Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cinta Nabi Cinta Syariah Cinta Sikapnya


Oleh : Derosi

Masih dibulan Robiul Awal, bulannya kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad SAW. Sosok penuh pesona bagi segenap insan kawan maupun lawan. Segenap mahluk jika dikumpulkan seluruhnya tidak bisa menandingi kehebatannya. 

Diantara para Nabi dan Rosul beliaulah yang terakhir, tidak akan ada Nabi dan Rosul setelahnya. Namun dihadapanNya beliaulah yang paling utama. Tidak akan masuk surga nabi-nabi kecuali Nabi Muhammad dan umatnya masuk sebagai pembuka. MasyaAllah makin bangga serta bahagia kita terlahir sebagai umatnya. 

Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya. Semua kelebihan ada padanya. Kepribadiannya tanpa cela, tanpa dosa. Risalah yang dibawa sangat sempurna. Penyempurna risalah-risalah nabi sebelumnya. 

Ketika kita umat islam sedang larut dalam belajar mencintai sosok mulia, Nabi Muhammad SAW Al Mustofa. Muncul seorang wanita dari umatnya yang lancang dengan pongah berkata "siapa yang berjuang di abab 20, yang mulia Nabi Muhammad atau Ir. Soekarno?" bagai tanah kering yang tersiram air hujan, kita bangkit karena merasa perkataannya itu merendahkan kemuliaannya. 

Satu sisi saya berterimakasih kepada wanita itu, melaluinya saya tambah meyakini begitu mulianya Nabi kita. 1400an tahun yang lalu, saat ajal sudah dekat dihadapan Nabi, beliau rela, ikhlas, menangis mengasihi nasib umatnya. Beliau mengasihi umat yang tidak henti-hentinya mencela. Beliau menangisi nasib kita semua. Bahkan saat merasa sakit dicabut nyawa, beliau berujar "timpakan sakit sakarotul maut umat kepadaku" MasyaAllah. 

Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya. Risalah paripurna sudah cukup membawa alam semesta berjalan dalam adil sejahtera. Itulah ajaran islam, mengatur segala urusan manusia. Teratur, tertata, rapi, dan mengandung banyak hikmah kebaikan bagi yang menjalankannya. 

Bagaimana Nabi menghukum para penista agama? 

Presiden yang jauh dari sempurna, yang masih banyak bohong dan tidak adilnya juga dibela dengan aturan khusus. Pencelanya dapat sanksi hukuman 4.5 tahun. Lalu bagaimana pencela sosok manusia mulia? 

Tentu Nabi adalah berakhlaq mulia, sifat pemaafnya sangat besar.  Lihat kisah Bangsa Thoif yang masih ada hubungan darah dari Ibunya. Ketika mereka mengusir dan melempari batu dengan kejam, beliau mengutamakan kemaafan dan mendoakan kebaikan. 

Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama syafiiyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabi adalah bunuh, sebagaimana hukuman bagi orang yang menghina mukmin lainnya berupa cambuk.

Syekh Abdurrahman As Saadi menafsirkan Surah At Taubah ayat 65-66, Menghina Allah, ayat-ayat dan Rasul-Nya, adalah penyebab Kekafiran, pelakunya keluar dari agama Islam (murtad). Karena agama ini dibangun di atas prinsip mengagungkan Allah, serta mengagungkan agama dan RasulNya. Menghina salah satu diantaranya bertentangan dengan prinsip pokok ini. (Tafsir Al Karim Ar Rahman, hal. 342)

Memaafkan adalah bagian pertama akhlaq mulia, tapi dengan maaf tidak otomatis menghapus dosa kesalahan yang telah diperbuat. Sang penista tetap diberlakukan dengan hukum yang ada. 

Memaafkan tanpa menunaikan keadilan hukum belumlah sempurna mecintai Nabinya. Sebab syariah sudah mengatur sedemikian rupa. Hukum akan menjaga tatanan umat manusia. Hukum akan memberikan efek menentramkan bagi sesama. Sebab tidak akan ada lagi manusia-manusia yang berbuat tercela memancing kemarahan umat. 

Mencintai Nabi Mencintai Syariahnya

Post a Comment for "Cinta Nabi Cinta Syariah Cinta Sikapnya"