Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

REKTOR PECAT MAHASISWA, DEWANTARA MENANGIS, NASIB PENDIDIKAN MENDEKATI TUBIR


by Roky al Maroky

Bagai disambar geledek musim panas siang bolong. Terus terang penulis kaget dengar kabar ada rektor pecat mahasiswanya tanpa ada kasus pidana. Pemecatan mahasiswa IAIN Kendari an. Hikma Sanggala (HS) itu menambah panjang deretan warga kampus yang dikriminalisasi di zaman rezim Jokowi. 

Apalagi kali ini dilakukan oleh Rektor IAIN Kendari Prof. Faizah Binti Awad yang berjenis kelamin perempuan. Ya, seorang ibu yang semestinya punya naluri keibuan mendidik dengan penuh kasih sayang. 

Seorang ibu yang mestinya merasa hancur hatinya, menangis jika ada anak yang gagal dalam pendidikan. Tak terbayangkan perasaan sang ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya. Disusui dan disuapi penuh kasih sayang dengan harapan kelak bisa sekolah dan kuliah sehingga punya masa depan cerah. Namun cita mulia itu harus dihadang keangkuhan tandatangan pemecatan sang ibu Rektor. 

Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Apa karena kursi dan posisi yang dimilikinya, sehingga seorang ibu jadi tega menandatangani Surat Pemecatan? Konon HS termasuk mahasiswa cerdas dan berprestasi. Bahkan pernah meraih IPK 3,91 yang merupakan terbaik di fakultasnya dan kini sedang menyusun skripsi. 

Bukankah wajar jika orang cerdas itu kritis. Berani kritis itu menunjukkan jiwa merdeka seperti yg dicitakan Ki Hajar Dewantara.

Mestinya seorang ibu bangga punya anak berprestasi dan berani, tinggal dibimbing dan diarahkan agar sukses. 
Bukan malah mengunggah dalih karena HS aktifis yang kritis dan terpapar aliran sesat. Aliran yang mana, apa sudah dibuktikan MUI atau institusi berwenang? Apakah sang ibu sudah merasa gagal dan tak mampu lagi berfikir mencari solusi untuk membimbing dan membina anak itu agar bisa berhasil menyelesaikan pendidikannya? 

Dari peristiwa pemecatan oleh ibu Rektor itu nampaknya kita mesti menatap kaca benggala pendidikan kita. Setidaknya ada 4 hal penting pada dunia pendidikan di negeri ini.

_Pertama,_ Sistem pendidikan semestinya dirancang dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa yang merdeka. Inilah yang diinginkan bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Menurut beliau, tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang MERDEKA. 

Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah. Ia berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib.

Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang MUDAH DIATUR, tetapi TIDAK DAPAT DISETIR. Ini seperti kumpulan jamaah sholat yang mudah diatur rapi hanya dengan satu komando imam. Tapi mereka akan kritis dan menegur jika imam salah. 

Dulu Ki Hajar Dewantara khawatir dengan kondisi pendidikan Indonesia di bawah bayang-bayang kolonialisme Belanda. Beliau sangat khawatir, pendidikan menghasilkan orang pintar dan punya keahlian tapi tak memiliki jiwa merdeka.

Sistem Pendidikan kolonialisme menghasilkan orang yang pintar dan ahli tapi tak berjiwa merdeka. Pintar tapi tak berani menyuarakan kebenaran. Konon lagi berani mengoreksi kesalahan atasan, apalagi berani mengoreksi pemimpin negerinya. 

Apa yang dikhawatirkan Ki Hajar Dewantara, nampaknya kini terjadi? Secara fakta, kini semua lini pendidikan sudah dikelola oleh bangsa Indonesia. Namun apa yang dikhawatirkan itu terjadi juga. 

Kini banyak Mahasiswa pintar tapi tak berani menyampaikan kebenaran. Ia takut dipecat. Ia tak berani mengoreksi kesalahan masyarakat, kesalahan dosen apalagi kesalahan rektor dan pemimpin negara meski itu tak sesuai hati nurani dan ilmunya. 

Banyak mahasiswa pintar tapi lebih memilih diam dan cari selamat jika berbeda dengan dosennya. Apalagi berbeda dengan pimpinan kampus, apalagi berbeda dengan pimpinan negari ini. 

Ya, mahasiswa takut di pecat, dosen takut dipecat, Rektor juga takut dipecat Menteri, menteri takut dipecat presiden. Apakah ini yang dimaksud belum merdeka?

