Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

YANG LAIN BOLEH GAGAL, ASAL AGAMA SEMAKIN DIAMALKAN DAN BERHASIL (Gus Mujib [1967-2013], Pimpinan Pesantren Dakwah Mambaul Hikam Lumajang)



Beberapa bulan sebelum menjadi anggota, di hadapan sekitar 1500 ulama Jawa Timur dengan tegas Gus Mujib memberikan kesaksiannya tentang partai Islam ideologis internasional Hizbut Tahrir. 

“(Setelah berinteraksi dengan berbagai gerakan Islam, red) terakhir saya bertemu dengan Hizbut Tahrir. Juga sama berita yang saya dengar tentang Hizbut Tahrir ini agak miring,” ungkapnya pada Liqa Syawwal Ulama Jatim (23/9/2011) di Lapangan Pleret, Pasuruan, Jawa Timur.

Salah satu tudingan miring itu menyebutkan Hizbut Tahrir ini mu’tadzilah. Menomorsatukan akal, kalau syariah dengan akal tidak sama, akal didahulukan. “Setelah saya dekati, bertemu dengan mereka, ternyata sebaliknya,” tegas Gus Mujib. 

Karena faktanya Hizbut Tahrir benar-benar menanamkan ketakwaan kepada Allah SWT tanpa kompromi. Salah satunya kalau mau menjadi kader Hizbut Tahrir harus bersih dari riba, kalau masih pakai uang riba, ditegur terus dikeluarkan. 

“Lho gerakan lain itu tidak sampai begitu. Kalau gerakan lain, saya perhatikan itu, masih pinjam uang ke bank, pakai riba, ini, itu,”  ungkapnya.

Kader perempuannya juga begitu, kalau tidak taat syariah misal keluar rumah masih pakai minyak wangi, bisa-bisa diberhentikan. “Waduh ini serius sekali. Kami orang-orang pesantren kalau ketemu ibu nyai-ibu nyai wangi-wangi,” beber Gus Mujib. 

“Ini aneh, katanya mahasiswa (bukan santri, red),  katanya mengutamakan akal, tetapi setelah saya belajar, ternyata Hizbut Tahrir ini yang saya rasakan, satu-satunya gerakan yang sangat menyuruh kita taat syariah seratus persen tanpa kompromi.” 

Tetapi di samping itu, Hizbu Tahrir mengajak  berpikir cerdas. Di kitab awalnya di Nizhamul Islam, ditulis al fikrul mustanir (berpikir cemerlang). Beliau (Syeikh Taqiyuddin An Nabhani— pendiri Hizbut Tahrir dan penulis kitab tersebut, red) cerita ada berpikir cetek (dangkal), berpikir dalam, dan berpikir cemerlang. 

“Ternyata Hizbut Tahrir ini, yang saya rasakan, disamping mengajarkan sangat patuh kepada syariah, juga mengajak kita menggunakan cara berpikir yang cemerlang, yang cerdas,” ungkapnya. 

Kepada mantan wakil Suriah Nahdlatul Ulama (NU) Malang KH Abdul Qayyum (Abah Qayyum) dan ulama lainnya yang hadir di malam itu, Gus Mujib menyatakan, Hizbut Tahrir mengajarkan umat menjadi ulil albab, orang yang menggunakan akalnya untuk patuh kepada Allah SWT. 

“Maka saya mengajak para ulama untuk membantu, bahkan kalau bisa aktif dalam Hizbut Tahrir. Karena Hizbut Tahrir ini mengingatkan saya pada pelajaran-pelajaran yang tidak kami perhatikan saat di pesantren. Sehingga kami terpaksa buka kembali kitab-kitab kuno, seperti kitab siyasiyah (politik) karena dulu saya anggap tidak ada gunanya.” 

Ternyata ketika berinteraksi dengan Hizbut Tahrir, tidak saja Gus Mujib merasa ditarik kembali untuk belajar politik Islam, tetapi juga diajak untuk memahami fakta hari ini tentang sekularisme, kapitalisme, dan lain sebagainya. 

“Hingga akhirnya, saya kagum sekali kepada Syeikh Taqiyuddin An Nabhani, kita dengan belajar apa yang beliau arahkan, akhirnya kembali membuat kita sebagai Muslim yang percaya diri,” tegasnya.
.
.
MEMIKIRKAN UMAT

Sepulang kuliah dari Jakarta, Gus Mujib merasa bingung melihat kondisi kaum Muslimin. Agama Islam ini agama yang mulia. Umatnya umat yang paling mulia. Kitabnya kitab yang paling baik selama adanya bumi ini sebaik Alquran. Dibawa oleh nabi yang terbaik. Bahkan umat Islam kurang lebih ada satu milyar tetapi nyatanya  tidak percaya diri  untuk terikat syariah. 

