Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

IDN RESEARCH : 19,5% MILENIAL INGINKAN KHILAFAH, APA KABAR KAUM TUA SEKULER RADIKAL ?


Oleh : Nasrudin Joha

Saya ingin membahas hasil survei ini untuk memotret masa depan kaum muda yang optimis dengan masa depannya vs kaum tua yang sudah ringkih, tertatih, berusah untuk terus tegak dan mendongak mempertahankan ambisinya yang telah mencapai titik diujung ajal.

Kaum muda milenial adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar), tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari "baby boom echo" umumnya tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II.

Kaum Millennial sangat menentukan wajah Indonesia ke depan. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) ada 63 juta millennial, atau penduduk usia 20 - 35 tahun. Mereka ada di usia produktif. Besarnya jumlah penduduk millennial saat ini dapat menjadi tantangan dan peluang bagi Indonesia, terutama bagi target Indonesia menembus status negara berpendapatan tinggi di tahun 2045 dan memberikan standar kehidupan yang lebih tinggi bagi masyarakat.

Merujuk definisi diatas (dikutip dari Wikipedia dan Bappenas), tentu orang-orang seperti Luhut B Panjaitan, Abdullah Mahmud Hendropriyono, Wiranto, Megawati, SBY, Mahfud MD, Tri Sutrisno, Ma'ruf Amien, Syafi'i Ma'arif tidak masuk golongan milenial. Meskipun kumpulan orang gaek ini tiap hari berusaha bergaya milenial, melototin HP, main tweeter, Facebookan, jadi YouTuber, mereka semua tetap bukan milenial. Mereka adalah barisan kaum tua yang sebentar lagi berpamitan dari dunia ini.

Karena itu, meskipun barisan kaum tua hari ini begitu sekuler dan radikal, sangat anti pada khilafah, ingin terus melestarikan demokrasi warisan Montesque, tetap saja mereka akan dimakan usia dan selesai. Masa depan mereka tinggal menunggu hari perhitungan, semestinya orang-orang ini lebih banyak meluangkan waktu untuk berdzikir sebagai bekal di hari tua, bekal menghadap yang maha kuasa.

Sementara kaum milenial ? Itu jelas generasi Nasjo. Generasi yang masih produktif, energinya dinamis, langkahnya masih panjang, tingkat demografinya paling tinggi, dan jelas paling peduli terhadap politik. Apalagi pasca era digital, era sosial media, kelompok milenial ini paling menentukan corak politik dan masa depan negeri ini.

Sebaran kaum milenial juga luar biasa, hampir di semua lini dan profesi ada. Pengusaha, advokat, akademisi, para ustadz, calon bahkan ulama muda, petani, nelayan, mahasiswa, pelajar, mereka semua masuk kategori kaum milenial. Apa jadinya jika kaum milenial ini sudah menghendaki khilafah ?

Apa yang muncul di benak anda ketika membaca hasil survey IDN Research Institute dalam chapter Keagamaan, Nilai dan Tradisi ini yang belum lama ini merilis angka 19,5 % kaum milenial rindukan khilafah ?

Ini jelas MADECER bagi Indonesia, Madecer maksudnya masa depan cerah. Selama ini, dibawah kendali kaum tua, dibawah kendali Luhut B Panjaitan, Abdullah Mahmud Hendropriyono, Wiranto, Megawati, SBY, Mahfud MD, Tri Sutrisno, Ma'ruf Amien, Syafi'i Ma'arif, Indonesia mengalami MADESU. Maksudnya, masa depan suram.

Survey IDN ini menjadi penanda, bahwa Indonesia layak menjadi Madinah kedua, tempat kembali berdirinya Daulah Islam, tempat kembalinya kekhalifahan Islam, kembalinya daulah khilafah Rasyidah ala minhajin Nubuwah.

Memang benar, tak ada satupun hadits yang menyebut rinci tempat bermulanya kekhilafahan ala minhajin Nubuwah. Bisyaroh Nubuwah hanya menceritakan bahwa Syam (Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania), akan kembali menjadi pusat pemerintahan Islam.

Melihat begitu masifnya opini khilafah di negeri ini, karakter terbuka umat Islam Indonesia yang menolak kekerasan, karakter demografi dan geografi Indonesia, karakter militer Indonesia, sangat berpotensi menjadi titik awal berdirinya Daulah khilafah. Setelah khilafah tegak di negeri ini, maka visi politik luar negeri pertama dan utama Khalifah kelak adalah jihad untuk membebaskan Palestina.

Saat Palestina telah dibebaskan tentara khilafah yang berasal dari negeri timur, saat wilayah syam telah dikuasai Khalifah, mudah saja bagi Khalifah untuk memindahkan pusat kekuasaan negara Islam dari nusantara menuju Palestina (Syam). Hal ini, sama mudahnya ketika Rasulullah SAW memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Madinah ke Mekkah pasca Fathul Mekkah.

Karena itu wahai generasi milenial Indonesia, wahai generasi penerus perjuangan Muhammad Al Fatih, Generasi Sholahudin Al Ayyubi, generasi Khalid Bin Walid, generasi Thariq bin Ziyad, Cucu-Cucu Sultan Abdul Hamid II, putra terbaik kaum muslimin, segera tegakan khilafah di negeri ini, wujudkan Nubuwah Nabi SAW, dan segeralah pergi menuju Medan jihad untuk menaklukan kota Roma. Lupakan saja generai tua itu, para penyembah berhala demokrasi, kaum sekuler radikal.

Dengan hukum alam (Qouniyah), otomatis tampuk kekuasan akan berpindah ke pundak-pundak kalian. Karena itu, layakan diri kalian untuk menyongsong Nasrulloh, menerima tahta sebagai generasi penegak Daulah khilafah Rasyidah yang kedua. [].

Post a Comment for "IDN RESEARCH : 19,5% MILENIAL INGINKAN KHILAFAH, APA KABAR KAUM TUA SEKULER RADIKAL ?"