Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Khutbah jum'at

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَتُهُ

اْلحَمْدُ لِلّه ، اْلحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَعَدَّ لِلْمُتَّقِيْنَ جـَنَّاتَ النَّعِيْمِ ◽ أَشْهَدُ اَنْ لآاِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، الْغَفُوْرُ الرَّحِيمْ ◽ اِلٰهَنَا وَاِلٰهَ كُلُّ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيمْ ◽ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّدِيْقُ الْوَعْدُ الْأَمِينْ ◽ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، حَبِيْبِ رَبِّ الْعَالَمِينْ ◽ وَعَلَي آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَفْضَلُ الصَّلاَةِ وَ أَتَمُّ التَّسْلِيمْ ◽ أَمَّا بَعْدُ : فَيَآعِبَادَ اللهْ . . . اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَي اللهِ خَالِقِ الْأَنَامْ ◽ قَالَ اللهُ تَعَالَي: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ◽ يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ . وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ◽

Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yg Dimuliakan Allah . . .

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kenikmatan kepada kita semua yang tiada terhingga, terutama nikmat terbesar dalam hidup kita berupa iman dan Islam yang masih dan akan kita jaga dan pelihara agar ia dapat menghantarkan kita kepada kemuliaan hidup  di dunia dan juga di akhirat kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-Nya yang sholeh, dimasukkan ke dalam surga-Nya serta meraih kenikmatan terbesar bagi penduduk surga yakni memandang wujud Allah Swt.

Alhamdulillah pula kita ucapkan kini kita telah berada di permulaan bulan Sya’ban, dua minggu kemudian kita akan memasuki nishfu sya'ban. Dan dua minggunya lagi, kita akan memasuki bulan suci bulan penuh berkah bulan Ramadhan.

Atas semua nikmat yang banyak Allah limpahkan kepada kita maka hendaknya sebagai hamba-Nya kita harus bersyukur.

Wujud syukur seorang hamba disamping dengan hati dan lisannya dengan berucap “Alhamdulillah” adalah dengan melakukan ketaatan dan beribadah kepada-Nya. Maka mari berusaha sekuat tenaga agar kita senantiasa berada dijalan ketaqwaan; patuh terhadap hukum-hukum-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Jamaah Sholat Jum’at yang Dirahmati Allah . . .

Salah satu kenikmatan Allah yang perlu kita ingat dan syukuri adalah kenikmatan berupa kesehatan. Rosululloh Saw bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu, lalai dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Imam Bukhari)

Sebab sehat maka kita bisa menghadiri sholat jum’at, sebab sehat pula kita bisa bekerja dan beraktifitas lainnya. Mungkin kita kurang menyadari bahwa mata, telinga, hidung, gigi yang normal adalah nikmat dari Nya, sudahkah kita menyukurinya.

Coba kita bayangkan seandainya kita buta, tuli atau saat kita sakit pilek atau sakit gigi barulah kita merasakan nikmat-nikmat tersebut disaat nikmat itu dicabut. semalam kita bisa tidur dengan nyenyak adalah nikmat-Nya karena jika kita susah tidur (insomania namanya) sangatlah tersiksa.

Namun, bagaimana jika kita sakit. Tentunya kita pernah sakit atau malah sedang sakit? Apa yang kita rasakan saat jatuh sakit? Terasa tidak enak badan? Sulit tidur? Apa saja yang telah kita lakukan ketika sakit?

Sakit merupakan sunnatullah, ketentuan dari Allah yang ditimpakan kepada umat manusia.  Sakit dan musibah yang menimpa seorang mukmin pasti mengandung hikmah yang merupakan saluran rahmat, kasih sayang Allah Swt.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW mengatakan bahwa sakit merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya. Karena ketika sakit itulah Allah SWT mengutus empat malaikat secara khusus untuk menjenguk manusia. Tidak hanya sekedar melihat, malaikat ini melakukan hal yang justru akan membuat manusia bersyukur diberi musibah sakit tersebut.

