Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apakah Islam Penyebab Krisis Timur Tengah?

Islam Penyebab Krisis Timur Tengah?

Seseorang menulis di fb seperti ini, " Irak yang notabene negara Islam hancur porak poranda. Demikian juga dengan Suriah, Libya, dan Afghanistan. Semuanya adalah Islam dan semuanya porak poranda oleh perang saudara. Dengan kondisi seperti itu, apakah anda masih menganggap Islam itu solusi?"

**************

Tanggapan:

1. Sepintas kalimat-kalimat di atas saling berkaitan dan membentuk satu kerangka berpikir yang kelihatannya benar. Padahal, banyak logical fallacy (kesalahan logika) yang dibawa dari semua pernyataan di atas. Premis bahwa negara-negara Islam itu porak poranda oleh perang saudara dan premis Islam sebagai solusi, sesungguhnya tidak ada kaitan sama sekali. Bahkan, ada kesan simpulan--yang ditampilkan dalam bentuk pertanyaan di atas--sangat dipaksakan untuk menjadi pendapat akhir. Dari aspek keruntutan berpikir, jelas cara berpikir di atas adalah satu dari sekian bentuk pembodohan, yang sayangnya belum sampai tingkatan dewa.

2. Penyebutan negara-negara seperti Irak, Suriah, Libya dan Afghanistan sebagai negara Islam pun sepertinya salah alamat. Tiga negara, Irak, Suriah, dan Libya jika menilik kepada platform bernegaranya ternyata bukanlah negara Islam. Ketiga negara Arab itu, jika dilihat dari asas pendiriannya ternyata menganut paham sosialisme. Irak dan Suriah bahkan disebut-sebut berada di bawah pengaruh Partai Ba'ats yang didirikan oleh Michel Aflaq. Saddam Hussein, setelah berhasil melakukan kudeta yang menggulingkan kekuasaan monarkhi Irak, bahkan mengatakan bahwa Michel Aflaq adalah "nabi" kedua baginya setelah Nabi Muhammad sholla Allahu alayhi wa sallam.

Kondisi yang hampir mirip juga terjadi di Suriah pasca bubarnya Republik Persatuan Arab, yang merupakan gabungan antara Mesir dan Suriah. Demikian pula dengan Libya, yang menjadikan sosialisme sebagai platform bernegara pasca tumbangnya kekuasaan Raja Idris.

Dari sejarah singkat itu saja, sudah bisa disimpulkan bahwa Islam tidak diposisikan sebagai ideologi negara di tiga negara Arab tersebut. Pasca diperkenalkannya konsepsi negara bangsa (nation state) kepada bangsa Arab, secara umum Islam tidak mendapat tempat di dalam sistem pemerintahan kecuali di Arab Saudi, Qatar, Mesir, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Bahrain. Negara seperti Yaman justru pernah terbelah oleh perdebatan ideologi sehingga ada Yaman Utara yang berhaluan komunisme dan Yaman Selatan yang berhaluan demokrasi Barat. Apakah dengan begitu Yaman bisa dikatakan sebagai negara Islam? Jawabannya tentu tidak.

3. Bagaimana dengan Afghanistan? Sejarah politik Afghanistan pada era moderen tidak menyebut Negara ini sebagai Negara Islam. Afghanistan adalah negara komunis sampai tahun 1989, yang bersekutu dengan Republik Uni Sovyet. Beberapa catatan bahkan menyebut semua presiden Afghanistan sebelum revolusi dipilih atas persetujuan Kremlin.

Persekutuan Afghanistan dengan Uni Sovyet didasarkan kepada kepentingan Uni Sovyet yang menjadikan Afghanistan sebagai pintu masuk ke Timur Tengah. Di samping juga dijadikan sebagai penyeimbang dominasi politik Amerika Serikat di wilayah Teluk.

Perang saudara yang terjadi di Afghanistan pasca Uni Sovyet, disebabkan oleh banyak faktor:

a. Intervensi Amerika yang tidak menginginkan semua faksi Mujahidin bersatu;
b. Tidak adanya kesepahaman di antara faksi Mujahidin tentang konsepsi bernegara pasca komunisme;
c. Keberadaan sisa rezim komunis yang masih mempunyai pengaruh di wilayah utara Afghanistan;
d. Campur tangan yang terlalu dalam dari Pakistan sebagai negara tetangga.

Dari situ saja, sudah bisa dibaca bahwa tidak ada saham Islam di dalam perpecahan yang terjadi di antara para pejuang Afghanistan atau Mujahidin tadi. Apakah masih relevan jika dihubung-hubungkan bahwa Islam bukanlah solusi?

4. Semua perang saudara yang terjadi di negara-negara Arab pangkalnya adalah perebutan kekuasaan. Dan itu, bukan tanpa kebetulan, terjadi setelah ide negara bangsa diakseptasi oleh bangsa Arab. Semangat kesukuan pun bangkit kembali dan mendapat angin karena ide nation state tersebut. Bangsa yang semula dipersatukan oleh ikatan agama menjadi bercerai berai ketika ide negara bangsa inheren dengan janji kemajuan dan modernisasi yang akan diraih bangsa Arab. Barangkali hanya Saudi Arabia yang agak setengah hati menerima ide nation state di atas. Pertemuan kepentingan di antara Barat dan klan al-Saud menjustifikasi penerimaan setengah hati tersebut. Dan mungkin, hanya Saudi Arabia yang menggunakan label Kerajaan ketika beberapa negara Teluk hanya menggunakan terminologi emarat untuk menunjuk bentuk negara yang mereka pilih. Seperti terlihat sama, padahal ada perbedaan kasta di situ.

5. Sejak negara-negara Arab memilih demokrasi dan negara bangsa sebagai konsep bernegara, Islam belum diberi porsi yang besar, sebagai solusi atas permasalahan bangsa Arab. Hingga hari ini konflik bangsa Arab selalu dibicarakan dan dirumuskan solusinya di meja konferensi NATO atau Masyarakat Eropa (EU).

Apakah para ulama Arab diam tidak melakukan apapun? Cuma orang bodoh yang miskin akses informasi yang percaya kepada anggapan bahwa ulama Arab tidak bisa berbuat apa-apa.

Pada sebuah acara seminar tentang prospek perdamaian di Irak yang diadakan pada tahun 2013 di Jakarta, Mufti Irak mengatakan bahwa yang tahu solusi permasalahan bangsa Irak adalah bangsa Irak sendiri, bukan orang luar Irak. Ia mengatakan bahwa terhambatnya perdamaian di Irak sampai hari ini disebabkan oleh kepentingan Amerika yang berdiri di atas kelompok-kelompok yang bertikai.

Menurutnya, kondisi itu semakin diperparah dengan ikut campurnya negara-negara Teluk yang mem-back up kepentingan Amerika. Dengan kondisi seperti itu, apakah logis jika dikatakan bahwa kondisi di Irak terjadi karena tidak ada Pancasila dan tidak adanya ormas Islam ala Indonesia di Irak ?

KH. Abdi Kurnia Djohan
10 Juli 2018 

Post a Comment for "Apakah Islam Penyebab Krisis Timur Tengah?"