Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KETIKA ALLAH MENGGUGAT!

Oleh: Nurfitrianti Vivi

Merespon pertemuan Ki Joko Bowo... 
Saya sama sekali tidaklah kaget... 
Saya sama sekali tidaklah merasa tersakiti... 
Saya sama sekali tidaklah kecewa... 

Karena apa? 
Karena AQIDAH, karena mabda ISLAM yang telah meliputi fikrah dan thariqah inilah yang membuat saya tak perlu kaget, tak perlu merasa sakit, pun tak perlu ada kecewa... 
Tidak, Bambank!

Entah pada peringatan ke berapa... 
Entah lewat lisan siapa... 
Entah dari tulisan apa...
Jangan berhenti menyadarkan umat akan kebathilan sistem demokrasi...

Apa yang salah?
Bukankah pilpres kali ini kita justru merasakan adanya nafas - nafas perjuangan untuk menegakkan Islam?
Di mana hasil kampanye yang dilakukan dengan merapatkan barisan shaf - shaf shalat malam dan tahajjud di jantung ibu kota?
Bagaimana bisa hasil ijtima' Ulama tidak menjadi pertimbangan ALLAH untuk memenangkan do'a - do'a?

Renungkanlah sekali lagi wahai saudaraku seperjuangan walau tak sejalan, saya tau dan saya menyaksikan bagaimana gigihnya kalian berjuang dan bertanding masuk ke dalam sistem (yang katanya) tujuannya untuk menegakkan hukum Islam. Apa saya bangga atas kekalahanmu? Tidak, sungguh tidak. Sebab dibalik kegagalanmu menaklukkan parlemen, kalian sudah berhasil menampakkan kebobrokan demokrasi dihadapan Umat sebenarnya. Sebab kekalahanmu adalah lagi - lagi membuktikan bahwa demokrasi tidak akan memberikan ruang bagi pejuang Islam untuk menguasai istana negara.

Kenapa ALLAH tidak mengabulkan do'a - do'a yang terpanjat di sepertiga malam? Bukankah itu bagaikan panah - panah yang melesat menembus ke langit bahkan tanpa tabir? 

Belajar dari kisah Nabi Musa alaihissalam ketika bani israil mengalami kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, semua tumbuhan mati, dan krisis air bersih. Yang saat itu Umat Nabi Musa meminta agar Nabi berdo'a kepada ALLAH meminta hujan dan menurunkan pertolonganNYA. Lalu dikumpulkanlah 70 ribu penduduk bani israil di lapangan untuk berdo'a bersama meminta hujan. Namun apa yang terjadi? Hujan tak kunjung turun. Umat pun bertanya - bertanya. Ada apa wahai Nabi Musa? Bukankah setiap do'a Nabi itu dikabulkan ALLAH?

Kemudian Nabi Musa bertanya kepada ALLAH, wahai ALLAH mengapa Engkau tidak menurunkan pertolonganMU pada kami? ALLAH menjawab, wahai Nabi Musa sesungguhnya diantara kalian ada satu orang yang bermaksiat kepadaKU selama 40 tahun, makanya AKU menunda mengabulkan do'a kalian.

Nabi Musa kemudian menyampaikan kepada umatnya, wahai umatku sesungguhnya ALLAH tidak menurunkan pertolonganNYA sebab diantara kita ada satu orang yang bermaksiat kepada ALLAH selama 40 tahun, tunjukkanlah dirimu, keluarlah dari barisan dan bertaubatlah segera kepada ALLAH.

Karena orang tersebut malu, maka ia pun berdo'a dalam hati kepada ALLAH dan bertaubat "wahai ALLAH sesungguhnya akulah yang berbuat maksiat itu, maafkanlah hamba, ampunilah hamba, terimalah taubat hamba, dan tutuplah aibku".

Maka setelah itu, ALLAH pun menurunkan hujanNYA. Nabi Musa kemudian berkata, wahai ALLAH mengapa Engkau menurunkan hujan? Sementara tak seorang pun keluar dari barisan ini? ALLAH menjawab, wahai Nabi Musa bagaimana mungkin saya menampakkan aib hambaKU yang sudah bertaubat. Sesungguhnya ia telah bertaubat kepadaKU dan meminta agar AKU menutup aibnya, makanya AKU turunkanlah pertolonganKU pada negerimu.

Apa hubungan pilpres pesta demokrasi dengan kisah Nabi Musa? 

Pertama: Pertolongan ALLAH tidak turun disebabkan karena maksiat yang dilakukan oleh satu orang saja. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa sistem demokrasi tidak berasal dari ISLAM dan bukan sistem yang diperintahkan ALLAH. Dan orang yang tidak berhukum pada hukum ALLAH merupakan tindakan kemaksiatan yang nyata kepada ALLAH (Baca: QS. Al Maidah: 44, 45, 47, dan 50)

Kedua: Orang tersebut bermaksiat kepada ALLAH hanya selama 40 tahun saja sudah menghambat turunnya pertolongan ALLAH. Sekarang, mari kita hitung sudah berapa tahun Indonesia menggunakan sistem yang tidak berasal dari hukum ALLAH? Dari tahun 1945 - 2019, sudah 70 tahun lebih Indonesia bermaksiat kepada ALLAH. 40 tahun saja ALLAH tidak menurunkan pertolonganNYA dan hanya satu orang, apatah lagi 70 tahun lebih dan tentu tidak dari satu orang saja yang melakukan maksiat yang dilahirkan dari sistem bathil demokrasi ini.

Saya tidak mengatakan bahwa pejuang parlemen sedang bermaksiat kepada ALLAH, tetapi marilah kita menyadari bahwa kemaksiatan, zina, pergaulan bebas, korupsi, pembunuhan, persekusi, dan semua yang terjadi merupakan esensi dari sistem demokrasi yang digunakan selama ini. Dan kita sepakat bahwa sistem demokrasi adalah sistem bathil, lalu kenapa kita tidak bisa sepakat untuk 'murtad' dari sistem yang bathil ini?

Sebelum bertanding saja, kita sudah tau siapa pemenangnya, sekalipun suara rakyat berpihak kepada yang benar, namun ternyata lagi - lagi ALLAH menampakkan bahwa suara terbanyak bukan penentu kebenaran. Karena sejatinya kebenaran hanya ditentukan pada 'suara' ALLAH (hukum ALLAH, penj.). Tak ada keadilan selama hukum ditangan manusia. Itulah kenapa Rasulullah tidak meneladankan umatnya untuk masuk ke sistem pemerintahan Abu Lahab.

Apalagi yang kalian tunggu dari ALLAH untuk ditampakkan? Haruskah ALLAH menggugat? Menggugat kita yang tak mau tunduk pada aturanNYA demi sebuah 'kursi' yang fana?

#vivoice 49
#vivideo 17
VivisuaLove

Post a Comment for "KETIKA ALLAH MENGGUGAT! "