Dari sahabat Abi Umamah al Bahili Ra, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda,

اِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ اَمَرَ اللّٰهُ تَعَالٰى الْمَلَائِكَةَ اَنِ اكْتُبُوْا لِعَبْدِيْ اَحْسَنَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِى الصِّحَّةِ وَالرَّخَاءِ

“Ketika seorang hamba mukmin sedang sakit, Allah yang Maha Luhur memerintah kepada para malaikat untuk menulis amal-amal baik yang dilakukan di waktu sehat dan bugarnya (sebagai balasan atas ujian) yang Allah timpakan untuk hamba-Nya”.

Dalam hadist yang lain Rasulullah juga bersabda

اِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ وَالْأَمَةُ مُؤْمِنَةُ بَعَثَ اللهُ تَعَالَي اِلَيْهِ اَرْبَعَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ قَبْلَ الْمَرَضِ

“Ketika seorang hamba dan budak yang mukmin akan diuji Allah SWT dalam sakitnya, Allah SWT memerintahkan empat malaikat sebelum hamba mukmin tersebut menderita dalam sakit

Malaikat Pertama, Allah SWT memerintahnya untuk mengambil kekuatan hamba tersebut. Dan ketika hamba tersebut sedang sakit, dia tidak mempunyai daya dan kekuatan, daya tahan tubuhnya semakin menurun, dia hanya mampu membujurkan badan di atas ranjang, bahkan terkadang untuk berjalan pun harus meminta pertolongan orang lain.

Malaikat Kedua, Allah SWT memerintakannya untuk mengambil nafsu makan dalam dirinya, sehingga ketika hamba tersebut sedang sakit, dia tidak memiliki selera untuk menelan makanan seperti biasanya.

Malaikat Ketiga, Allah SWT memerintahkannya untuk mengambil nur di wajahnya, sehingga ketika hamba tersebut sedang sakit, wajahnya terlihat pucat dan tak berseri seperti di waktu sehatnya.

Malaikat Keempat, Allah SWT memerintahkannya untuk mengambil dosa-dosanya, sehingga dia bersih dari dosa-dosa yang dia lakukan semasa sehatnya (dosa yang berhubungan dengan Allah SWT).

Ketika Allah SWT menghendaki hamba mukmin tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya, Allah SWT memerintah kepada malaikat pertama, kedua, dan ketiga untuk mengembalikan apa yang telah mereka ambil dari hamba tersebut.

Tetapi, Allah tidak memerintahkan kepada malaikat keempat untuk mengembalikan atas apa yang dia ambil dari hamba tersebut.

Malaikat keempat kemudian bersujud dan bertanya “Wahai Tuhanku, kami adalah keempat malaikat yang menjalankan perintah-Mu, kemudian Engkau memerintah mereka untuk mengembalikan apa yang mereka ambil dari hamba-Mu, sedangkan Engkau tidak memerintahku untuk mengembalikan apa yang sudah aku ambil ?”

Allah SWT pun menjawab,

لاَيَحْسُنُ مِنْ كَرَمِي اَنْ آمُرَكَ اَنْ تُرَدَّ ذُنُوْبَهُ بَعْدَ مَا اَتْعَبَتْ نَفْسُهُ فِي الْمَرَضِ، فَيَقُوْلُ الْمَلَكُ يَارَبِّ اَيُّ شَيْءٍ اَصْنَعُ بِهَا

“Tidak pantas bagi kemulian-Ku untuk memerintahkanmu mengembailkan dosa-dosa hamba-Ku setelah Aku persulit dia dalam sakitnya !”.

Malaikat keempat pun bertanya kembali kepada Allah SWT “Wahai Tuhanku, apa yang harus aku perbuat dengan dosa-dosa itu ?”.

