KHILAFAH TEGAK ATAS DASAR KERIDLOAN DAN PILIHAN UMAT, BUKAN DENGAN PAKSAAN


Oleh : Nasrudin Joha

"Bila memaksakan dengan sistem khilafah, maka yang terjadi adalah keos (chaos),"[Zainut Tauhid, 2/3/2020]

Wamenag Zainut Tauhid, dalam Seminar Nasional yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Senin (2/3) sore, mengungkapkan Pergerakan golongan berpaham Islam radikal yang ingin mengganti sistem demokrasi Indonesia dengan khilafah tak sesuai dengan kondisi pluraritas bangsa Indonesia dan berpotensi menimbulkan chaos. 

Menurutnya, negara yang bernuansa Islam tak ada yang menggunakan sistem khilafah seperti yang diusung oleh Hizbut Tahrir. Disebutnya Arab Saudi dan Malaysia berbentuk kerajaan, Mesir dan Pakistan berbentuk republik sebagaimana Indonesia dengan demokrasi Pancasilanya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Karena itu isu khilafah menurutnya hanya akan menghasilkan Indonesia bernasib seperti Syria, atau Afganistan yang cuma terdiri dari beberapa etnis namun harus perang tak berkesudahan.

Rupanya wamenag ini Tuna Syariat sekaligus Tuna Sejarah. Secara Syar'i, khilafah itu kewajiban kaum muslimin. Bagaimana mungkin Allah SWT mewajibkan sesuatu jika itu tidak untuk kemaslahatan kaum muslimin ?

Semua ulama Shalih, ulama Mahzab, baik Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Hambali, dan Imam Hanafi sepakat (Ijma') tentang wajib hukumnya menegakan khilafah. Bahkan, Imam Al Mawardi yang bermahzab Syafi'i, secara khusus menulis kitab Al Ahkam as Sulthoniyah.

Didalam kitab tersebut, secara detail Imam Al Mawardi as Syafi'i, menukil berbagai dalil tentang wajibnya Imamah atau Khilafah. Beliau, al Mawardi Rahimahullah bermahzab Syafi'i, seharusnya Wamenag yang mengklaim bermahzab Syafi'i mengikuti jejak Imam Al Mawardi, bukan malah menentang Khilafah.

Dalam sejarah, khilafah juga terbukti eksis dan memakmurkan peradaban manusia. Tidak kurang 13 Abad, khilafah hadir dalam pentas sejarah.

Adalah suatu kepandiran dan kecerobohan akut, jika khilafah digambarkan seperti Syiria, Irak, Afghanistan, dll. Negara yang disebutkan ini, berbentuk republik. Kepala negaranya adalah presiden, bukan Khalifah. 

Kerusakan dan bencana di Syria, Irak, Afghanistan, dan diberbagai belahan negeri kaum muslimin lainnya, itu disebabkan kezaliman penguasa. Penguasa diktator dan zalim yang anti kritik, tak mau mendengarkan jeritan penderitaan rakyatnya.

Di Syiria (Suriah) rezim Syiah Bashar al-Assad lah yang telah membantai rakyatnya sendiri, bukan Khalifah. Di Suriah tidak pernah ada kekuasaan Islam, yang ada kekuasaan Syi'ah Rafidhoh yang membantai mayoritas rakyat yang Sunni.

Apa yang terjadi di Suriah, Irak, Afghanistan dan negeri muslim lainnya, juga bukan semata kezaliman penguasanya, tetapi juga adanya campur tangan kafir penjajah, baik Amerika, Rusia, Perancis, Inggris juga China. Tidak ada satupun ulah atau campur tangan khilafah, karena Khilafah memang belum berdiri.

Adapun menuding khilafah dipaksakan, akan ada chaos ketika khilafah tegak berdiri, ini merupakan fitnah yang sangat keji. Khilafah itu berdiri seiring dibaiatnya seorang lelaki, muslim, baligh, berakal, merdeka, adil, dan memiliki kemampuan untuk menjalankan hukum Allah SWT. 

Seseorang tidak dibaiat kecuali atas akad yang Ridlo dan atas dasar pilihan. Khalifah dibaiat menandakan berdirinya khilafah, dan khilafah berdiri hanya ada atas keinginan, keridloan dan pilihan umat. Bukan paksaan.

Bahkan, khilafah yang dipaksakan, khilafah tanpa keridloan umat, seperti khilafah yang diklaim ISIS adalah khilafah bathil. ISIS sendiri tidak menyebut dirinya sebagai khilafah, tetapi hanya negara Islam di Syam dan Suriah.

Karena itu, tidak ada satupun dalil khilafah didirikan berdasarkan paksaan. Khilafah berdiri, persis seperti berdirinya Daulah Islam di Madinah.

Saat itu, Rasulullah SAW dibaiat oleh penduduk Madinah dengan keridloan dan atas dasar pilihan kesadaran. Tidak ada chaos, saat Rasulullah mendirikan Daulah Islam di Madinah.

Justru, Rasulullah Saw mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin. Rasulullah juga menjaga hak warga negara non muslim, baik Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrikin penyembah berhala, dengan membuat Piagam Madinah, Konstitusi Negara Islam yang pertama kalinya di dunia. 

Jadi aneh, jika ada tudingan khilafah didirikan dengan paksaan. Selama ini, umat Islam hanya menyeru, hanya berdakwah, murni pemikiran dan politik, tanpa pemaksaan dan tanpa kekerasan.

Lantas, dimana letak pemaksaannya ? Justru rezim Jokowi yang 'memaksa' membubarkan ormas HTI yang konsisten mendakwahkan khilafah. 

Lagi pula, yang bikin chaos, yang membahayakan negeri ini bukan khilafah, tetapi sekulerime demokrasi. Yang membahayakan itu jika Jokowi terus dipertahankan. Bukan khilafah.

Meminjam pernyataan JK, biasa ANCUR republik ini kalau Jokowi memimpin. Faktanya, Jokowi telah memimpin, itu artinya, bisa ANCUR negeri ini jika terus mempertahankan Jokowi. [].
Label: ,

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.