Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ISU RADIKALISME TERHADAP MUSLIM UIGHUR

Oleh : Ahmad Sakhroni

Baru-baru ini publik indonesia dikejutkan dengan kabar berita dari the wall street journal, dalam artikel berjudul How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps, ormas Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah dianggap berhasil dibungkam oleh pemerintah China usai diajak berkunjung ke Xinjiang.

Sontak saja artikel tersebut mendapat respont dari masyarakat indonesia, khususnya ormas yang dimaksud dalam artikel tersebut.

Muhammadiyah Melalui surat edaran pers bernomor 507/PER/I.0/I/2019 memberikan pernyataan sikap atas muslim Uighur sekaligus sebagai klarifikasi atas artikel yang dimuat wall Street Journal. Bahkan Muhammadiyah siap menuntut dan memeja hijaukan perusahaan media terbesar ke dua di amerika tersebut.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas geram dengan artikel tersebut, “Cina menyuap MUI, NU, dan Muhammadiyah? Bagaimana caranya mereka menyuap ketiga organisasi tersebut. Apakah dengan mengundang tokoh-tokoh dari ketiga ormas tersebut ke Uighur Cina lalu ketiga ormas itu akan melemah kepada pemerintah Cina? Tidak,meskipun seribu kali pemerintah Cina mengundang MUI dan Muhammadiyah untuk datang ke Cina, selama pemerintah Cina tidak bisa menghormati hak-hak beragama dari rakyat Uighur, maka MUI dan Muhammadiyah akan tetap bersuara dengan lantang melawannya” tegas Anwar di Jakarta, Jumat, (13/12/2019).

Ketua Harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas dalam mengomentari artikel tersebut beliau mengatakan bahwa PBNU tidak bisa didikte apalagi dikendalikan siapapun termasuk China dalam persoalan Uighur di Xianjiang. Ia menyangkal soal adanya tudingan aliran uang ke NU.

Saat ini diperkirakan setidaknya satu juta warga Uighur mendekam di kamp "re-edukasi" yang dituding sebagai kamp konsentrasi abad modern. Di sana mereka tidak hanya dipaksa hidup di ruang sempit, berjejalan dengan tahanan lain, tetapi juga menjalani penyiksaan secara rutin.

Mereka yang dilepaskan menjalani kehidupan bak di penjara terbuka lantaran pengawasan ketat terhadap semua anggota keluarga. Prof. Dr. Susanne Schröter, Direktur Institut Islam Global di Universitas Frankfurt menilai cara barbarik tersebut merupakan metode yang lazim digunakan Partai Komunis Cina untuk memaksa etnis minoritas tunduk pada ideologi negara.

China memandang, bahwa apa yang dilakukan pemerintah china terhadap suku Uighur salah satunya adalah dalam rangka memberantas separatisme, terorisme dan radikalisme, Gerakan Islamis Turkistan Timur saat ini diakui oleh PBB atau Amerika Serikat sebagai gerakan teror. Sejak beberapa tahun kelompok ini melancarkan serangan teror spektakuler, seperti ledakan bom di stasiun kereta Kunming pada 2014 yang menewaskan lebih dari 30 warga sipil. Pemerintah Beijing kerap menggunakan alasan ini untuk membenarkan kebijakan mereka terhadap bangsa Uighur.

Hal ini diaminkan oleh Organisasi NU, bahwa Kamp-kamp tempat penampungan muslim Uighur tersebut untuk menjaga muslim Uighur dari pemahaman radikalisme.
"Kamp itu justru dibuat untuk menjauhkan mereka (warga Uighur) dari ekstrimisme dan radikalisme yang tercipta di Xinjiang. Tidak ingin warganya terpengaruh paham itu, China pun mengatasinya dengan melatih warga dengan skill di kamp vokasi tersebut"(Robikin Emhas , okezone.com)


Radikalisme dan Asal-usulnya

Radikalisme adalah istilah Barat, bukan dari Islam. Radikalisme berasal dari kata radical atau  radix yang berarti “sama sekali” atau sampai ke akar akarnya. Dalam kamus Inggris-Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disama-artikan (sinonim) dengan kata “fundamentalis” dan “extreme”.Radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada kata “akar” atau mengakar.

Istilah fundamentalisme atau radikalisme muncul pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-19. Istilah ini untuk menunjukkan sikap gereja terhadap ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat modern serta sikap konsisten mereka yang total terhadap agama Kristen. Gerakan Protestan dianggap sebagai awal mula kemunculan fundamentalisme. Mereka telah menetapkan prinsip-prinsip fundamentalisme pada Konferensi Bibel di Niagara tahun 1878 dan Konferensi Umum Presbyterian tahun 1910. Saat itu mulai terkristalisasi ide-ide pokok yang mendasari fundamentalisme. Ide-ide pokok ini didasarkan pada asas-asas teologi Kristen, yang  bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan  yang lahir dari ideologi Kapitalisme yang berdasarkan akidah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme).

Istilah radikalisme oleh Barat kemudian dijadikan sebagai alat untuk menyerang dan menghambat kebangkitan Islam. Barat melakukan monsterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan. Monsterisasi inilah yang kelak melahirkan islamophobia di Barat dan seluruh dunia. Inilah cara terakhir Barat untuk melanggengkan hegemoni ideologi Kapitalisme sekular dengan menyebarkan paham demokrasi.

Cara-cara ini pula lah yang diadopsi oleh China, sebagai pembenaran setiap tindakannya terhadap muslim Uighur, dan terbukti efektif, dengan diamnya organisasi-organisasi Islam karena mereka mengira hal tersebut adalah sebuah kebenaran.

Derita muslim Uighur itu bukanlah isu, melainkan fakta yang benar-benar terjadi, maka berhati-hati dengan propaganda RADIKALISME, karena hal tersebut mengakibatkan kaum muslim abai terhadap sodaranya sendiri.

Pemerintah china menganggap muslim uighur adalah kelompok radikal, kaum separatis, dengan alasan itulah mereka membantai umat Islam uighur.

Persepsi china terhadap radikalisme tersebut persis dengan yang terjadi dinegeri ini dan negara2 barat secara umum, yaitu narasi radikal disematkan kepada Umat Islam yang menginginkan kehidupannya diatur oleh syariat Islam.

Dari sinilah kita memahami, bahwa Radikalisme itu adalah alat Propaganda Negeri-negeri sekuler dan komunis untuk membungkam penegakan Syariat Islam secara kaffah, atau yang biasa disebut khilafah, Karena mereka menganggap tegaknya khilafah itu adalah ancaman terhadap peradaban mereka.

Perkara inilah yang harus difahami oleh umat, sehingga bisa jernih dalam memandang setiap peristiwa, dan tegas dalam bersikap.

Post a Comment for "ISU RADIKALISME TERHADAP MUSLIM UIGHUR"