Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liberalisme Tumbuh Subur di Negeri Demokrasi


Oleh :  Ahmad Sakhroni

The santri, film yang diperankan oleh anak seorang ulama ternama dan para vokalis shalawat, film yang diinisasi PBNU melalui NU Channel yang bekerja sama dengan sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng ini dimaksudkan untuk menepis faham radikalisme sekaligus mengenalkan toleransi ke tengah-tengah masyarakat.
film ini diwarnai adegan pacaran dan membawa tumpeng ke gereja atas nama toleransi.

Usai beredar trailernya, film tersebut mendapat sambutan "sengit" dari masyarakat, banyak kalangan menilai film tersebut kontroversial, tidak sesuai dengan budaya santri yang sesungguhnya, banyak pelanggaran syariat. Diduga kuat film tersebut sebagai alat propaganda kaum liberal dan sekular, untuk memasarkan ide-ide barat ke tengah tubuh umat islam, wa bil khusus ke pesantren-pesantren.

Kontroversi yang ditebar film tersebut terus menuai polemik, berbagai pandangan disampaikan, termasuk dari para alim ulama. Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), Hanif Alathas, KH Luthfi Bashori, pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, Jawa Timur, serta ulama-ulama lainnya menyerukan untuk tidak menonton film tersebut, karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang akrab disapa Buya Yahya, Menyampaikan pesan lewat tayangan video bahwa film ini sangatlah liberal, bertentangan dengan syariat Islam dan tidak mencerminkan akhlak santri yang sesungguhnya.

Liberalisme agama sesungguhnya muncul dari Barat karena menyoal problematika agama Kristen yang menjadi agama terbesar di Barat. Mereka berupaya membebaskan diri dari agama (Kristen) dan doktrin-doktrinnya melalui liberalisasi pemikiran. Di antara problematika Kristen yang menjadi sebab munculnya liberalisasi pemikiran keagamaan adalah karena: pertama, karena sejarah Kristen yang penuh dengan konflik; kedua, teks Bibel yang banyak mengandung kontradiksi dan ketiga teologi Kristen yang tidak rasional.

Berkembangnya paham liberalisme di Barat ini, diekspor ke negeri-negeri kaum Muslimin, termasuk ke Indonesia, melalui berbagai jalur dengan menyasar kaum muda dan intelektual, diantaranya dengan beasiswa pendidikan, desain kurikulum, bantuan penelitian, penerbitan jurnal sehingga melahirkan akademisi liberal. Masih hangat dalam ingatan kita peristiwa "disertasi zina" yang menghebohkan dunia akademisi, disertasi yang bercorakan pemikiran liberal tersebut mendapat predikat cumlaude. karena banyak kritik dan memimbulkan kegaduhan, kemudian ditarik untuk diperbaiki.

Liberalisme juga sudah berlangsung lama dan tumbuh subur di para pemangku kekuasaan, sehingga mengakibatkan Banyak aturan dan kebijakan-kebijakan liberal diadopsi negeri. Di tangan rezim liberal kapitalis, satu persatu aset negara jatuh ke tangan asing. Dulu di era Suharto , tambang emas di Papua digadaikan, di era pemerintahan Megawati, negara kehilangan aset seperti Indosat,  kapal tanker Pertamina. Tidak jauh berbeda dengan kepemimpinan sebelumnya, kini di era Jokowi, kebijakan dan aturan-aturan ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, sosial, budaya sarat dengan nuansa liberalisme, sehingga mengakibatkan kehidupan rakyat semakin terhimpit.

Ibarat virus, pemikiran liberal ini sangat berbahaya dan mematikan bagi umat Islam. Dalam “dosis rendah”, virus ini dapat membuat umat Islam ragu dengan ajaran Islam yang mereka anut. Dalam “dosis sedang” bisa menjadikan seorang Muslim menolak syariah Islam. Dalam “dosis tinggi” bahkan dapat membuat seorang Muslim membenci ajaran Islam dan pada saat yang bersamaan mengagumi dan memuja peradaban Barat.

Tersebarnya liberalisme di tengah-tengah umat ini terjadi karena umat hidup dalam sistem demokrasi. Prinsip kebebasan dalam demokrasi menyuburkan pemikiran-pikiran kufur, Sistem demokrasi juga dipimpin oleh para pemimpin yang mengkhianati amanah Allah dan Rasul-Nya dengan menyampingkan syariah Islam dalam mengatur urusan umat. Mereka tidak menjalankan fungsi sebagai junnah (perisai) akidah umat dan malah menjadi penjaga sistem Jahiliah tersebut.

Karena itu kita wajib mengupayakan penegakan syariah Islam secara kâffah. Caranya adalah dengan membaiat seorang khalifah untuk menjalankan fungsi ri’âyah (pengaturan urusan umat) dengan hukum syariah, dan menegakkan fungsi junnah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه

Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu perisai; orang-orang akan berperang mendukung dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya (HR Muttafaq ’Alayh).

Sifat junnah dalam hadis ini tidak terbatas dalam peperangan semata, tetapi berkonotasi pula sebagai pelindung dari kezaliman dan penangkal dari keburukan sebagaimana dijelaskan _al-Hafizh Ibnu al-Atsir (w. 606 H)_. Mencegah invasi pemikiran-pemikiran Liberal, Sekuler, atheis dan pemikiran-pemikiran kufur lainnya adalah salah satu upaya menghilangkan bentuk kedzaliman tersebut. Wallahu'alam [].

Post a Comment for "Liberalisme Tumbuh Subur di Negeri Demokrasi"