KHILAFAH MENGHAPUS SEKAT NASIONALISME DIANTARA NEGERI-NEGERI MUSLIM


Oleh : Siti Rima Sarinah

Pada tanggal 12-14 Maret 2020 Walikota Bogor, Bima Arya direncanakan melakukan kunjungan dan penjajakan kerjasama dengan ASAN Xidmat (Mal Pelayanan Publik di Azerbaijan) di Baku, Azerbaijan. Dalam kunjungan ini menurut Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Satu Pintu (DPMPSP) Kota Bogor Firdaus, terkait  memperoleh referensi untuk   mendorong pelayanan publik terbaik bagi warga. Karena ASAN Xidmat adalah satu referensi yang terbaik dalam melihat penyelenggaraan pelayanan publik. Kedatangan di Azerbaijan juga dimanfaatkan untuk bertemu dengan Walikota Lankaran terkait kerjasama sister city dua kota, Kota Bogor dengan Kota Lankaran yang meliputi kerjasama perdagangan, pariwisata dan peningkatan pelayanan publik yang  diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia KBRI di baku, Azerbaijan.
 .
Sebelum lawatan ke Azerbaijan, Walikota Bogor terlebih dahulu memenuhi undangan PPI Istanbul Turki,  yang memintanya berbagi inspirasi dan motivasi.Kedatangan di Turki pun dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan Konjen RI di Istanbul, Imam Asari. Dalam pertemuan  tersebut diagendakan untuk mencari akses dan kesempatan untuk memperoleh dana hibah bagi pengembangan dunia pendidikan atau pembangunan di Kota Bogor, juga akses dengan pengusaha-pengusaha Turki untuk menawarkan kesempatan investasi di Kota Bogor.
https://www.radarbogor.id/2020/03/11/bima-arya-lakukan-kunjungan-ke-azerbaijan-dan-turki-untuk-buka-kesempatan-investasi-dan-bantuan-di-kota-bogor/
 .
Tujuan dari kunjungan yang dilakukan oleh Walikota Bogor ke Azerbaijan dan Turki untuk study banding sekaligus menawarkan investasi di Kota Bogor dalam berbagai bidang. Ada yang menarik dari kunjungan serta penawaran kerjasama ini, yaitu kerjasama kepada negeri yang notabene juga merupakan negeri muslim Azerbaijan dan Turki, yang biasanya kerjasama dilakukan kepada negara-negara barat.  Azerbaijan adalah negara yang terletak dipersimpangan Asia dan Eropa, dimana 93% dari 10 juta warganya adalah muslim, sedangkan Turki adalah negara Eurasia, yang berada antara Asia dan Eropa. Yang sebagian besar penduduknya menganut agama Islam dengan persentase sebesar 99,8%.
 .
Turki menyimpan banyak kenangan khususnya umat Islam, karena merupakan Kekhalifahan Islam terakhir yang dihancurkan secara sismatis oleh negara-negara Barat dan dihapuskan dalam tata dunia pada 3 Maret 1924, yang sebelumnya mampu menguasai  2/3 dunia dan Berjaya selama 13 abad atau 1300 tahun. Sejak keruntuhan khilafah yang mengakibatkan tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara termasuk di dalamnya Turki dan Azerbaijan.
 .
Turki dan Azerbaijan sejatinya adalah negeri-negeri muslim, yang seharusnya menjadi satu negara dengan Indonesia yang juga merupakan negeri muslim. Namun sayangnya, sejak keruntuhan Khilafah yang mengakibatkan terpecahnya negeri-negeri muslim yang bermula dari merasuknya paham nasionalisme, sehingga membuat diantara negeri- negeri muslim seperti negara asing bagi Indonesia. Karena paham nasionalisme inilah negeri-negeri muslim yang pernah menjadi bagian dari Kekhilafahan kini bebas mengatur diri sendiri dengan aturan yang dibuat sendiri, lalu mengadopsi kesepakatan-kesepakatan internasional termasuk yang paling dasar adalah nasionalisme yang diawasi dan diatur dengan perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Hal ini yang membuat negara-negara barat dengan mudah menguasai dan menjajah negeri-negeri muslim yang telah mereka rubah menjadi nation state dengan berbagai macam dalih, salah satunya adalah penawaran investasi yang sebenarnya hanya menguntungkan negara-negara investor.
 .
Padahal sesungguhnya investasi dari negara lain berpotensi mengakibatkan hilangnya kedaulatan negara dan menjadikan ketergantungan kepada negara lain. Adanya sekat nasionalisme pada hakikatnya menjadi alat penjajahan para kapitalis yang memanfaatkan kepentingan tiap bangsa dengan memecah belah dunia menjadi negara-negara parsial kemudian menyerang tanpa senjata hingga tiap bangsa mengikuti kemauan dari pemilik mod