Padahal selama di Jakarta ia ikut kajian tokoh liberal Nurkholis Majid di Universitas Paramadina dan dialog intensif dengan salah satu tokoh Syiah, Umar Syahab. Namun hati kecilnya tetap berkeyakinan bahwa manusia itu harus diatur oleh syariah Islam dan bangga tatkala mengamalkannya. 

Tapi fakta sebaliknyalah yang ia temukan. Ia pun mencontohkan pesantren asuhan orang tuanya dan juga pesantren lain.  “Kami lihat alumni dari pesantren bapak saya dan juga pesantren yang lain, itu tidak jauh. Umat Islam itu minder dan sepertinya tidak ada keinginan untuk menjalankan agamanya.”  

Salah satunya adalah mentradisinya santri perempuan yang melepas krudung setamat mondok. “Saya kira hanya alumni pesantren bapak saya saja. Tetapi ternyata tidak, di banyak pesantren tetapi santri perempuannya ketika pulang juga tidak berkerudung. Ada apa ini sebenarnya umat Islam?”

Ia juga pernah mendatangi salah satu pesantren  mewah di Jawa Timur. Tetapi anehnya semua santri mandinya telanjang. Dan dindingnya pun tidak ada pintunya, sehingga ketika dirinya lewat melihat puluhan santri mandi dengan telanjang. 

“Saya tanya, siapa yang merancang bangunan ini? Mereka jawab, kiayi kami sendiri, karena sebelum megang pesantren dia kontraktor,” ungkap Gus Mujib.  

Ia pun bertanya apa pelajaran yang wajib. Mereka jawab: “Yang wajib setiap ba’da ashar Fathul Qarib.” 

“Fathul Qarib? Tapi kok semua telanjang? Menambah kebingungan saya,” ungkapnya.

Ia berpikir mungkin tidak tepat cara pengajaran atau pendidikan yang diberikan, apalagi yang dilingkungan. “Maka saya ikut suatu gerakan dan gerakan yang lain, saya mengikuti prinsip dalam Alquran,” ungkapnya. 
Ia pun mengutip Alquran Surat Az Zumar ayat 18, yang artinya: “Berilah kabar gembira para hamba-Ku yang mendengarkan suatu ucapan kemudian mengikuti apa yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk Allah dan mereka adalah orang-orang yang memiliki akal.” 

Karena ayat ini, Gus Mujib yang lahir di keluarga Nahdhiyin,  mendekati orang Muhammadiyah.  Ia  juga lihat sekolah-sekolah dari kawan-kawan Muhammadiyah, ternyata juga sama, gurunya pun tidak menerapkan syariat Islam. “Jangan ngomong syariat Islam, dia kerudungi diri sendiri tidak bisa,” bebernya.

Ia juga ikut training beberapa kali di Hiadayatullah Surabaya. Ikut tabligh khuruj di pusat dakwah Jamaah Tabligh India, Pakistan dan Bangladesh. Khuruj juga ke Qatar. Bahkan ia pun bergabung dengan Jamaah Tabligh dan menjadi Amir JT Lumajang pada 1996.  

Namun, Gus Mujib tetap merasa permasalahan umat seperti benang kusut yang sulit terurai dan tidak tahu menyelesaikan akar permasalahan dari mana.

Sampailah pada 2004 ia bertemu dengan aktivis HTI Lumajang.  Aktivis yang masih mahasiswa itu menyatakan bahwa permasalahan utama umat ini lantaran tidak diterapkannya syariah Islam dalam bingkai khilafah. Mendengar itu sontak saja Gus Mujib menjawab: “Mana mungkin!”

Setelah mendengar penjelasan metode (thariqah) menegakkan khilafah sesuai yang dicontohkan Nabi yakni dengan pembinaan umat dan thalabun nusrah, Gus Mujib menjadi malu karena ternyata lebih paham mahasiswa ketimbang dirinya yang lahir di pesantren, belajar di pesantren dan mendirikan pesantren. “Masa kok cepetan mahasiswa memahami thariqah ini,” ungkapnya.

