Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BANJIR, SELAKSA HARAP DAN MA'RIFAT KEPADA SANG PENCIPTA


Oleh : Nasrudin Joha 

Musibah banjir tahun ini nyaris merata di hampir diseluruh wilayah Jabodetabek. Bahkan, dibeberapa titik yang sebelumya tidak terjangkau air, kini terimbas dan terdampak.

Ada semacam refleksi spiritual yang hadir dalam musibah banjir kali ini. Rasa 'ketidakberdayaan' makhluk bernama manusia ketika menghadapi ketentuan sang kuasa.

Tak ada beda strata, baik yang miskin maupun yang kaya, semua menjadi tak berdaya, hanya bisa berpasrah, melihat air bah masuk mengisi seluruh kamar dan sudut ruangan, menenggelamkan banyak harta yang telah lama menjadi 'Simbol Keangkuhan'.

Rumah, kendaraan, perabotan, semua aksesoris dunia yang sebagiannya menjadikannya 'parade keakuan' tentang keberhasilan mengumpulkan harta dunia, semua terendam, basah, lusuh, tak lagi berkilau dan memancarkan aura kebanggaan. Ruh ketidakberdayaan mulai menjangkiti relung bathin, bagi siapa saja yang dadanya masih menyisakan iman.

Astaghfirullah, ini baru ruang dunia, baru kehidupan dimana manusia semestinya masih bisa berupaya dan membuat ikhtiar untuk keluar dari musibah dan bencana. Bagaimana kelak di akherat ? Adakah yang sanggup menolak ketentuan-Nya ?

Adakah kelak, manusia mampu berargumentasi atas setiap maksiat yang dilakoni ?

Sayangnya, kontemplasi dan Ruh ke makhlukan yang butuh dan pasrah pada sang Khalik ini hanya muncul pada saat bencana dan musibah melanda. Ya, naluri beragama yang otomatis muncul saat ketidakberdayaan itu mengepung relung hati.

Lantas, kenapa Ruh kemahlukan ini tidak dihidupkan pada kondusi aman ? Ketika tiada musibah dan bencana ? Ketika semua berjalan normal ? Ketika hiasan dunia berupa harta masih pada kata kebercukupan bahkan keberlimpahan ?

Kenapa menusia lebih memilih hukum hawa nafsu ketimbang hukum syariah yang telah ditetapkan Allah SWT ? Apakah, manusia hanya mau taat dan tunduk pada ayat-ayat Kauniyah, ayat-ayat alam semesta, sementara ayat-ayat Qouliyah, wahyu yang termaktub dalam Al Quran dan As Sunnah diabaikan ?

Bukankah di akherat kelak manusia juga dipaksa tunduk ? Diadili dengan UU Al Qur'an dan an Sunnah ? Kenapa tidak sejak didunia manusia tunduk, taat dan patuh menerapkan UU Al Qur'an dan As Sunnah ?

Tak ada pertanyaan di akherat apakah manusia sudah Pancasilais atau tidak, NKRI atau tidak, berbhineka atau tidak. Manusia hanya akan ditanya dan diadili berdasarkan kekuatan hukum Al Qur'an dan As Sunnah.

Namun ketika masih didunia manusia begitu sombongnya ? Ditimpa musibah banjir saja tidak berdaya, tetapi begitu berani menolak hukum Alllah SWT ? Menolak syariah Islam hanya berdalih Pancasila ? Berdalih kesepakatan kakek moyang ?

Padahal, setiap mengalami musibah dan berbagai bencana, manusia mengeluh kepada Allah SWT, mengadu kepada Allah SWT, meminta ampunan dan pertolongan dari Allah SWT. Manusia tidak pernah meminta pertolongan kakek moyang, mengadu pada para Foundhing Fathers, berzikir Pancasila, melafadzkan NKRI harga mati atau yang semisalnya.

Wahai manusia, kembalilah pada fitrah-Mu. Kakek buyut mu Adam AS pernah keliru dan dikeluarkan dari Surga. Kakek buyutmu kemudian bertaubat dan kembali pada taat.

Fitrah kalian wahai manusia, adalah taat kepada Allah SWT. Menjadi maksiat, itu hanya karena kalian memperturutkan hawa nafsu dan godaan setan yang terkutuk. Kembalikah pada fitrahmu, pada ketaatan sempurna, dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. [].

Post a Comment for "BANJIR, SELAKSA HARAP DAN MA'RIFAT KEPADA SANG PENCIPTA"