Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Korelasi ekonomi dan politik


Berikut disajikan realita pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2004 hingga 2019:

SBY Periode 2004-2009
2005: 5,6%
2006: 5,5%
2007: 6,3%
2008: 6%
2009: 4,6%

SBY Periode 2009-2014
2010: 6,2%
2011: 6,2%
2012: 6%%
2013: 5,6%
2014: 5,02%

Jokowi 2014-2019
2015: 4,88%
2016: 5,02%
2017: 5,05%
2018: 5,17%
2019: 5,05% (prediksi BI)

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi 34 provinsi yang ada di Indonesia? Gak usah tanya cebong, gak usah pula bertanya dengan kampret. Karena jawaban mereka gak bakal objektif. 

Buka aja website Badan Pusat Statistik (BPS). Provinsi mana yang pada tahun 2018 pertumbuhan ekonominya diatas 6%? 

Di pulau Sumatera, ditahun 2018 hanya Sumsel yang mengalami pertumbuhan ekonomi diatas 6%. Terlepas dari segala kontroversi, Alex Nurdin bisa dibilang berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat Sumsel. Tak heran kalau saat Pileg kemarin ia bisa menang mudah dari dapil II Sumsel dengan perolehan 145.622 suara.

Di pulau Jawa, hanya DKI Jakarta dan DIY yang berhasil menembus angka pertumbuhan ekonomi dikisaran 6%. Anies Baswedan dan Sri Sultan Hamengkubuwono X sekiranya layak diberi apresiasi atas capaian ini. 

Pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata nasional terjadi di pulau Sulawesi. Dalam 3 tahun terakhir, seluruh provinsi di pulau Sulawesi berhasil mencatatkan angka pertumbuhan diatas 6 hingga 7%. Sulawesi Selatan luar biasa, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. 

Maluku Utara dan Papua, mengalami lonjakan pertumbuhan ekonomi cukup signifikan diantara provinsi lainnya. 

Bagaimana dengan provinsi di pulau Kalimantan? Hanya Kalteng yang dalam 3 tahun terakhir ini mengalami pertumbuhan ekonomi stabil diatas 6%. Ini sekaligus menjadi indikator, bahwa pasangan Sugiyanto Sabran dan Habib Said Ismail terbilang sukses menjaga ketahanan ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah. 

Bali mantap! NTT stabil, sedangkan NTB dibawah kepemimpinan TGB, ternyata hancur-hancuran.

Provinsi mana yang paling tinggi kontribusinya terhadap perekonomian nasional? 
DKI Jakarta 17,34%
Jawa Timur 14,61%
Jawa Barat 13,09%

Suka tidak suka, data makro berbicara seperti itu. Dan pertumbuhan ekonomi dalam suatu wilayah biasanya akan menjadi indikator awal untuk mengukur tingkat kepuasan publik terhadap kinerja seorang gubernur atau presiden. 

Namun hal itu bukan satu-satunya faktor yang berperan dalam politik. Anies Baswedan terbukti bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di DKI diatas rata-rata nasional. Tapi cebong ahoker mana mau tahu hal itu. Dimata mereka, Anies tetap dianggap sebagai  gubernur yang tak becus bekerja. Sama halnya dengan Sugiyanto Sabran gubernur Kalimantan Tengah sekarang. Gara-gara tertangkap kamera sedang ngamuk dan melempar botol dari tribun VVIP, ia lalu dianggap sebagian netizen sebagai gubernur preman kampungan. Ditingkat nasional lebih absurd lagi, Jokowi yang dalam 5 tahun terakhir ini nyata-nyata gagal meningkatkan pertumbuhan ekonomi, masih saja dipuja-puji. 

Begitulah ekonomi dan politik. Dua hal yang berkaitan erat, namun tak serta merta berkorelasi dengan elektabilitas seorang politikus. Karena mayoritas pemilih di Indonesia tipikal melankolis. Data makro diabaikan, memilih calon pemimpin lebih karena faktor emosional. (BZH)

Post a Comment for "Korelasi ekonomi dan politik"