Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DEMOKRASI, LGBT DAN DIABOLISME INTELEKTUAL


Oleh : Ahmad Sastra

Segala bentuk kerusakan dan keburukan yang terjadi sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah disaat hegemoni hawa nafsu mengalahkan hegemoni wahyu. Disebut zaman jahiliyah adalah disaat manusia menuhankan hawa nafsu dan mengabaikan wahyu. Dalam kondisi krisis sosiologis seperti  itulah, Allah lantas mengutus RasulNya untuk meluruskan pola fikir dan pola sikap manusia. 

Nabi Musa diutus Allah pada saat hegemoni nafsu menghinggapi kekuasaan fir’aun. Dengan segala kediktatoran dan kecongkakan, firaun mengaku sebagai tuhan, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah disaat hegemoni nafsu menguasai abu jahal dan abu lahab berserta para pemujanya. Para Nabi dan Rasul diutus Allah untuk meneguhkan ulang eksistensi kedaulatan hukum Allah dan meleyapkan segala bentuk pemujaan atas hawa nafsu. 

Sayyid Qutb mengatakan bahwa eksistensi agama ini merupakan eksistensi kedaulatan hukum Allah. Ketika kondisi asal ini ternafikan, niscaya eksistensi agama ini juga ternafikan. Yang menjadi problem utama di muka bumi sekarang bagi agama ini adalah berdirinya para taghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaanNya, kemudian dirinya diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan perundang-undangan  untuk membenarkan dan melarang jiwa, harta dan anak.

Hakekat demokrasi yang bersifat antroposentrisme memiliki prinsip utama pemujaan terhadap hawa nafsu. Kebenaran demokrasi diukur oleh konsensus kepentingan manusia atas sesuatu. Demokrasi meyakini adanya kebebasan atas nama HAM.  Akibatnya dalam demokrasi terdapat konsensus permanen atas kebebasan kepemilikan, kebebasan berekspresi dan kebebasan berfikir. 

Kebebasan kepemilikan dalam demokrasi lantas melahirkan sistem ekonomi kapitalisme dimana seluruh kekayaan suatu negara bebas dimiliki oleh individu. Kapitalisme melahirkan kemiskinan dan kemelaratan di seantero dunia, karena hanya segelintir kapitalis yang memiliki kekayaan tak terbatas. Sementara rakyat banyak hanya menjadi budak mereka. 

Kapitalisme tidak mengenal hukum halal dan haram sebagaimana dalam Islam. Kapitalisme melihat setiap segala sesuatu yang memiliki aspek ekonomi, maka akan dibisniskan, meskipun dampaknya negatif bagi kehidupan manusia. Bisnis prostitusi, narkoba, senjata, organ manusia dan masih banyak lagi adalah bisnis ala kapitalisme. 

Kebebasan berekspresi melahirkan liberalisasi perilaku manusia. Demokrasi mengizinkan manusia untuk berbuat apa saja karena dilindungi oleh hak asasi manusia. Perilaku manusia seperti LGBT, seks bebas, pelacuran, mabok-mabokan dan perjudian bahkan oleh negara demokrasi seperti amerika disahkan dan dilindungi undang-undang. 

Perilaku abnormal yang bahkan binatangpun tidak melakukan seperti LGBT mendapat legitimasi hukum dalam demokrasi. Meskipun dalam Islam perilaku LGBT adalah terlarang dan bahkan pelakunya dihukum mati, namun demokrasi justru membolehkan dan melindungi. Padahal dalam sejarah perilaku kaum penentang Nabi Luth terbukti sebagai kemaksiatan yang mendatangkan azab pedih dari Allah. 

Sementara demokrasi dengan prinsip kebebasan berfikir telah melahirkan diabolisme intelektual. Istilah diabolisme intelektual merujuk kepada watak manusia yang kerasukan iblis dalam pemikiran. Seperti diketahui bahwa iblis adalah pembangkang ayat-ayat Allah. Demokrasi sekuler liberal sebagaimana terjadi hari ini telah melahirkan manusia-manusia yang berfikir seperti iblis. Karakter utama iblis adalah menolak ayat-ayat Allah dikarenakan hawa nafsunya telah menguasai dirinya. 

Kesalahan utama iblis adalah sombong dan membangkang perintah Allah, bukan karena tidak tahu kebenaran. Iblis tahu akan ketuhanan Allah, namun dia disebut oleh Allah sebagai kafir karena mengingkari dan menolak kebenaran. Iblis bahkan malah mengoreksi ayat Allah tentang keutamaan Nabi Adam. Orang yang dengan nafsunya mengoreksi, merevisi dan meralat ayat-ayat Allah adalah anak cucu keturunan iblis. 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah : 34). Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. (QS Al Hijr : 31). Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. (QS Thaahaa : 116). 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu ?. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS Al Kahfi : 50).

Sampai kapanpun iblis akan terus berusaha mencari teman dan pasukan dari kalangan manusia. Sementara manusia adalah makhluk Allah yang lemah jika tidak terikat kepada wahyu Allah. Hanya keimanan dan ketaqwaan yang kokoh yang akan mampu bertahan dari hasutan iblis. Manusia yang menghamba kepada nafsu, dunia dan tahta akan mudah dihasut oleh iblis.  

Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman. Perhatikan firman Allah berikut : 

Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS Al Israa : 64). 

Sayangnya negeri ini justru menerapkan sistem demokrasi, maka tidak heran jika akan muncul manusia-manusia berwatak iblis dalam penguasaan ekonomi, kebebasan perilaku dan bahkan kebebasan berfikir. Jangan heran jika ada manusia dengan sombongnya melawan ayat-ayat Allah, seolah wahyu Allah tak lagi relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Manusia berwatak iblis pemuja demokrasi itu menyalahkan al Qur’an dan al Hadist berdasarkan hawa nafsunya. 

Sebagai akhir dari tulisan ini, mari kita renungkan pesan Sayyid Qutb bahwa Usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas, pertama kali harus diorientasikan untuk membangun masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan manhaj Allah. Ketika masyarakat telah mengalami kerusakan total, ketika jahiliyah telah merajalela, ketika masyarakat dibangun dengan selain manhaj Allah dan ketika bukan syariat Allah yang dijadikan asas kehidupan, maka usaha-usaha yang bersifat parsial tidak akan ada artinya. Ketika itu usaha harus dimulai dari asas dan tumbuh dari akar, dimana seluruh energi dan jihad dikerahkan untuk mengukuhkan kekuasaan Allah di muka bumi. Jika kekuasaan ini telah tegak dan kuat, maka amar ma’ruf dan nahi munkar akan tertanam sampai ke akar-akarnya.

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 01/03/19 : 14.20 WIB)

Post a Comment for "DEMOKRASI, LGBT DAN DIABOLISME INTELEKTUAL "