Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DISKURSUS KHILAFAH TUMPAH KERUANG PUBLIK


Oleh : Nasrudin Joha 

Allah SWT ketika menghendaki suatu urusan maka digenapi semua syarat yang meliputinya. Allah SWT menjanjikan kekhilafahan bagi umat Islam, Rasulullah SAW mengabarkan kembalinya Nubuwah khilafah, maka dengan cara-Nya Allah SWT menggenapi syaratnya.

Salah satu syarat kembalinya khilafah adalah kerinduan umat yang sangat pada kembalinya sistem Islam. Kerinduan ini harus mewujud pada opini umum yang terbangun berdasarkan kesadaran umum.

Kesadaran umum maksudnya adanya pemikiran dan pemahaman yang sama ditengah umat tentang urgensi khilafah, hingga mampu merinci seluruh mekanisme untuk menegaksnnya. Opini umum maksudnya, khilafah menjadi buah bibir, menjadi arus mainstream perubahan umat, menjadi wacana yang terus didiskusikan umat.

Sebenarnya, jika kemenag tidak menghapus bab khilafah dari kurikulum pendidikan ditingkat madrasah, diskursus khilafah akan tersimpan rapih hanya diruang dan sudut sekolah. Diskursus khilafah juga hanya akan dipahami sekedar ajaran Islam, tanpa ada rasa keingintahuan umat bagaimana mekanisme menegakannya.

Namun begitu khilafah dilarang di madrasah, dihapus dari kurikulum, diskursus khilafah justru tumpah ruah diruang publik. Ketika diskursus ini memasuki ruang publik, tentu pemahamannya tidak sekedar dipelajari sebagai bahan ujian sebagaimana layaknya pelajaran sekolah. 

Umat merengsek jauh, ingin mengetahui lebih mendalam tentang apa itu khilafah dan bagaimana menegakannya. Keingintahuan ini tidak mungkin bisa dijawab melalui kurikulum pendidikan di madrasah, keinginan ini hanya bisa dijawab oleh kaum pergerakan.

Ditutupnya keran diskursus khilafah ditingkat madrasah, memantik diskusi hangat ditengah umat. Ditengah umat, bertemulah aspirasi keingintahuan dan semangat kaum pergerakan yang mencari dukungan. Diskusi intens antara umat dengan kaum pergerakan, para pengemban dakwah, perlahan dan pasti akan membangkitkan kesadaran dan opini umum kerinduan pada khilafah.

Rezim jahil ini keliru, menutup keran pada tempayan kecil yang menyebabkan air bah khilafah ini tumpah Kemana-mana. Apalagi dalam era sosmed, diskursus khilafah ini akan alamiah mencari jalan, dari celah-celah dunia digital, memasuki setiap pintu rumah kaum muslimin. Hingga, tidak ada lagi rumah ketika dibuka, kecuali didalamnya telah ada kerinduan yang sangat pada khilafah.

Kenyataan ini tak bisa dibantah, rezim hanya bisa menakut-nakuti, tapi tak bisa membunuh nurani. Umat pun, semakin lama semakin meninggalkan rasa takutnya, berani terbuka untuk menyatakan kerinduannya pada khilafah. 

Dialektika dan diskursus khilafah ini semakin lama secara alamiah akan melakukan konsolidasi. Konsolidasi ini akan meningkatkan aspirasi umat dari kerinduan pada khilafah menjadi tuntutan penegakan khilafah.

Seiring kegagalan rezim, kezaliman, kesombongan, dan rasa acuh rezim ada kehendak umat yang makin membuncah, arus khilafah itu makin membesar. Umat dihadapkan pada kegagalan rezim pada satu sisi, sementara disisi yang lain umat telah mengindera secara jelas hanya khilafah satu-satunya solusi bagi masa depan ini.

Demikianlah, Allah SWT hendak menggenapi syarat tegaknya khilafah dengan mengirim penguasa bodoh, yang tak bisa berfikir waras untuk membuat kebijakan. Semakin represif, semakin dibendung, opini khilafah ini semakin menyapu seluruh hati dan pemikiran umat. [].

Post a Comment for "DISKURSUS KHILAFAH TUMPAH KERUANG PUBLIK"