Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Politik (Jihad, Khilafah dan Persatuan Umat) yang ditakuti Belanda

Oleh Sigit Nur Setiyawan

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Itulah sepenggal quote dari Preambule UUD 45 kita. Sebuah pengakuan yang sangat mendasar akan kahikat sebuah penjajahan.

Penjajahan di dunia ini selalu membawa kesengsaraan dan penindasan terhadap daerah yang dijajah. Masyarakat pribumi akan dieksploitasi tenaganya dan tanah tempat berpijaknya akan dikuras habis sumber daya alamnya. Setelah semuanya hancur barulah kemudian penjajah mencuci tangannya dengan memberikan “kemerdekaan” atau sekedar “otonomi khusus” kepada wilayah tersebut.

Namun dalam perjalanan sejarah, penjajah selalu menghadapi masalah besar ketika berhadapan dengan daerah daerah yang berpenduduk muslim. Mereka akan mendapatkan perlawanan sengit dari masyarakat pribumi bukan hanya karena ketenangan hidupnya diganggu, namun lebih karena sebuah panggilan suci dari Allah untuk berjihad mempertahankan negerinya dari penjajah. 

Penjajahan di Amerika Selatan dan Tengah dilakukan Barat dengan mulus. Dengan melakukan pembantaian besar besaran terhadap orang Inca, Astec dan juga Indian. Suku suku tersebut dibantai dengan bengis oleh para penjajah seolah olah mereka bukalah ras manusia. Di Australia, Inggris dengan pongah juga melakukan pembantaian besar besaran terhadap suku pribumi yaitu suku Aborigin. Di Afrika Selatan, penjajah juga menghilangkan dominasi suku asli yaitu orang orang negro Afrika yang dipaksa tunduk dalam perbudakan kejam dan mematikan.

Suku suku tersebut juga tak sanggup menghadapi penjajah bukan karena mereka tidak memiliki senjata. Namun lebih karena tidak meniliki spirit yang cukup untuk melawan penajahan. Spirit seperti itulah yang justru dimiliki oleh kaum muslimin. Walau tanpa persenjataan yang memadai namun kebulatan tekad dan semangatnya untuk melawan menjadikan penjajah kewalahan dalam menghadapinya.

Maka wajar dengan segala cara dilakukan oleh Barat untuk meredam segala bentuk perlawanan pribumi. Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh Prof.Dr. Snouck Hurgronje, seorang antropolog Belanda, ahli orientalis, fasih berbahasa Arab dan sangat faham dengan Islam dengan segala seluk beluknya. Prof.Dr. Snouck Hurgronje mengelompokkan Islam dalam 3 aspek. Ibadah, Sosial Masyarakat dan Islam Politik. Musuh kolonialisme menurut Prof.Dr. Snouck Hurgronje adalah Islam Politik. Karena pemahaman Islam Politik inilah yang mampu mengerakan masyarakat untuk melawan penjajah dengan sebuah predikat Jihad Fi Sabilillah.
Paling Kiri Prof. Dr. Snouck Hurgronje Sumber Foto : pinterest

Belanda sangat tidak senang dengan kata kata Jihad, Persatuan dan Kepemimpinan Kaum muslimin yaitu Khilafah. Disadari ataupun tidak pemahaman Islam Politik seperti inilah yang telah membangkitkan sekian perlawanan dari rakyat semesta. Perang Aceh, Perang Padri, Perang Jawa dan lain sebagainya. Semua dipimpin oleh ulama ulama yang berpaham Islam Politik.

Jadi Jihad lah yang selama ini ditakuti oleh penjajah termasuk Belanda, Persatuan dan Kesatuan lah yang membuat Belanda tak bernyali. Lantas mengapa setelah Belanda pergi kita justru mulai menpermasalahkannya? Menganggap Jihad adalah sesuatu yang buruk. Jihad dianggap sesuatu ajaran yang membawa kepada radikalisme dan terorisme. Jihad menjadi bahasan usang sejarah bukan lagi pembahasan dalam Fiqh kekinian. Ada apa dengan bangsa ini?

Ular kobra itu adalah jenis ular yang sangat ditakuti oleh manusia maupun binatang. Ditakuti karena dia memiliki bisa yang sangat mematikan yang disuntikan melalui kedua taringnya yang tajam. Lantas bagaimana jadinya jika ular Kobra tersebut dicopot taring tajamnya? Memang benar dia tetap memiliki bisa, namun dia tidak memiliki instrumen untuk menyuntikkan bisa kepada lawannya. Hasilnya tentu siapapun orang atau hewan yang tahu kalau dia tidak punya taring, dia akan sangat berani melawan kobra tersebut jika pada masanya tiba.

Taring taring tajam ular itulah perumpamaan Jihad. Jika orang tidak tahu bisa jadi akan tetap takut dengan Indonesia. Namun apa jadinya jika semua tahu termasuk musuh musuh kita. Mereka tahu kita tak punya insfrastruktur untuk melawan secara mematikan. Karena masyarakat sudah “jauh” dari kata Jihad. Siapa yang rugi?

Sadarlah wahai bangsa Indonesia. Negeri ini merdeka salah satunya karena jihadnya para syuhada di seluruh penjuru tanah air. Belanda tak lagi menjajah karena belanda tahu kita telah bersatu padu. Lantas atas alasan apa kit menghapus Jihad dalam kehidupan anak anak didik kita? Tidak kah kita ngeri dengan sesuatu yang mengancam diluar sana? Sadarlah sebelum semuanya berkata “Terlambat”. []

Post a Comment for "Islam Politik (Jihad, Khilafah dan Persatuan Umat) yang ditakuti Belanda"