Sejak saat itu, ia sering berdiskusi dengan aktivis HTI Lumajang dan mengikuti berbagai kegiatannya dalam berbagai forum. Serta mengamati kehidupan sehari-hari para aktivisnya. Ia merasa salut, tidak ada satu pun aktivis  perempuannya yang melepas kerudung dan jilbabnya ketika keluar rumah, padahal kebanyakan dari mereka bukan lulusan pesantren.   

Ia pun terkaget-kaget ternyata untuk menjadi anggota Hizbut Tahrir itu sangat selektif tidak boleh terlibat dalam kemaksiatan, salah satunya tidak boleh berurusan dengan riba baik sebagai peminjam uang atau pun pemberi pinjaman.
.
.
BERPULANG  

Setelah delapan tahun berinteraksi, akhirnya ia pun pada 2012 ia pun diterima menjadi anggota Hizbut Tahrir.  Gus Mujib sangat rajin berdakwah, baik sebelum maupun setelah bergabung dengan Hizbut Tahrir. Kadang-kadang dikucilkan, kadang ditolak, dicerca, difitnah dituduh teroris karena sering pakai jubah dan berjenggot.

“Semua dihadapi dengan sabar, karena ia lebih mencintai Allah, Rasulnya dan berjuang dijalan-Nya, serta siap kehilangan segalanya. Motto yang sering diucapkan: Yang lain-lain boleh gagal asal agama ini semakin diamalkan dan berhasil,” ungkap Ketua HTI Lumajang Aftoni Shidiq kepada Media Umat. 

Penyakit yang dideritanya pun tidak dirasa. Hingga akhirnya diabetes yang diidapnya benar-benar kronis hingga Allah pun memanggilnya pada Senin (1/7/2013) pukul 11.15 WIB di RS Umum Haryoto Lumajang. 

Sesuai wasiatnya kepada istrinya, Nyai Hanim, Gus Mujib dimakamkan di pemakaman umum di kelurahan Jogoyudan Kecamatan Lumajang ---bukan dipemakaman keluarga---, agar keberlangsungan pondok tetap jalan dengan dijalankan oleh santri dan kerabat Gus Mujib dan dakwah harus tetap dilakukan sampai terwujudnya persatuan umat. 

Wasiat lainnya adalah putra pertamanya diminta tetap melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Gontor Tuban sampai tuntas. Sebelum meninggal pun ia tetap meminta Nyai Hanim menyimak hafalan Alqurannya. 

Pemakaman dilaksanakan pada hari itu juga ba’da Ashar. Dari sekitar 500 orang yang mengantarkannya ke makam nampak pula Aftoni Shidiq (Ketua HTI Lumajang),  Ustadz Luqman (Pemangku Markaz HT Lumajang)  tokoh masyarakat Hisyam Alkatiri dan Kyai Amroni Leces. 

Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu waj’al ahlahu min al-shabirin. Aamiin.[] 
.
.
Joko Prasetyo
Dimuat pada rubrik SOSOK Tabloid Media Umat Edisi 109, Juli 2013
.
.

BOKS
Nama : Kyai Muhammad Abdul Mujib  (Gus Mujib)
Lahir : Lumajang, 20 September 1967
Berpulang : Lumajang, 1 Juli 2013

Pendidikan : 
- Mondok di Pesantren Tebuireng Jombang (1981-1984)
  - Mondok di Pesantren Tambak Beras Jombang (1984-1985)
  - Mondok di Pesantren Lirboyo Kediri (1985-1990)
  - Pernah kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1990-1992)

Organisasi : 
-  Anggota PMII (1990) 
  - Pengurus RMI (1992) 
  - Pendiri dan Pimpinan Pesantren Dakwah Mambaul Hikam Lumajang (1992-berpulang)
  - Amir Jamaah Tabligh Lumajang (1996-2012)
  - Anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Lumajang (2012-berpulang).[] 

.
.

Joy
Dimuat pada rubrik SOSOK Tabloid Media Umat Edisi 109, Juli 2013

#HTIdiHATI
#KhilafahAjaranIslam

__________________

CATATAN 
Untuk mengetahui salah satu kiprah santrinya Gus Mujib yang inspiratif silakan baca: 

PENEBAR HIDAYAH DI LERENG SEMERU
(Gus Wahid, Aktivis HTI Lumajang)

Post a Comment for "YANG LAIN BOLEH GAGAL, ASAL AGAMA SEMAKIN DIAMALKAN DAN BERHASIL (Gus Mujib [1967-2013], Pimpinan Pesantren Dakwah Mambaul Hikam Lumajang)"