Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Atas Nama Seni, Hukum Allah Dilanggar


Oleh: Juanmartin 

Totalitas dan profesional. Demikian dalih sebagian besar pekerja seni saat apa yang mereka sebut sebagai karya menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat. Bukannya risih, mereka justru bangga. Seperti buntu memahami esensi seni, perkara syahwat pun justru dianggap seni. 

Minus kreativitas dan sulit dipahami cita rasa seninya saat mengumbar aurat diklaim sebagai karya. Profesionalisme seperti apa yang dimaksud saat seni melanggar hukum Allah? Jika profesional dianggap sebagai bentuk totalitas atas profesi, selayaknya manusia wajib menyadari bahwa sebagai hamba, sebagai makhluk ciptaan Al-Khalik, manusia wajib totalitas terikat hukum Sang Khalik.

Akar masalah dari semrawutnya dunia seni hari ini adalah sekularisme. Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah menggerogoti pemikiran masyarakat dunia saat ini. Sekularismelah yang menjadi ruh mereka dalam menjalani kehidupan ini. Slogan Hak Asasi Manusia yang lahir dari rahim sekularisme terus digembar-gemborkan barat dan dijajakan ke negeri-negeri Muslim.

Praktis, sekularisme telah mengikis aturan-aturan Allah termasuk dalam perkara seni. Hak Asasi Manusia yang memberi justifikasi penuh kepada manusia untuk berbuat sesuka hati telah menjadi klaim untuk membenarkan perbuatan mereka yang salah. HAM telah menjadikan seni sebagai sesuatu yang bebas nilai. HAM telah meniadakan batasan antara seni dan syahwat.

Di mana seninya saat "karya" tak ada bedanya dengan pornografi? Di mana seninya saat tanpa rasa malu mengumbar aurat? Apa penduduk dunia sudah kehilangan nalar untuk membedakan mana ekspresi seni yang sebenarnya, dan mana pengumbar syahwat tanpa rasa malu? 

Benarlah sabda Rasulullah ﷺ, "Jika kau tak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu"(HR. Bukhari). 

Anehnya, sejumlah politisi bukannya prihatin, mereka justru turut memberi dukungan pada pornografi yang mengatasnamakan seni ini. Ini adalah sebentuk kemerosotan berpikir umat manusia. 

Sesat pikir ala liberal telah membuat mereka gagu untuk memanusiakan manusia dan menyuarakan larangan Allah. Salah seorang pejabat negeri ini bahkan pernah mengatakan pornografi merupakan hal yang biasa untuk dikonsumsi manusia dewasa. 

Kebebasan berperilaku pada akhirnya tak memiliki batasan bahkan saat aturan-aturan Allah dilanggar. 

Parahnya, kebuntuan berpikir pekerja seni untuk menghasilkan karya seni yang harusnya mengusung keindahan yang telah Allah ciptakan, mengekspresikan kekaguman terhadap ciptaan Allah, justru berlindung di balik slogan liberal yang sering didengungkan kaum feminis seperti "my body my choice," my body is mine" yang jelas bersumber dari pola berpikir sekuler dan mendudukkan manusia sebagai makhluk sekaligus pembuat aturan.

Jika seni seperti ini yang dimaksud, sejatinya ini bukan sebentuk cara untuk mengekspresikan keindahan. Ini hanyalah ekspresi kebebasan dari orang-orang yang telah hilang rasa malunya dalam mengumbar hawa nafsu. Hidupnya diisi dengan hiburan dan kesenangan, mencampur adukkan antara yang disyariatkan dan yang dilarang, antara yang halal dan yang haram. Sikap permisif dan hedonis yang mereka lakoni telah menjadikan seni sebagai dalih. 

Dengan segala kemerosotan moral dan akhlak generasi, pemerkosaan dan tindak kriminal yang disebabkan karena hawa nafsu manusia selayaknya negara ini hadir untuk memadamkan segala bentuk stimulus atas naluri, meski itu mengatasnamakan seni.

Islam sendiri memiliki pandangan yang khas tentang seni. Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah itu indah dan Mencintai keindahan" (HR. Muslim). 

Dalam rentang sejarah peradaban Islam, di masa Kekhilafahan Islam, seni berkembang tanpa menabrak hukum-hukum Allah.

Pemahaman mereka bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang menyamai ketinggian Islam telah menjadi ruh atas karya mereka yang menampakkan kekokohan Islam. Lihatlah bukti empiris peninggalan islam. Masjid dengan kubahnya yang megah, lukisan indah berteknologi tinggi yang masih bisa disaksikan di museum-museum dunia, ornamen-ornamen gedung yang penuh dengan cita rasa seni yang tinggi, ukiran-ukiran detil yang menghiasi permadani, kaligrafi dengan algoritma yang rumit telah meninggikan derajat manusia sebagai makhluk berakal, bukan pembebek hawa nafsu atas nama seni. 

Bukti empiris peninggalan Islam hanyalah segelintir bukti di antara sekian banyak jejak ketinggian seni kaum muslimin yang merupakan ekspresi totalitas seorang hamba yang mengagumi ciptaan Allah, sang Maha Pencipta. Wallahu a'lam bish-shawwab

Post a Comment for "Atas Nama Seni, Hukum Allah Dilanggar"