Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BELUM AKAN ADA PERANG BESAR, KETEGANGAN INTERNASIONAL SAAT INI HANYALAH PRAKONDISI MENYONGSONG TEGAKNYA KHILAFAH


[Tanggapan Atas Pemikiran SBY, dalam artikel berjudul 'PERANG BESAR BISA TERJADI KARENA MISKALKULASI, PEMIMPIN YANG ERATIK DAN NASIONALISME YANG EKSTRIM']

Oleh: Nasrudin Joha 

Saya tertarik mengomentari artikel yang ditulis SBY pada 6 Januari 2020. SBY antara berharap  tidak terjadi perang dunia ketiga, juga tak menutup kemungkinan terbukanya perang karena ketegangan internasional meskipun tak diharapkan, mengungkap 3 (tiga) permasalah mendasar yang menjadi faktor terjadinya perang : 1. Mis kalkulasi, 2. Pemimpin Eratik, dan 3. Nasionalisme yang Ekstrim.

Dari ulasan yang ditulis SBY, saya bisa memahami kenapa SBY disebut 'Jenderal Strategi'. Beberapa faktor yang diungkap lumayan mampu dijadikan referensi, meskipun beberapa simpulannya tak sepenuhnya menunjukan realitas kebenaran.

Ada beberapa faktor-faktor non negara juga gerakan yang berbasis ideologi luput dari pisau analisis SBY. Sehinga, analisis yang dibuat SBY masih menjadikan negara sebagai faktor 'determinan' dan konflik yang diunggah sebatas konflik kepentingan belum sampai pada substansi konflik, yakni konflik ideologi.

Perlu penulis tegaskan bahwa faktor utama ketegangan negara kawasan di timur tengah, juga meluasnya konflik dengan melibatkan beberapa negara inti dan negara satelit* di tingkat internasional, lebih didorong karena alasan keserakahan dan hegemoni para penguasa timur tengah dan barat.

Iran, Suriah, Turki, Rusia dan Israel misalnya, tidak pernah berkonflik kepentingan dalam hal adanya kezaliman yang luar biasa menggolakkan darah atas sejumlah pembantaian terhadap kaum muslimin di Suriah. Di kawasan ini, negara kapitalis maupun sosialis, termasuk negara antek di negeri kaum muslimin ijma' (sepakat) secara bersama-sama melakukan kezaliman kepada kaum muslimin di Suriah, baik secara aktif dan langsung maupun secara pasif dengan membiarkan kezaliman itu dipermaklumkan.

Rezim Bashar Assad la'natulloh berposisi sama dengan Rusia dan Iran. Ketiga negara ini, sama-sama aktif melakukan serangan brutal kepada kaum muslimin Suriah, rakyat Suriah yang tertindas dan milisi Islam yang melawan karena ditindas.

Suriah memerangi rakyatnya sendiri  dengan seluruh sumber daya negara, Rusia ikut menggempur rakyat Suriah karena kekhawatiran 'kebangkitan Islam politik di Suriah' berdalih memerangi terorisme. Sementara Iran, baik secara terbuka maupun tersembunyi terus memberi 'infus darah' bagi rezim Bashar Assad atas dasar sentimen syi'ah, untuk terus membantai kaum muslim sunni di Suriah.

Apa yang dilakukan Iran atas Suriah sama dan sebangun dengan kebijakan luar negeri Iran terhadap Irak. Iran tak melakukan politik luar negeri berdasarkan sentimen keislaman, tetapi lebih kepada sentimen ke-Syia'h-an.

Adapun Amerika dan Turki mengambil posisi yang sama, yakni ikut menzalimi kaum muslimin di Suriah dengan membiarkan Suriah, Rusia dan Iran membantai kaum muslimin di Suriah.

Amerika sesekali melakukan serangan hanya agar kaum milisi Islam mau ditarik ke meja perundingan. Karena keistiqomahan para mujahid di Suriah, maka Amerika tidak memiliki pilihan lain kecuali tetap mempertahankan rezim Bashar Assad betapapun rezim Assad melakukan kejahatan kemanusiaan yang sangat membelalakan mata. Amerika belum menemukan sosok 'boneka' pengganti di Suriah.

