Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PUKULAN TELAK AMERIKA TERHADAP CHINA ?


[Studi Kasus Persekusi Muslim Uighur]

Oleh : Nasrudin Joha 

Salah satu kelemahan ideologi sosialisme komunisme itu adalah meyakini 'dialektika materi' sebagai asas perubahan. Karenanya, setiap menghadapi situasi sulit sosialisme justru menggunakan pendekatan konfrontasi untuk menyelesaikan persoalan.

Sosialisme, tak cukup cerdik dalam memainkan politik proxy untuk menundukan kapitalisme. Sosialisme termasuk komunisme, lebih cenderung menggunakan konfrontasi fisik dan keok ketika menghadapi konfrontasi intelejen.

Kasus Afghanistan yang menjadi kuburan massal bagi tentara Soviet oleh mujahidinAafghanistan adalah bukti kongkritnya. Tumbangnya USSR olah narasi 'kebebasan dan demokrasi' yang diinjeksi oleh Amerika ke jantung Soviet di Moskow, juga mampu melumpuhkan Soviet pada 1991 dan tak mungkin bangkit lagi.

China yang saat ini mulai memainkan peran internasional, secara politik merupakan kepanjangan tangan rezim sosialisme komunisme. Meskipun, secara ekonomi China telah merombak sebagian paradigma ekonomi sehingga corak ekonominya cenderung kapitalistik.

China mampu membuat pusing Amerika pada isu perang dagang. Namun, China tak cukup tangguh untuk melakukan perang proxy politik melawan Amerika.

Pukulan telak Amerika terhadap China adalah ketika Amerika meminjam tangan Walt Streeet Journal (WSJ) yang membongkar kebiadaban China terhadap Muslim Uighur. Amerika, sukses mengepung China dengan isu 'kebiadaban kamp konsentrasi Muslim Uighur' untuk memukul telak China, setelah sebelumnya China sempat menyudutkan Amerika dalam ajang perang dagang.

Amerika, ingin mengulang sejarah menaklukan Soviet dengan isu anti komunis saat menggerakan dan mempersenjatai Mujtahidin Afghanistan untuk menumbangkan dominasi Soviet. Terbukti, Afghanistan dengan semangat jihad Fi Sabilillah, atas dorongan akidah memerangi kaum musrik Atheis Soviet, mampu mengubur seluruh tentara Soviet.

Kemudian, Soviet runtuh dan tak mungkin bangkit lagi setelah Amerika menginjeksi racun demokrasi di jantung ibukota Soviet, Moskow melalui tangan Michael Gorbachev. Sejak saat itu, Soviet runtuh dan hanya menyisakan Rusia sebagai sisa fosil sejarah kebesaran Soviet.

Hari ini, dengan methode yang sama Amerika sedang memanfaatkan sentimen anti China dan anti komunisme, untuk menjadikan setiap jengkal bumi menjadi kuburan bagi China. Dinamika politik di Hongkong tak lepas dari peran Amerika untuk menggerakan seluruh proxy dan faksi politik untuk memerangi China.

Di garis liberal, Amerika memanfaatkan demokrasi untuk menggusur dominasi sosialisme China atas Hongkong. Di garis Islamis, Amerika memanfaatkan isu komunisme dan kejahatan China atas Muslim Uighur dan beberapa tempat lain untuk menggelorakan sentimen anti China diberbagai pelosok negeri kaum muslimin.

Pada isu Uighur ini, secara khusus Donal Trump menemui aktivis Uighur dan terus mempromosikan kampanye penindasan China terhadap muslim Uighur. Donald Trump pada 18 Juli 2019 di Gedung Putih menemui sejumlah tokoh Muslim Uighur dan korban persekusi agama lainnya dari China, Turki, Myanmar, Korea Utara dan Iran. Trump jelas tak akan menemui korban persekusi atas kebijakan AS, seperti kaum muslim di Irak, Suriah, Afghanistan dan Palestina. 

Jadi, pembantaian muslim Uighur itu sebuah fakta, laporan WSJ atas sejumlah langkah China 'menyuap' sejumlah Ormas Islam juga fakta, namun semua fakta itu tak lepas dari kebijakan AS untuk menundukan China. Isu ini bisa berhenti, manakala Amerika mampu memaksa China berunding dan meneken sejumlah proposal yang telah disiapkan Amerika.