Jika ini yang benar-benar terjadi maka apa yang dikhawatirkan Ki Hajar Dewantara sudah menjadi kenyataan. Tentu ia akan bersedih bahkan menangis jika ada mahasiswa tak berani menyuarakan kebenaran menurut hati nurani dan ilmunya. Apalagi hanya karena takut dipecat.

Di sisi lain, mungkin ia akan pingsan jika tahu yang justru memecat mahasiswa kritis itu bukanlah dosen dan rektor asing tetapi justru orang pribumi sendiri. Sesama anak negeri ini yang saling tega untuk menecat. Apalagi jika tahu yang memecat itu seorang Ibu yang mestinya membimbing anaknya agar sukses.

_Kedua,_ Pendidikan hanya dinikmati segelintir anak negeri. Dulu di jaman Ki Hajar Dewantara, pendidikan hanya dirasakan oleh kalangan priyayi. Sementara masyarakat bumiputera tidak dapat mengecap pendidikan. Kini penjajah Belanda sudah tidak ada tapi pendidikan kini masih ada semangat kolonialisme. 

Pendidikan kini juga hanya bisa dinikmati oleh orang yang punya duit. Bagi rakyat yang tak berduit maka tak bisa kuliah karena mahalnya biaya pendidikan dan biaya hidup lainnya.

_Ketiga,_ Ki Hajar Dewantara menawarkan sistem mengajar yang dinamakan sistem among yang menyokong kodrat alam anak-anak didik, bukan dengan perintah dan larangan, tetapi dengan TUNTUNAN dan BIMBINGAN. Dengan begitu, perkembangan batin anak tersebut dapat berkembang dengan baik sesuai dengan kodratnya.

Inilah yang jadi semangat kongres taman siswa pada tahun 1947. Ada lima asas yang dikenal dengan panca darma. Kelima asas tersebut adalah: Asas Kemerdekaan, Asas Kodrat Alam, Asas Kebudayaan, Asas Kebangsaan, dan Asas Kemanusiaan. 

Lalu atas dasar asas yang mana seorang rektor memecat mahasiswa? Asas kemerdekaan atau asas kemanusiaan? Yang jelas pemecatan itu mencederai rasa kemerdekaan apalagi rasa kemanusiaan.

_Keempat,_ Pelaku pendidikan terpapar mental kolonial. Tak hanya sistem pendidikan yang masih terpapar kolonialisme. Ternyata pelaku pendidikan pun masih ada yang belum berjiwa merdeka. Bahkan di level pejabat pendidikan.

Ada menteri yang ingin mengimpor rektor asing hanya karena para rektor saat ini gagal memimpin kampusnya masuk rangking 200 dunia. Logika ini tentu berbahaya jika diterus-teruskan. Jika rektor gagal lalu mau impor rektor asing, bagaimana dengan menteri yang gagal memimpin para rektor itu? Apakah harus juga impor menteri? Kalau diteruskan lagi, bagaimana dengan pemimpin yang gagal memilih dan memimpin menteri yang gagal memimpin rektor tadi, apakah juga harus di impor? 

Mental kolonial di dunia pendidikan harus segera diakhiri. Nasib dunia pendidikan sudah mendekati tubir. Jika diteruskan maka peneidikan hanya menghasilkan orang pintar tapi tak merdeka. Orang pintar yg tak bermoral.

Tak boleh lagi ada mahasiswa yang dikriminalisasi dan dipecat karena suara kritisnya. Apalagi ada dosen yang dikriminalisasi oleh rektor hanya karena suara kritisnya yang sesuai hati nurani dan keilmuannya. 

Kaum intelektual harus terus melakukan kajian untuk mencari sistem pendidikan terbaik yang bisa mencetak manusia unggul, berjiwa merdeka dan bertaqwa. Tinggalkan sistem sekuler dan watak kolonialisme.

Nasihat untuk para rektor yang sudah melakukan kezaliman agar segera bertobat sebelum terlambat. Segera cabut SK yang terkategori Zalim, karena jabatan itu cuma sebentar dan harus dipertanggungjawabkan di dunia sampai akhirat. Gunakanlah jabatan untuk berbuat amal sebaik-baiknya.

 Kepada para mahasiswa dan dosen agar jangan takut menyuarakan kebenaran yang sesuai nurani dan keilmuannya. Jika ada kezaliman maka harus dilawan dengan argumentasi secara intelek, tak perlu pakai kekerasan. [].

Post a Comment for "REKTOR PECAT MAHASISWA, DEWANTARA MENANGIS, NASIB PENDIDIKAN MENDEKATI TUBIR"