Turki juga tidak melakukan intervensi militer, menolong saudara muslim di Suriah kecuali jika serangan itu mengganggu suku Kurdi. Jadi, Turki hanya bergerak atas sentimen ashobiyah, bukan karena sentimen keislaman. 

Turki membiarkan pembantaian kaum muslimin di Suriah yang terjadi didepan matanya. Turki hanya bersikap, jika invasi Suriah maupun Rusia mengganggu keamanan nasional Turki.

Nasionalisme Turki menyebabkan tentara dan pesawat-pesawat tempur Turki tidak digerakan untuk menolong saudara muslim di Suriah. Andai saja tidak ada sokongan Rusia dan Amerika, dukungan Iran dan pengkhianatan Turki, niscaya rezim tiran Basyar Assad La'natulloh telah lama tumbang oleh Mujahidin Suriah.

Serangan Saudi ke Yaman juga merupakan serangan kepada saudara muslim. Meskipun muslim Yaman sebagian menganut mahzab Syiah, tetapi Syiah di Yaman bukanlah Syiah rafidhoh seperti di Suriah. Penyerangan karena sentimen Sunni-Syiah, hanyalah kedok untuk menutupi ambisi Arab Saudi yang ingin menjadi pemimpin di negara kawasan, bersaing dengan Iran. 

Pada faktanya, korban serangan pesawat tempur saudi ke Yaman tidak hanya menyasar milisi Syi'ah Houthi. Banyak sipil, wanita hingga anak-anak sunni juga ikut menjadi korban.

Rudal-rudal Saudi, tak dapat memilih korban sunni atau Syiah. Seluruhnya menjadi korban kebengisan Saudi yang ingin unjuk kekuatan di kawasan. Saudi juga ingin menjadikan muslim Yaman sebagai target percobaan bagi pesawat-pesawat tempur Saudi yang di Import dari Amerika.

Arab Saudi mencari back up dari Amerika dan Inggris, sementara Iran menghimpun Suriah dan meminta dukungan kepada Rusia untuk menjadi negara adi kuasa di kawasan timur tengah.

Perang dagang antara China dan Amerika yang mampu membuat Amerika tersudut kedinding menimbulkan perlawanan politik Amerika untuk mengisolasi China dari komunitas internasional. Isu pembantaian muslim Uighur dan sengketa perbatasan laut di kawasan Asia Pasifik dan Asia tenggara, di eksploitasi Amerika untuk mengepung China menggunakan kekuatan negara kawasan dan sentimen kaum muslimin.

Begitulah, Amerika membantai kaum muslimin di Irak dan Afghanistan. Amerika pula menggerakan sentimen keislaman kaum muslimin sedunia untuk 'mengeroyok' China melalui isu pembantaian muslim Uighur.

Padahal, baik China maupun Amerika keduanya adalah penjahat perang, teroris dunia, penguasa kafir yang melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap umat Islam. Jadi, Amerika memasang muka dengan topeng kemunafikan ketika 'menggoreng' isu muslim Uighur untuk menekan China.

Amerika berharap, dengan tekanan ini China mau bernegosiasi dalam sengketa 'perang dagang' dengan Amerika. Sebenarnya, Amerika tidak pernah peduli terhadap nasib kaum muslim Uighur, sebagaimana Amerika begitu nyaman membantai kaum muslimin di Irak dan Afghanistan.

Pemimpin dunia termasuk dunia arab selain menghendaki perang, juga melihat perang sebagai instrumen untuk menunjukan wibawa kekuasaan dan dasar untuk menghegemoni. Perang juga sangat terkait erat dengan bisnis senjata.

Bagaimanapun Amerika dan barat, termasuk Rusia dan China sebagai negara industri peralatan perang tak sepenuhnya ingin dunia damai. Para negara kapitalis barat dan sosialis komunisme timur, tetap akan 'mendorong adanya perang' pada tingkat yang masih dapat dikendalikan, sekedar untuk memastikan industri senjata mereka terserap pasar.

