Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PLAYBOY-PLAYBOY POLITIK


Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Senin kemarin, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto bertandang ke kantor PBNU. Beliau bercengkerama mesra dengan Said Aqil Siradj selaku Ketum PBNU, dan dengan para pengurus pusat NU lainnya. Banyak hal yang dibicarakan oleh Prabowo dengan para petinggi NU, di antaranya adalah mengenai Islam Nusantara. 

Ketum Partai Gerindra itu mengaku setuju dengan gagasan Islam Nusantara yang saat ini sedang diperjuangkan oleh Said Aqil dan teman-temannya, bahkan turut pula mendukungnya. Jelas, ini bertentangan dengan sikap dari mayoritas simpatisan Prabowo yang begitu tegas menolak ide Islam Nusantara, karena terbukti hanya menjadi kamuflase dari gerakan Islam Liberal.

Terang saja, para pendukung Prabowo yang notabene adalah alumni aksi 212 terkaget-kaget dibuatnya. Bagaimana mungkin sosok idolanya berpelukan mesra dengan seorang tokoh yang seringkali mencemooh gerakan aksi 'Bela Islam' mereka. Gawe puyeng iki, jal.

Walaupun bagi saya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Saya tau betul, dalam sistem politik demokrasi semua tidak ada perkawanan dan perlawanan yang abadi, yang ada hanyalah lobi-lobi kepentingan para politisi. Basi.

Para penganut Islam Nusantara sendiri begitu bahagia dengan kedatangan Prabowo di kantor PBNU, apalagi beliau juga sempat memuji-muji NU dengan menyatakan, bahwa NU dengan gagasan Islam Nusantara'nya merupakan ormas Islam yang sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Pada momen inilah yang paling berharga bagi kaum liberal, mereka men-screenshoot pernyataan Ketum Partai Gerindra itu untuk diviralkan di banyak media, agar menjadi amunisi baru bagi mereka ketika menghadapi orang-orang Prabowo yang anti dengan Islam Nusantara.

Mereka berujar, "noh, Prabowo saja mencintai dan mengakui eksistensi NU, juga siap untuk memperjuangkan Islam Nusantara bersama NU, masa iya para pendukungnya tidak." Begitulah kira-kira nyanyian mereka yang kini sudah mulai terdengar di telinga.

Mungkin mereka tidak tau, padahal bukan hanya NU (yang rajin tahlilan dan sholawatan) yang dipuji-puji oleh Prabowo, tetapi kelompok-kelompok Islam lain yang berbeda paham dengan NU pun dipuji-puji oleh beliau. Prabowo juga pernah memuji-muji FPI yang notabene anti dengan ide Islam Nusantara.

Terlalu kege'eran apabila dikira hanya NU yang dibilang cinta oleh Prabowo, wong ke Muhammadiyah yang anti tahlilan saja beliau juga bilang cinta. Karakter para politisi memang seperti itu, di hadapan ormas Islam yang anti dengan kemaksiatan, demi cinta, ia berjanji akan menutup semua tempat-tempat kemaksiatan, tetapi di hadapan orang-orang yang suka dengan kemaksiatan, demi cinta, ia pun berjanji akan memperjuangkan semua apa yang mereka inginkan. Begitulah gaya mereka.

So, jangan kege'eran! Memang seperti itulah para politisi di negeri ini, pragmatis dan oportunis, semua dibilang cinta demi menikmati raupan suaranya semata. Mirip dengan laki-laki playboy, tidak ada ketulusan cinta di dalam hatinya, semua perempuan dibilangnya cinta, demi memuaskan hawa nafsunya belaka. Ketika sudah terpuaskan, dengan begitu mudahnya mereka meninggalkan dan mencampakkan.

Mau kamu digituin ?
Na'uudzubillaah

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 18 Juli 2018

Post a Comment for "PLAYBOY-PLAYBOY POLITIK"