Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar Dari Syariah Untuk Atasi Corona

Oleh : Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Pemerhati Politik Asal NTT)

Virus Corona atau Covid 19 awalnya berasal dari China pada bulan November dan memerlukan waktu 5 bulan untuk mencapai sebagian besar wilayah dunia. Covid 19 adalah adzab bagi China yang menzhalimi Muslim Uighur. Itu faktor khususnya. Faktor umumnya karena China menggunakan ideologi Komunis.

Ideologi ini membenci agama dan ajaran-ajarannya sehingga kebersihan dan makanan halal dan haram pun ditinggalkan. Seandainya China memilih Sistem Islam pada awalnya tentu tidak akan terjadi yang namanya pandemi global Covid 19.

Sistem Islam merupakan solusi bagi manusia dan alam semesta. Tulisan ini akan merunut kembali segala faktor penyebab , penyebar, pencegah dan pengobatan virus menular Covid 19.

Awalnya diduga Covid 19  berasal dari perilaku China Komunis yang memakan hewan yang diharamkan seperti kelelawar, kodok, tikus dan ular. Dalam sistem Islam, manusia diminta untuk memakan yang halal dan thoyyib seperti  sapi, unta, ayam, sayur-sayuran dan buah-buahan sebagai alternatif pengganti makanan yang haram. Cara mendapatkan makanan dalam Islam juga harus dengan cara yang halal misalnya dibeli menggukan uang sendiri atau tidak dengan cara dicuri.

Ada dugaan pula ini merupakan senjata kimia atau biologis yang sedang digodok pemerintah China. Jika ini benar, menurut ajaran Islam perbuatan ini haram karena akan mencelakakan umat manusia. Dilarang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Walaupun alasannya untuk pertahanan militer atau untuk kepentingan perang tetap tidak bisa dibenarkan. Dalam Islam aturan perang sangat bermartabat dan manusiawi. Islam melarang ketika perang, tentara merusak lingkungan, rumah ibadah, fasilitas umum, membunuh orang tua, wanita, anak-anak dan rohaniawan. Penggunaan  senjata biologis virus Corona yang disebarkan bisa mencelakakan semua manusia tanpa pandang bulu.

Semula Virus ini hanya ada di China tetapi menyebar ke negara tetangganya seperti Korea Utara, Hongkong, Singapura, Vietnam san sekarang telah menjalar ke 114 negara dan menginfeksi 180.000 manusia. Jika menggunakan sistem Islam harusnya China sudah dilock down sejak November 2019.

Lock down China bermakna tidak ada pergerakan orang dari dan keluar China. Negara selain China harusnya menahan diri tidak dulu menjemput Warga Negara nya dari China. Mereka juga tidak boleh memasukkan WNA China ke negeri nya masing-masing meski untuk urusan ekonomi dan pariwisata.

Kebijakan Lock Down atau Social Distancing ini pelopornya adalah Nabi Muhammad SAW untuk kasus Kusta dan Khalifah Umar bin Khattab ra dibantu Gubernur Amr bin Ash ra untuk kasus Tha'un. Warga China harusnya melock down diri mereka ke dalam rumah atau berpencar ke bukit-bukit atau gunung-gunung. Langkah ini meniru pencegahan virus menular yang pernah sukses pada masa keemasan Islam.

Namun karena minimnya pemahaman masyarakat dan kepentingan politis sebagian pemimpin negara yang tunduk kepada kepentingan China mengakibatkan Lock Down terkesan terlambat dilakukan. Bahkan ada pemimpin negara yang membiarkan ribuan tenaga kerja asing China ke dalam negerinya. Seperti masuknya 49 WNA China ke Indonesia (sultra.inikata.com, 16/3/20).

Kini kasus warga negara yang positif Corona semakin bertambah cepat dan banyak. Ada kebingungan dan ketidakkompakan antara pemerintah pusat dan daerah tentang cara mengatasi Corona. Kurangnya edukasi cara Islam mengatasi Corona kepada masyarakat mengakibatkan masih banyak masyarakat yang salahpaham tentang penyebaran virus corona.

Kebijakan lock down 14 hari oleh kementerian pendidikan dimaknai sebagian besar masyarakat sebagai ajang jalan-jalan ke tempat hiburan. Seperti kasus 306 murid dan guru asal Madiun yang demam ketika pulang berlibur dari Bali (Jatim.idntimes.com, 17/3/2020). Kasus 109 anggota JT di Malaysia yang positif Corona Virus di acara Tabligh Akbar (MoslemToday.com,16/3/20).

Semakin ramai suatu massa itulah sebagai media yang paling cepat penularan virus coronanya. Padahal Islam telah menyediakan solusinya agar social distancing benar-benar dilakukan agar virus Covid 19 ini kesulitan menemukan media untuk menular dan akhirnya mati.

Anjuran untuk mencuci tangan menggunakan hand sanitizer, sabun, dan lain-lain sebenarnya telah dianjurkan oleh Islam sejak 14 abad yang lalu. Perlawanan terhadap virus telah berjalan selama berabad-abad namun China dan Negara-negara di dunia masih banyak yang memilih solusi kapitalis. Ketika masih ada pemimpin yang berfikir untung rugi daripada menyelamatkan nyawa rakyatnya.

Andai para pemimpin mau menerapkan syariah Islam secara kaffah (totalitas) di bidang kebersihan, kesehatan, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan tentunya tidak akan ada masalah yang berlaku global seperti Corona, Korupsi, Kemiskinan, Penjarahan Sumber Daya Alam, dan lain-lain. Masyarakat pun tidak perlu panik dan takut menjadi korbannya[]

Bumi Allah SWT, 19 Maret 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Belajar Dari Syariah Untuk Atasi Corona "