Namun, eskalasi kepungan dan serangan umum dunia Islam terhadap China melalui isu muslim Uighur ini eskalasinya bisa meluas ketika China tetap 'ngotot' dan tak mau tunduk pada Amerika. 

Memang benar, dalam urusan ini umat Islam tak memiliki posisi kokoh untuk menentukan kebijakan strategis tanpa kendali bangsa lain. Perlawanan umat Islam atas kebengisan rezim Teroris China di satu sisi menguntungkan Amerika, sementara disisi yang lain ini adalah kewajiban persaudaraan Islam untuk membela sesama saudara seiman.

Padahal, baik Amerika maupun China hanya berbeda soal membagi wilayah dagang dan negeri jajajahan. Adapun sikap terhadap umat Islam, baik rezim komunis China maupun rezim kapitalis Amerika sama-sama mendengki terhadap Islam, sama-sama melakukan kezaliman yang luar biasa terhadap umat Islam.

Luluh lantaknya Irak, jutaan nyawa melayang, adalah contoh kongkrit betapa Amerika begitu biadab menjagal umat Islam. Tak ada bedanya, baik Amerika maupun China, keduanya adalah negara teroris yang membantai umat Islam.

Karena itu, mungkin ada kegamangan bagi sebagian umat Islam untuk menentang rezim teroris China karena dianggap hanya akan menguntungkan Amerika dan masuk pada kubangan perang proxy yang didesain Amerika. Terhadap hal ini, perlu saya sampaikan pandangan sebagai berikut :

Pertama, pembelaan terhadap saudara Muslim Uighur adalah kewajiban Syara'. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tak boleh menzalimi, menyakiti, apalagi menyerahkannya kepada musuh.

Tindakan diam pada kebengisan China terhadap saudara muslim Uighur tidak dapat dibenarkan oleh agama. Apalagi, menjadi pihak yang ikut memberi legitimasi kepada China untuk melakukan tindakan biadab kepada muslim Uighur.

Karena itu, pada sisi ini semua umat Islam wajib melakukan perlawanan dan penentangan kepada rezim China yang bertujuan untuk menekan China agar tak melakukan kezaliman pada muslim Uighur atau setidaknya mengurangi tensi kejahatannya kepada muslim Uighur.

Kedua, agar umat ini lepas dari belenggu Amerika, dan tidak dibelenggu kebijakan politik Amerika yang mengisolasi China dan menggerakan proxy politik untuk mengepung China, maka umat ini wajib meninggalkan demokrasi yang pernah digunakan Amerika untuk menikam Soviet. Umat ini wajib membuang jauh demokrasi, agar pembelaan terhadap saudara muslim Uighur murni karena akidah Islam, bukan karena nilai kebebasan dan humanisme yang dijajakan demokrasi.

Umat wajib menolak seluruh kebijakan politik barat dan meninggalkan sistem politik demokrasi yang merupakan sistem pemerintahan yang mengejawantahkan nilai-nilai Sekulerisme. Untuk memotong tangan-tangan ideologi kapitalisme, maka umat ini wajib mencampakkan demokrasi.

Ketiga, agar umat ini terbebas dari demokrasi secara total dan dapat menolong saudara muslim Uighur secara paripurna, maka umat ini wajib segera mendirikan khilafah. Sebab, hanya khilafah yang benar-benar mampu membabat Sekulerisme demokrasi.

Khilafah juga mampu memobilisasi kekuatan umat Islam untuk melakukan jihad fi Sabilillah membebaskan saudara muslim Uighur di Xinjiang. Dengan khilafah, umat Islam bisa bertindak lebih bukan sekedar mengecam dan mengajukan protes kepada China.

Khalifah akan mengumandangkan jihad, mengirim tentara dan memobilisasi pasukan kaum muslimin di seluruh dunia, untuk membungkam mulut kotor China. Khilafah, kelak juga bukan hanya membebaskan muslim Uighur, tetapi juga membebaskan Muslim India, Muslim Rohingya, Muslim Palestina, Muslim Irak, Muslim Afrika dan kaum Muslimin di berbagai belahan bumi lainnya yang dijajah dan dijadikan mangsa negara-negara penjajah baik berhaluan kapitalis maupun sosialis.

Jadi jelas, kita bergerak dan berjuang berdasarkan visi Islam bukan membebek pada China atau tunduk pada proxy Amerika. Kita merdeka, melakukan aktivitas perjuangan hanya berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah. [].

Post a Comment for "PUKULAN TELAK AMERIKA TERHADAP CHINA ?"