang maju, adil dan beradab.” Tema tersebut akan dibahas oleh 700 sampai 900 peserta perwakilan MUI, pesantren, ormas, PT Islam dan cendekiawan Muslim.

Topik-topik yang akan dibahas menyangkut masalah politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan kebudayaan, kehidupan keagamaan, media, filantropi, dan isu-isu keislaman terkini. Pembicaranya nanti dari unsur pemerintah, dunia usaha, seluruh ketua umum partai-partai yang wakil-wakilnya ada di DPR RI, tokoh-tokoh ormas, cendekiawan, dan lain-lain.

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman sebagai tuan rumah KUII sebelumnya telah berkomitmen untuk mempersiapkan acara kongres umat Islam tersebut dengan sebaik-baiknya. Menurut dia, dalam kegiatan KUII tersebut nantinya juga akan dimeriahkan dengan acara seminar dan pameran terkait dengan halal dan pendidikan keagamaan di Indonesia. (17/01/20)

Diagnosa Penyakit Kronis di tubuh Umat

Persiapan acara KUII patut diapresiasi, pasalnya melalui acara ini para tokoh reprensentasi umat dipercaya untuk memberikan solusi atas semua permasalahan di negeri ini. Di bidang ekonomi, utang pemerintah dan BUMN yang mencapai angka fantastis, Rp10.600 triliun data per 2019. (Muslimahnews, 21/02/20).

Kemiskinan di negeri ini sangat fantastis, Bank Dunia merilis laporan bertajuk “Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class” (30/1). Dalam riset itu, 115 juta masyarakat Indonesia dinilai rentan miskin. (Katadata.co.id, 02/02/20).

Selain itu, efek dari kebijakan Omnibus Law memicu konflik para buruh di negeri ini dan dampak PHK. Barang-barang impor, misal bawang putih dengan harga yang melejit setelah cabe merah. Di bidang pendidikan, polemik ribuan honorer terancam menjadi pengangguran. Sekolah dan kampus tersandera liberalisasi, yakni output pendidikan difokuskan menjadi mesin di dunia pabrik industri.

Korupsi akut yang belum terurai, entah kapan bisa selesai. Sementara hukum yang ada tumpul ke atas , tajam ke bawah. Dalam pergaulan remaja, pacaran, free sex dan aborsi hal biasa. Bahkan incest (hubungan intim sedarah) marak terjadi. Fenomena gunung es bullying, banyak yang menjadi korban. Praktik klenik musyrik pun menjadi hal biasa, etika dan adab di kalangan generasi muda kepada guru seolah hilang. Ditambah kasus L96T yang makin liar begitu sulit terkendali.

Umat mengalami sakit yang amat kronis, apa penyebab semua ini? Sejak Islam tak lagi memimpin dunia tepatnya pada tahun 1924, umat Islam bagai anak yang kehilangan induknya. Tak tentu arah, bingung harus ke mana dan bagaimana. Sejak saat itu kapitalisme dan sekulerisme yang mengambil alih, memimpin dunia dan mencengkeram negeri-negeri kaum muslim.

Benar firmanNya:
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku…” Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

…Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Yakni kehidupan yang sempit di dunia.
Umat sudah terlalu jauh dari aturan Allah Swt, ini lah penyebab sakitnya umat yang kronis. Menerapkan aturan selain aturan dari Allah Swt sebagai pencipta adalah biang masalah yang menimpa umat Islam. Yaitu diterapkannya kapitalisme-sekulerisme beserta turunannya, liberalisme, pluralisme, moderasi Islam termasuk tafsir moderat (tafsir Maqhasidi). Inilah common enemy umat saat ini.

Sekulerisme adalah memisahkan agama dari kehidupan dan negara, lahir di masa Renaisance. Abad kebangkitan Eropa setelah melewati The Dark of Age. Kompromi antara para gerejawan dengan kaum intelektual. Pada waktu itu, terjadi kedzaliman ketika para gerejawan memimpin negara atas nama agama. Salah satu korban kebijakan yang dzalim tersebut adalah apa yang terjadi pada ilmuwan Galileo Galilei.

Hal ini memicu protes kalangan intelektual terhadap penguasa dari kaum gerejawan. Hasil dari kompromi ini adalah, bahwa para gerejawan tidak lagi mengurus negara, agama hanya di ranah privat (gereja) saja. Maka lahir Revolusi Industri dan Prancis yang dikenal dengan Renaisance. (Syeikh Taqiyuddin An Nabhani, An Nidzam Al Islam).

Pada saat itu, Daulah Islam di Turki masih ada, sayangnya dalam kondisi neraca tak berimbang karena silau melihat kebangkitan Eropa. Sementara di dalam negeri Daulah Islam mulai masuk banyak virus, pemahaman Islam mulai melemah. Hingga akhirnya terjadi pembunuhan terhadap Daulah dengan sangat licik dan keji oleh kaki tangan penjajah, Mustafa Kemal Attaturk laknatullah ‘alaik. (Syeikh Taqiyuddin An Nabhani, Daulah Islam).

Maka dalam pertemuan KUII, harus membahas akar masalah atau common enemy yang menimpa umat saat ini hingga tuntas. Bukan agama biang semua ini, justru agama ada sebagai petunjuk dari Allah Swt agar umat selamat di dunia dan akhirat. Sabda Baginda Nabi Saw:

Dalam kitab al Muwaththa juz II halaman 899, hadits nomor 1594, cetakan Daar Ihyaa al Turaats al ‘Arabi:

وحدثني عن مالك انه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه

Dan (Yahya al Laytsi) menceritakan aku dari Maalik, bahwasanya sampai kepadanya sesungguhnya Rasulullah-shallallaahu ‘alaihi wasallam – bersabda: ” Sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kamu dua perkara yang jika kamu berpegang teguh dengan keduanya kamu sekalian tidak akan sesat (yaitu) Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya”.

Islam Obat Dan Solusi

Virus yang sangat mematikan ini bernama sekulerisme beserta turunannya. Maka obat dan solusi tak ada pilihan lain selain kembali pada aturanNya. Aturan Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya, dzat yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Islam sebagai politik memiliki konsep yang jelas, karena permasalahan umat adalah permasalahan politis maka solusinya harus bersifat politis yaitu institusi politik yang memiliki aturan paripurna dan mampu menyelesaikan semua permasalahan. Rasulullah Saw sudah mencontohkannya di dalam sejarah Islam yang fenomenal.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah“. (QS. Al Hasyr 7).

Begitu juga firman Allah SWT:
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu“. (QS. Al Maidah 49)

Institusi politik tersebut adalah khilafah, dan ini janji Allah Swt:
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. An Nuur: 55)

Serta bisyarah Baginda Nabi Saw:
…kemudian akan ada khilafah di atas manhaj kenabian…” (HR. Ahmad).

Jadi jelas common enemy umat adalah sekulerisme, solusi dan obatnya

adalah kembali pada aturan Allah Swt yaitu Khilafah. Sejarah membuktikan bahwa khilafah pernah menguasai 2/3 dunia dengan dakwah dan jihad bukan penjajahan, karena Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam.

Allahu A’lam bi Ash Shawab.

Sumber : muslimahtimes

Post a Comment for "KUII: Jangan Salah Diagnosa Common Enemy"