Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

INDUSTRI PSK, Pekerja Survei Komersial


Penulis : Tarmidzi Yusuf | Pengamat Politik Islam dan Pegiat Dakwah

PSK makin dapat tempat di negeri ini. Konon menurut sebagian orang susah dihilangkan. Malah sekarang makin berkembang. Istilah kerennya, diversifikasi usaha. Ih ngeri banget.... 

Melacurkan diri. PSK tidak hanya monopoli Pekerja Seks Komersial. Kini berkembang lebih dahsyat lagi. Selain Pekerja Seks Komersial bisa juga Pekerja Survei Komersial alias PSK juga. 

PSK yang pertama melacurkan diri sedangkan PSK yang satu lagi melacurkan ilmu. Industri baru yang menggiurkan.

PSK nama halus dari pelacur. Contentnya pelacur juga. Profesinya gitu-gitu doang. Melacurkan diri dan ilmu dengan imbalan tertentu. 

Sebuah survei sudah mengalami pergeseran. Dari survei ilmiah menjadi survei komersial. Wani piro.

Tergantung yang order. Opini mau digiring kemana. Soal data bisa 'diolah'. Lembaga survei sudah punya bank data responden. Utak-atik data tinggal panggil media untuk memblow up 'serangan' opini.

Orang awam biasanya mudah tergiring opini oleh lembaga survei. Apalagi hasil survei sesuai dengan pandangan politiknya. Bisa dijadikan argumentasi untuk menghantam lawan politik. 

Misalnya, anggota DPRD Jakarta dari PDIP menganggap hasil survey Indo Barometer sebagai sebuah fakta bahwa Anies Baswedan dianggap tidak sehebat Ahok dalam mengatasi banjir. Padahal survei Indo Barometer bukan survei ilmiah. Anggota DPRD pun tidak bisa membedakan data dan opini. 

Banyak kejanggalan. Respondennya publik nasional tapi yang disurvei kinerja Gubernur Jakarta dalam mengatasi banjir. Mestinya, persepsi publik nasional untuk pemimpin nasional bukan persepsi publik nasional untuk pemimpin daerah. Ngaco jadinya. 

Persepsi bias dari responden yang telah diolah sedemikian rupa oleh Indo Barometer untuk 'menyerang' dan 'mendeskreditkan' Anies Baswedan. Sementara Ahok menjadi 'bintang' survei Indo Barometer yang dirilis kemarin 16 Februari 2020. Kita nggak tahu untuk proyek ini Indo Barometer dapat berapa?  Hanya M Qodari yang bisa menjawabnya. 

Publik sekarang lebih kritis. Tidak terlalu percaya lembaga survei. Beda dengan situasi 2003 dengan sekarang. Dimana pada 2003 publik begitu percaya lembaga survei. Kedoknya belum terbongkar. Sekarang belang berbagai lembaga survei sudah terbongkar. Kepercayaan pun luntur.

Luntur karena banyak lembaga survei menjelma menjadi Pekerja Survei Komersial (PSK). Industri baru yang banyak mendatangkan uang.

Menjadi industri PSK tidak sulit. Cukup bermodal ilmu statistik dan kepandaian berbicara. Mengolah opini publik menjadi fulus miliaran. 

Pengorder survei baik perorangan maupun kelompok yang mendanai agar opini publik terhadap seseorang moncer. Popularitas dan elektabilitas palsu dengan memoles bank data responden sesuai kehendak pemesan. 

Orang dungu dan pendusta bisa dipoles oleh lembaga survei menjadi orang pintar dan amanah. Lima tahun terakhir opini yang dibangun lembaga survei bertolak belakang dengan fakta. 

Dungu tetap. Dusta tidak berubah. Pinter dan jujur karena pencitraan bukan pinter dan jujur bawaan pribadi.

Tentu saja kita tidak bisa melupakan kekacauan hitung cepat beberapa lembaga survei ketika Pilpres 2019. Tidak ada penjelasan ilmiah hingga hari ini yang bisa meyakinkan publik ketika suara perolehan Prabowo-Sandi tertukar dengan Jokowi-Amin yang sempat tayang di beberapa TV nasional.

Pekerja Survei Komersial memang pekerjaan menghibur. Hiburan bagi orang yang tidak punya kehormatan diri dengan melacurkan ilmu.

Masih percaya dengan PSK? Nggak lah ya! 

BSD City, 24 Jumadil Tsani 1441/18 Februari 2020

Post a Comment for "INDUSTRI PSK, Pekerja Survei Komersial"