Ketegangan Saudi dan Yaman, menguntungkan industri pesawat tempur Amerika. Ketegangan Suriah dengan rakyatnya, menguntungkan Rusia. Begitu seterusnya.

Jadi dalam hal ini, saya berpendapat SBY 'agak lebai' soal miskalkulsi. Semua Ketegangan dunia itu masih dalam kendali dan kalkulasi Amerika dan barat, juga Rusia dan China. Selain industri senjata, perebutan sumber energi masih menjadi motif yang mendominasi.

Serangan Amerika terhadap Irak, sejak awal bukan karena senjata pemusnah massal. Meskipun, pengakuan Amerika baru dilakukan akhir-akhir ini, setelah jutaan nyawa kaum muslimin di Irak tewas akibat kebijakan zalim Amerika. Semua hanya soal Money, Gold, sumber energi yang membonceng isu gospel.

Adapun nasionalisme yang disebut SBY dapat memicu konflik jika terlalu  ekstrim, jawabnya adalah bawah nasionalisme adalah ikatan yang batil. Baik diberlakukan secara ekstrim maupun moderat, nasionalisme hanya akan menimbulkan konflik dan bencana kemanusiaan.

Tindakan China mengirim beberapa kapal patroli tambahan (Choast Guard) ke laut Natun adalah dalam rangka membela kepentingan nasional China atas klaim perairan Natuna. Jika terjadi benturan antara Indonesia dan China itu juga karena sentimen nasionalisme masing-masing negara.

Diamnya negara-negara Arab kawasan di timur tengah atas pembantaian kaum muslimin di Palestina, itu juga karena sentimen nasionalisme. Atas dasar kepentingan nasional, Arab Saudi tak menggerakan satupun pesawat tempur yang di Import dari Amerika untuk menyerang negara Yahudi Israel, yang jelas menzalimi kaum muslimin di Palestina. Begitu juga Iran, Turki, Mesir, semua bungkam tidak membela Palestina juga karena sentimen nasionalisme.

Nasionalisme adalah ta'ashub yang menggerus ikatan persaudaraan karena akidah Islam. Ikatan nasionalisme hanya muncul saat negara ada ancaman dari luar. Jika tidak, dalam kondisi aman, para penguasa suatu negara akan kembali saling memangsa dan menjarah harta rakyat.

Jadi, dari uraian tersebut diatas rasanya SBY tidak perlu khawatir akan adanya perang dunia ketiga, meskipun beberapa pemimpin dunia menampakan karakter 'maniak' perang. Ketegangan itu hanyalah prakondisi untuk membuat ikatan-ikatan kesepakatan untuk membagi wilayah jarahan juga untuk membagi wilayah eksistensi kekuasaan dan pengaruh.

Adapun yang paling tepat, sesungguhnya ketegangan internasional termasuk yang paling mutakhir antara Iran dan Amerika, adalah prakondisi menjelang tegaknya Daulah khilafah Islamiyah yang telah dijanjikan. Ketegangan-ketegangan ini akan menyibukkan dunia internasional khususnya yang berada dibawah kendali Amerika, Eropa, Rusia dan China, untuk saling 'unjuk gigi' berebut pengaruh dan menulis ulang sejumlah kesepakatan pembagian wilayah dan daerah jajahan.

Seperti di Indonesia, Amerika sedang mengguncang posisi China agar dapat bernego kembali, memaksa China untuk mundur dari sejumlah ambisi atas Indonesia yang mengancam kepentingan Amerika. China nampaknya tak cukup puas dengan pasar dagang Indonesia dan sejumlah proyek Infrastuktur.

China mulai melirik dan merengsek di bisnis pertambangan yang sebelumnya menjadi monopoli Amerika. Melalui Luhut sang 'duta besar khusus China untuk indonesia' China mencari celah bisnis pertambangan dan energi untuk menggeser posisi Amerika.

