Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lingkaran Setan Demokrasi dan Politik Figuritas


Abu Mush'ab Al Fatih Bala

Demokrasi lahir di Yunani. Plato adalah "Ayahnya", filsuf Yunani yang sangat populer dan brilian. Demokrasi pada awalnya dirancang dengan sangat apik.

Demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Dalam sistem kehidupan ini rakyatlah yang berdaulat membuat hukum bukan Tuhan. Demokrasi dicintai di Yunani karena ketika menghadapi masalah apa pun semua rakyat diminta menyatakan pendapat dan solusinya. 

Sebuah masalah bisa  didiskusikan oleh ribuan bahkan jutaan isi kepala. Hal ini membuat Plato mulai frustasi dan menganggap "anaknya" ini mulai "liar" dan "sulit dikendalikan". Dia pun mengatakan demokrasi adalah sistem terburuk di muka bumi. Demikian pendapat sang pemikir cemerlang. 

Kemudian, setelah masa Yunani, demokrasi mulai tak laku berabad-abad, hingga datangnya revolusi industri di Barat. Demokrasi di era modern tidak melibatkan opini semua orang, tetapi menggunakan perwakilan. Para wakil rakyat dianggap figur yang paling kuat dalam menyuarakan amanah rakyat. 

Namun apa yang terjadi? Ternyata fakta demokrasi menunjukkan bahwa kekuasaan telah berhasil diambil oleh para pengusaha kapitalis dan anteknya. 

Ekonomi tidak berpihak kepada rakyat. Gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat adalah salahsatu contoh konkritnya. Rakyat AS menjerit, "We are 99 nine percent" (kami adalah 99% rakyat yang menderita kemiskinan, sedangkan kekayaan negara dikuasai 1% kapitalis). 

Demokrasi yang berlaku di AS ternyata membuat lingkaran setan di bidang ekonomi. Meningkatnya jumlah orang miskin sebanding dengan jumlah utang luar negerinya yang mencapai US $ 70 Trilyun.

Contoh lain di Indonesia, banyak politisi didikan demokrasi bersumpah manis akan membela kepentingan rakyat sebelum terpilih menjadi penguasa. Ternyata setelah berkuasa malah melayani hasrat ekonomi kapitalis asing.

Pernah ada yang membeli perusahaan telekomunikasi yang jadi aset negara sebesar Rp. 760 Trilyun kemudian dilego ke luar negeri dengan harga murah Rp. 3 Trilyun.

Ada juga yang berjanji akan melindungi setiap jengkal tanah air Indonesia dari serbuan luar negeri dan bersedia mempimpin ekspedisi militer. Ternyata, setelah berkuasa (lagi) tak berani melindungi Papua, Kalimantan, Natuna, Cepu dan lain-lain dari pengerukan dan perampokan SDA oleh kapitalis luar negeri. 

Demokrasi juga membiarkan dan tidak melindungi masyarakat dari berbagai kerusakan seperti penistaan agama, pergaulan bebas, LGBT, korupsi, narkoba, kemiskinan dan persekusi para pengemban dakwah. Masyarakat siap ditipu lagi dalam siklus pemilu 5 tahunan. Ketika banyak wakil rakyat yang terpilih malah hidup tambah mewah di atas naiknya pajak dan harga-harga barang.

Anehnya masih banyak anggota masyarakat yang menganggap demokrasi adalah solusi. Mereka masih percaya bahwa akan ada orang-orang kuat yang mampu merubah sistem demokrasi menjadi lebih Islami dan solutif. 

Masih mencintai aspek figuritas. Padahal telah mafhum diketahui, pilihan demokrasi cuman dua menjadi idealis yang sering dipersekusi atau pragmatis yang bergelimangan harta (karena ini seorang pakar mengatakan malaikat masuk sistem bisa jadi iblis). 

Banyak wakil rakyat dan parpolnya berlomba-lomba menjadi tersangka korupsi. Rakyat pun sakit hati lagi. Berfikir akan terjadi perubahan, ternyata figur yang disangka sholeh, cerdas, dan bersih malah memakan uang rakyat. 

Sudah saatnya rakyat meninggalkan sistem demokrasi yang merupakan warisan filsuf Yunani dan beralih ke sistem Islam. Dalam Islam figur memang penting namun jauh lebih penting lagi sistem yang menshalehkan manusia. 

Islam memandang figuritas dalam persoalan politik (pengaturan masyarakat) sangat ditentukan oleh sistem. Rasulullah dan para Khalifah sesudahnya tak ragu-ragu mengganti para pejabat negara yang tidak disukai rakyatnya. Karena buruknya peringai dan cara memimpin mereka.

Dalam sejarah KeKhilafahan Islam yang 14 abad dan menguasai 2/3 dunia itu, kepemimpinan tidak diserahkan kepada mereka yang sekuler, liberal dan paling paham hukum Barat. Tetapi diserahkan kepada mereka yang mau menerapkan Islam secara Kaffah (berhukum penuh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasullulah serta mampu berijtihad). Maka kemakmuran Negara Islam telah tersebar di dunia Islam maupun Barat.[]

Bumi Allah, 6 Januari 2020

#AkademiMenulisKreatif
#AMK6
#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Lingkaran Setan Demokrasi dan Politik Figuritas"