Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PARTAI GELORA AKAN MENGGEROGOTI PKS ?


Oleh : Nasrudin Joha 

Minggu, tanggal 10 November 2019 penulis buku 'Menikmati Demokrasi' resmi menjadi Ketua Umum Partai Gelora (Gelombang Rakyat). Partai Gelora diumumkan berdiri dengan ketua umum Anis Matta, Fachri Hamzah diposisi Wakil Ketua Umum, Sekjen-nya Mahfudz Sidik dan Bendahara Umum-nya adalah Ahmad Riyaldi. 

Empat tokoh ini adalah pentolan PKS (Partai Keadilan Sejahtera, dahulu PK), bahkan, Anies Matta bisa disebut sebagai 'ideolog-nya' PKS sementara Fachri Hamzah adalah bintang sekaligus mentornya kader muda PKS. Mahfudz Sidiq sendiri memiliki posisi dan kedudukan yang sangat dihormati di PKS.

Terpisah, Ketua DPP PKS Ledia Hanifa memastikan bahwa sejumlah pentolan PKS yang mendirikan Partai Gelora sudah keluar dari PKS. Menurutnya, deklarasi pendirian partai mengkonfirmasi keluarnya tokoh-tokoh tersebut dari PKS.

Menurut ledia, Wajar saja orang keluar masuk partai politik. Memilih satu atau partai lain. PKS sendiri menurutnya punya kader sendiri. Masih menurut Ledia, masing-masing tokoh dan partai memiliki konstituen sendiri.

Persoalannya, apakah kehadiran Partai Gelora ini akan menggerogoti basis konstituen bahkan kader PKS ? Apakah, sasaran market partai gelora merupakan segmentasi pemilih baru atau masih beririsan dengan ceruk partai PKS ?

Apakah, proses hengkangnya sejumlah petinggi PKS dan mendirikan Partai Gelora ini akan berakibat 'bedol deso' kader di daerah ? Mari kita ulas, agar tak keliru memahami fakta politik ini.

Pertama, setiap partai apapun namanya itu memiliki karakter kanibal. Partai akan mendoktrin kelompoknya paling baik, mendorong orang berhimpun di partainya (jika belum berpartai) atau mendorong orang untuk meninggalkan partai lama dan berhimpun dengan partainya (jika sudah berpartai). 

Ini ciri sekaligus karakter dasar partai politik, kanibal. Aneh, jika partai tak memiliki karakter untuk merekrut kader baik dari basis yang umum (belum berpartai) atau dari eks anggota partai lain, bahkan tak jarang juga menggoda kader partai lain untuk menjadi kader partainya. Kondisi ini juga akan terjadi pada Partai Gelora dan tentu saja berimplikasi bagi soliditas dan eksistensi kader PKS.

Kedua, ceruk pasar Partai Gelora itu tak jauh beda dengan PKS. Sebelum membuat jejaring baru, partai akan memanfaatkan jejaring lama untuk membesarkan partainya. Tak beda dengan Gelora, sebelum membuka jalur politik umum, jalur menembus partai lain (untuk merebutnya), tentu gelora akan menggunakan dan memanfaatkan jalur lama di PKS.

Jalur yang paling mulus tentu jejaring yang terikat berdasarkan kekuatan kultural emosional, bukan jejaring struktural PKS. Bagi kader yang menjabat di struktur PKS, akan sulit ditarik oleh Anies dkk untuk berhimpun di Gelora.

Akan halnya masa mengambang, masa yang tidak terikat dengan PKS, apalagi masa atau kader yang di kecewakan PKS, tentu memiliki peluang besar direkrut gelora. Terlebih, jika ikatan emosional dengan beberapa sosok di gelora begitu kuat.

Apalagi, PKS juga punya kebijakan bedol deso pasca terpilihnya Sohibul Iman. Ada upaya 'De-Anisisasi' yakni memotong seluruh jalur simpatisan Anies untuk duduk di struktur partai. Fachri Hamzah dan Machfud Sidiq termasuk yang terimbas kebijakan ini.

Di NTT (Nusa Tenggara Timur) sejumlah tokoh gaek PKS justru dirumahkan, tak mendapat peran di struktur PKS. Kader dan simpatisan ini sangat berpeluang untuk 'digoda' oleh partai gelora.

Ketiga, visi politik partai baik partai Islam maupun yang mengaku berbasis masa Islam itu kekuasan. Bagi kader PKS yang tak mendapat akses untuk 'menikmati demokrasi', bagi kader PKS yang karier politiknya terhambat oleh struktur dan kebijakan PKS, bukan mustahil barisan sakit hati ini akan bermigrasi dan menjadi bagian dari partai gelora.

Karenanya, kondisi ini sangat memungkinkan terjadi 'bedol deso' kader PKS ke kubu Partai Gelora. Hanya saja, belum bisa dipastikan seberapa besar prosentasinya.

Adapun kenaikan suara dan kursi PKS di pemilu 2019 tidak bisa di klaim sebagai hasil dan kinerja mesin partai. Beberapa suara limpahan umat yang sebelumnya akan memilih PBB karena dinilai menjadi harapan baru, akhirnya urung memilih PBB dan melabuhkan pilihan ke PKS. Jadi ini limpahan suara saja karena peristiwa politik tertentu, yakni karena PBB nyebong, bukan karena kemampuan agitasi dan kampanye politik kader yang mampu meyakinkan umat pada PKS.

Hanya saja, bagi kader PKS yang konsisten menginginkan syariat Islam, yang mulai muak dengan hidangan demokrasi yang diperebutkan secara menjijikkan di internal PKS, mereka yang melihat platform perjuangan Islam telah luntur dari PKS seperti Ust Mashadi dkk, dipastikan tidak akan tergoda dan bergabung dengan Partai Gelora meskipun telah meninggalkan PKS.

Kader PKS yang seperti ini pasti memilih untuk berjuang sendirian, mendirikan lembaga baru, atau berhimpun dengan gerakan politik yang benar-benar berjuang untuk tegaknya syariah Islam. Jadi, kader yang model ini tak akan kepincut dengan hiruk pikuk dan godaan partai Gelora. [].

Post a Comment for "PARTAI GELORA AKAN MENGGEROGOTI PKS ?"