SBY benar, dunia saat ini dipenuhi ketidakadilan, kezaliman, protes massif baik di negeri-negeri Islam maupun negara barat bahkan Amerika. Kerakusan dan ketidakadilan kapitalisme global, secara alamiah mendapatkan perlawanan dari umat manusia.

Sedangkan di negeri kaum muslimin termasuk di Indonesia, protes atas ketidakadilan dan kezaliman diikuti dengan aspirasi keinginan kaum muslimin untuk kembali kepada syariah Islam secara kaffah dalam naungan Daulah khilafah.

Kerinduan kaum muslimin akan khilafah yang dijanjikan, telah mendorong sejumlah putra terbaik Islam untuk melebur dan menghimpun diri dalam perjuangan menegakkan  khilafah. Dalam konteks itulah, Amerika dan barat, termasuk Rusia dan China yang bersepakat untuk menghalau kebangkitan Islam politik tidak dapat berkonsentrasi penuh untuk merealisir urusan itu.

Allah SWT telah menyibukkan kaum kafir dengan kaum kafir lainnya untuk saling menzalimi. Para penguasa antek di negeri kaum muslimin baik di Iran, Suriah, Saudi Arabia, Turki, Mesir, terlibat aktif dalam kegiatan saling menebar kezaliman ini.

Berkahnya, Amerika, barat, Rusia, China dan para penguasa antek di negeri kaum muslimin tidak dapat berkonsentrasi penuh untuk mengarahkan kaca pembesar mereka, mengamati geliat kebangkitan khilafah. Konsentrasi mereka terpecah, disibukan dengan konflik dan kegagalan mengelola pemerintahan yang mendapat kritikan keras oleh rakyat di negara masing-masing.

Jadi Pak SBY, santai saja, belum akan terjadi perang besar. Saat ini adalah prakondisi menyongsong kembalinya khilafah ala minhajin Nubuwah yang sedang diperjuangkan oleh elemen umat, elemen non negara.

Setelah khilafah berdiri, setelah kaum muslimin negerinya terintegrasi dengan khilafah, kaum muslimin akan berjihad fi Sabilillah, mengumumkan perang semesta kepada seluruh umat dan bangsa, dalam rangka merealisir misi pembebasan. Pembebasan setiap makhluk dari menghamba kepada makhluk lainnya, menuju menghamba hanya kepada Allah SWT.

Misi jihad fi Sabilillah bukanlah misi perang untuk menumpahkan darah dan menebar bencana kemanusiaan seperti yang dilakukan Amerika. Misi jihad fi Sabilillah adalah misi menebar rahmat Islam bagi seluruh penjuru alam, menciptakan kedamaian dunia, membimbing segenap umat manusia agar kembali pada fitrahnya, taat kepada Allah SWT. 

Dan waktu kembalinya khilafah semakin dekat, lebih dekat dari yang SBY bayangkan. SBY hanya bisa mengamati dari jauh, sementara Nasjo menjadi pelakunya, mengikuti setiap detik pergerakannya, dan bisa saya simpulkan bahwa  'bayi khilafah itu' sebentar lagi akan dilahirkan. 

Umat ini telah mengandung berat bayi khilafah, telan mengalami mual dan beberapa kali pendarahan. InsyaAllah dalam waktu dekat bayi khilafah itu akan lahir, semoga Pak SBY masih berumur sehingga bisa melihat kibaran Liwa dan Roya sebagai pertanda khilafah telah tegak berdiri. [].

*Negara inti adalah negara mandiri, yang independen dalam membangun politik luar negeri. (Contoh : Amerika, Rusia, China).
*Negara satelit adalah negara tidak independen, sangat dipengaruhi negara inti tempatnya mengorbit (Arab Saudi membebek ke Amerika, Suriah ke Rusia dan Amerika).

Post a Comment for "BELUM AKAN ADA PERANG BESAR, KETEGANGAN INTERNASIONAL SAAT INI HANYALAH PRAKONDISI MENYONGSONG TEGAKNYA KHILAFAH "