Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CINTA BUTUH PEMBUKTIAN: Ojo Amung Lamis!


Oleh : Katana Suteki

Menarik sekali pernyataan Moeldoko sebagaimana diwartakan oleh  CNN Indonesia tanggal 17 Oktober 2019. Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mempertanyakan fungsi organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) di Indonesia. Menurutnya Islam dan Tuhan tak perlu dibela.

Pernyataan Moeldoko berawal dari pertanyaan peserta kuliah umum Tantangan Ketahanan Nasional Masa Kini. Sang peserta bertanya kepada Moeldoko apakah faktor agama mempengaruhi stabilitas negara Indonesia seperti terjadi di negara-negara Timur Tengah lewat fenomena Arab Spring. Pertanyaan Moeldoko ini menurut saya perlu untuk dikritisi secara terbuka karena bila dibiarkan juga ada kemungkinan buruk yaitu munculnya pemikiran apatis terhadap perjuangan umat, khususnya umat Islam dalam menjaga kemurnian akidah dan akhlaknya sekaligus dapat bermuamalah dengan sesama umat manusia. Kesesatan berpikir dan bertindak boleh jadi akan dialami oleh sebagian umat Islam yang pemahaman agamanya masih dangkal. Benarkah Tuhan tidak perlu dibela? Ini bukan pertanyaan yang umum dan dangkal tetapi pertanyaan yang khusus dan mendalam, bahkan pertanyaan pantas hanya dipertanyakan oleh seorang sufi.

Anda masih ingat sebuah buku yang merupakan kumpulan pemikiran Kyai Abdurrahman Wahid  atau yang dikenal dengan sebutan Gus Dur?

Buku ini bertitel:

"TUHAN TIDAK PERLU DIBELA"

Bila sepintas kita pahami makna judul buku itu, pasti kita akan terjebak pada pemahaman yang menisbikan apa pun  namanya perjuangan dalam agama, khususnya Islam. Islam sebagai agama sempurna meliputi segala bidang kehidupan manusia, tidak terbatas pada aspek ibadah dalam arti yang sempit (ritual), melainkan hukum-hukumnya mengatur bidang ideologi, budaya, ekonomi, sosial, politik serta pertahanan dan keamanan suatu negeri. 

Hukum-hukum yang digunakan bersumber dan kembali kepada wahyu Alloh (Al Quran) dan sunnah Nabi (hadist). Alloh memang yang akan menjamin kemurnian Al Quran dengan caranya, tetapi secara hukum Alloh seringkali jaminan Alloh itu juga melalui perantara mahluknya dengan cara Alloh mengutus mahluk tersebut untuk memerangi setiap upaya yang merusak kemurnian wahyu-Nya. Cara itulah yang kini kita kenal AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR. Jadi, tidak cukup seseorang itu sesongah bahwa dirinya sudah sholeh, beriman, berislam melainkan WAJIB HUKUMNYA setiap diri yang mengaku beriman, berislam dan beramal sholeh itu menegakkan ajaran dan kemurnian wahyu Alloh. 

Secara langsung memang Alloh tidak membutuhkan pertolongan mahluk-Nya karena Alloh maha segalanya. Apa arti mahluk di depan sang Maha Kuat Perkasa? Tidak ada gunanya! Hanya Alloh sendiri yang memerintahkan kepada orang yang beriman supaya "MEMBELA AGAMA ALLOH". Hal ini tidak berarti Alloh lemah, tetapi Alloh ingin MENGUJI hambanya, mana-mana yang taat kepada-Nya dan mana-mana yang "MUNG LAMIS", omong doang, kakehan cangkem, alias "nggedebush" plus berwatak munafikun. Alloh itu pingin bukti kita, bukti yang bukan hanya ada di BATHIN tetapi bukti yang juga bisa DIINDERA secara lahir. Ingat bahwa ibadah kita sahaja tidak cukup dibathin, tetapi harus diucapkan dan juga disertai dengan "laku", aktivitas fisik. 

Apakah Anda membayangkan seandainya Alloh, dlm hal ini agama Alloh---tidak perlu dibela, mungkinkah Rasulullah mengalami sebanyak 27 kali perang? Menurut Anda, buat apa perang waktu itu dilakukan? Untuk gagah-gagahan, agar disebut sebagai HERO? Tidak kan? Itulah cara seorang hamba membuktikan dharma baktinya kepada sang Khalik,  bukti kesetiaan untuk sami'na wa atho'na. Saya mendengar dan saya menaati, bukan "saya mendengar wa "pikir-pikir"! Alloh juga meragukan keimanan kita dengan bertanya: "Apakah Engkau Akan Dibiarkan begitu saja mengatakan bahwa engkau telah BERIMAN sedang datang UJIAN kepada kalian?" Paham kan hingga sekarang ini bahwa Allohlah yang menyuruh supaya kita bergerak mendakwahkan ajaran-Nya termasuk "MEMBELA" agama itu bila dinistakan, bila diremehkan, bila diinjak-injak oleh orang yang jahat. Maka, negara kita pun sebagai nation religious state juga berusaha untuk melindungi agama ini dari penistaannya. Kita bisa menemukan di KUHP Pasal 156a, misalnya. 

So, masihkah Anda ragu untuk membuktikan kepatuhan dan kecintaan Anda kepada Alloh dalam beragama melalui AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR? Masih ragu? Mari kita koreksi diri, apakah akidah dan al arkan iman dan Islam kita sudah kita jalankan betul apa belum. Kalau sudah, mengapa kita "nyinyir" bila ada kelompok Islam yang berjuang dalam rangka melindungi agama dengan al muayyad berupa dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Alloh ingin bukti cinta kita itu melalui syariat yang telah ditetapkan dengan petunjuk dalam Al Quran dan Hadist. 

Jadi, kesimpulannya: "AGAMA ALLOH PERLU DIBELA"!

Tabik...!!!

Post a Comment for "CINTA BUTUH PEMBUKTIAN: Ojo Amung Lamis!"