Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PRIBUMI BERMENTAL BUDAK


Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa lamanya bangsa ini dijajah oleh Belanda di antaranya disebabkan banyaknya pribumi yang bermental budak. Tanpa adanya pencerahan yang disampaikan oleh Para Pahlawan bangsa, mereka tidak akan mempunyai keberanian untuk menentang penjajah. Mereka akan tetap berada pada kondisinya yang tertindas di bawah telapak kaki Belanda.

Bayangkan, tiga ratus lima puluh tahun lamanya bangsa ini diperas oleh Belanda. Sebuah rentang waktu yang tidak sebentar. Apabila kita hitung saja dengan perjalanan hidup seseorang, maka minimalnya itu sudah lebih dari tujuh keturunan. Berarti sudah tujuh generasi negeri ini dijajah.

Lalu kemana saja rakyat Indonesia selama itu? Tidak adakah perlawanan dari mereka terhadap Belanda? Sebenarnya ada perlawanan dari rakyat nusantara terhadap penjajah, tetapi jumlahnya hanya beberapa saja. Pribumi yang acuh dengan keadaan lebih banyak daripada mereka yang lantang menggelorakan semangat perlawanan.

Mereka yang tidak peduli pada umumnya, selain karena takut melawan, juga karena mempunyai prinsip ‘Siapa saja yang menjadi pemimpin yang penting bisa bekerja. Tidak peduli apakah itu orang asing, orang kafir, yang penting bisa memimpin.’ Apalagi dibuktikan bahwa Belanda mampu membangun infrastruktur berupa transportasi kereta api dan jalan raya.

Begitulah mental budak yang ada pada sebagian pribumi di masa lalu, yang membuat penjajah bisa bertahan lama mencengkeram Indonesia. Lebih-lebih, sebagian dari mereka ada yang menjadi pegawai Belanda, menjadi demang, yang diberikan tunjangan hidup olehnya. Tidak peduli Belanda itu asing, kafir, yang penting ia sudah diberi pekerjaan oleh mereka.

Saya tidak tahu, seandainya rakyat Indonesia yang saat ini hidup  ditempatkan pada suasana penjajahan (fisik) dahulu, mereka akan berada di kubu siapa. Apakah di kubu Pangeran Diponegoro yang berani menentang kebijakan-kebijakan Belanda, atau justru di kubu penjajah, dengan alasan tidak apa-apa Belanda kafir juga, yang penting bisa bekerja.

Terlebih lagi, Belanda pada saat itu sudah mencengkeram kuat  sebagian Keraton-keraton di nusantara sebagai pemerintahan yang sah bagi pribumi. Andai orang Indonesia yang saat ini diposisikan pada zaman itu, adakah di antara mereka yang berani menentang kerajaannya, atau justru mereka bersikap lembek dengan alasan bahwa biar bagaimanapun juga Raja-raja itu adalah ulim amri yang sah dan wajib ditaati.

Semua itu adalah imajinasi saya, yang terpantik dari sebuah realita, bahwa saat ini pun banyak orang yang tidak peduli dengan aturan kepemimpinan dalam Islam. Tidak masalah seseorang kafir ataupun bukan, yang penting bisa bekerja maka ia akan mendukungnya. Tidak peduli aseng, asing atau bukan, asalkan bisa memberi modal maka ia akan memuliakannya.

Seperti itulah mental budak yang menjangkiti sebagian pribumi. Tidak berani menentang, apalagi melawan. Asalkan masih bisa makan, masih bisa ibadah, siapapun pemimpinnya, kafir, asing, aseng ataupun bukan, maka ia akan menjadi kacung setianya. Andai saja dahulu negeri ini semua rakyatnya semacam itu, saya yakin Belanda tidak akan pernah hengkang seperti sekarang ini.

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 13 Februari 2019

Post a Comment for "PRIBUMI BERMENTAL BUDAK"