al. Sehingga mereka dengan leluasa mengeruk sumber daya alam  dan negara  tunduk dengan  berbagai kebijakan yang dibuat oleh negara pemberi investasi, sebagaimana kondisi negeri-negeri muslim saat ini.
 .
Sekat nasionalisme ini harus dihapuskan di antara negeri-negeri muslim, karena mengakibatkan terputusnya persaudaraan yang berdasarkan akidah Islam dan menggantinya dengan ikatan wilayah semata. Sehingga muslim satu wilayah dengan wilayah lainnya saling bermusuhan itu dianggap lumroh. Penderitaan saudara-saudara kita di negeri lain tidak boleh menjadi urusan kita. Nasionalisme juga memangkas dan mengkerdilkan Islam hanya semata berada pada garis batas negara.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan kepada umat Islam untuk bersatu, maka hilangkanlah sekat-sekat nasionalisme yang terbukti hanya menjadi alat mutilasi yang membunuh Islam. Mencegah umat Islam bersatu,membiarkan saudara-saudara muslim kita di Suriah, Palestina, Rohingya, Uighur hingga Afrika dianiaya dan di bantai tanpa ampun. Atas nama nasionalisme, nyawa jutaan umat Islam menjadi tidak berharga. Padahal Islam menjaga nyawa manusia apalagi muslim dengan sebenar-benarnya penjagaan. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya:”Sungguh lenyapnya dunia masih lebih ringan disisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim.”(HR. At Tirmidzi, An Nasaai, dan Ibnu Majah).
 .
Islam memiliki konsep alternatif untuk menggantikan secara keseluruhan konsep nasionalisme yang saat ini diagung-agungkan, dan untuk mengeluarkan umat manusia dari cengkeraman kapitalisme dengan melakukan upaya sebagai berikut :
 .
Pertama,  mengokohkan aqidah/iman umat Islam hingga mereka tidak terpengaruh oleh paham-paham liberal (paham kebebasan, permissive, serba membolehkan) yang merupakan anak kandung dari ideologi kapitalisme. Keimanan yang kokoh itu juga dipahamkan bahwa Islam bukan hanya sebagai agama ritual semata, melainkan Islam adalah agama yang bersifat universal dengan kelengkapan aturan yang mampu mengatur seluruh kehidupan. Dengan demikian umat Islam akan paham tidak seharusnya negara dipisahkan dari agama, selanjutkan Islam menjadi dasar negara tersebut. Selain itu, mengajak umat Islam untuk melanjutkan kehidupan Islam, Maka umat Islam juga memahamkan kepada umat yang lain bahwa negara Islam (Khilafah) juga mampu mengatur urusan mereka serta menjamin kebebasan keyakinan masyarakat.
 .
Kedua, menyatukan kaum muslimin dalam sebuah negara yang diatur oleh aturan Islam. Persatuan umat manusia bisa tercipta apabila umat telah paham akan penghalang mereka untuk bersatu, yakni sekat-sekat kebangsaan yang muncul dari nasionalisme. Oleh karena itu, pemahaman bahwa nasionalisme adalah ikatan yang rendah harus bisa dicerna dengan baik oleh masyarakat. Penyeruan persatuan umat ini hendaknya setiap negeri tidak membiarkan sejengkalpun wilayah yang sudah bersatu, lepas karena pihak asing seperti yang terjadi pada Timor Timur.
 .
Ketiga, Upaya menyambut janji Allah berkaitan dengan kembalinya Khilafah Islamiyyah,yang termaktub dalam HR Ahmad tentang akan kembalinya masa kekhilafahan kedua yang mengikuti manhaj kenabian yang harus diyakini dan diupayakan untuk mewujudkannya.
.
Walhasil Nasionalisme bukanlah alat pemersatu umat, melainkan alat untuk memecah belah umat manusia khususnya Umat Islam dipenjuru dunia. Allah telah memerintahkan kepada kita untuk tidak bercerai berai dan tetap kukuh dalam memegang aturan-Nya dalam QS Ali Imron :103. Sudah saatnya kita menggunakan ikatan yang kuat dan benar, yaitu ikatan ideologi Islam, yang melahirkan aturan-aturan untuk mensejahterakan manusia dan adil. Ketika hukum Allah ditegakkan maka Allah berjanji akan memuliakan manusia dengan rizkinya. Wallahu A’lam

Kontributor : WadahAspirasiMuslimah
Label:

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.