فَيَقُوْلُ لَهُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ اذْهَبْ وَاطْرَحْهَا فِي الْبَحْرِ

Kemudian, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat keempat untuk membuang dosa-dosa hamba tersebut ke lautan.

Hadirin yang dimuliakan Allah …

Bagaimana sikap kita saat ujian itu datang, itu bisa menjadi cerminan kedewasaan spiritualitas/keagamaan kita. Apakah kita mampu menyikapi sakit yang kita derita dengan sikap yang positif atau sebaliknya.

Bagaimana sikap kita terhadap sakit yang kita alami, semuanya akan berdampak terhadap sakit fisik yang kita derita.

Bila kita tidak sabar dan menyadari bahwa sakit itu sebagai ujian atau teguran dari Allah dan hati kita dipenuhi dengan seribu keluh kesah sebagai bentuk sikap ketidakterimaan kita terhadap ketentuan-Nya maka hati kita tersebut adalah hati yang sakit (qolbun mariidl) maka hal tersebut justru akan menambah sakit fisik yang kita derita.

Sebaliknya manakala kita menyadari bahwa sakit yang sedang kita derita adalah salah satu bentuk ujian atau teguran atas kealpaan kita akan karunia-Nya dan kekhilafan sikap kita kepada Allah atau kepada sesama makhluknya, lantas kita bersabar menerima qodlo qodar-Nya maka kita berarti telah bisa mendulang pahala atas sakit yang kita derita, dan bergugurlah dosa-dosa kita.

Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, yang insya Allah dengannya akan membantu kita menyikapi sakit yang ditimpakan kepada kita agar senantiasa tetap bersabar dan bahkan mensyukurinya, diantaranya adalah dengan memaknai bahwa,

=>Sakit itu dzikrulloh.
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

=>Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

=>Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.

=>Sakit itu jihad.
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya di jalan Allah.

=>Sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit yang sama.

=>Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar.

=>Sakit itu mustajab doa.
Bahkan Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan olehnya..

=>Sakit itu memperbaiki akhlak dan penggugur dosa.
Kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

Rosululloh shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

قال الله تعالى: إِذَا اِبْتَلَيْتُ عَبْدِي اْلمُؤْمِنَ فَلَمْ يَشْكُنِي إلِىَ عُوَّادِهِ أَنْشَطْتُهُ مِنْ عِقَالِي ثُمَّ أَبْدَلْتُهُ لَحْمًا خَيْرًا مِنْ لَحْمِهِ وَدَمًا خَيْرًا مِنْ دَمِهِ وَيَسْتَأْنِفُ اْلعَمَلَ

“Allah mengatakan: Apabila Aku memberikan cobaan kepada hambaKu yang beriman, dia tidak mengadukan/mengeluhkan penyakit yang dideritanya kepada orang yang mengunjunginya, maka Aku lepaskan dia dari sakit itu, kemudian akan Kuganti dengan daging yang lebih baik dari dagingnya dan darah yang lebih baik dari darahnya, lalu dia memulai amalan yang baru (kesalahan yang lalu telah terhapuskan)”.

Maka dari hadits tersebut di atas, sering kita jumpai keadaan seseorang yang berubah menjadi lebih baik dibanding sebelum sakit. Sebab Allah telah mengganti darah dan daging si sakit menjadi darah baru sehingga mudah baginya untuk melaksanakan, memulai amal ibadah kembali. Demikian ini tentunya terdapat bagi mereka yang sabar menerima ujian yang Allah timpakan kepadanya dan sanggup memaknai sakit dengan sabaik-baiknya.

Ma’asyiral Muslimin .. ..

Dalam Islam sejatinya sakit itu adalah tanda kasih sayang Allah. Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji ketangguhan dan kemampuan, Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan daya tahannya.

Bukankah Allah telah berfirman,

لاَ يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا

Bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Dan mungkin saja sakit kita akan menjadi jalan bagi Allah untuk memberi batas akhir masa hidup kita dan itu artinya telah habislah kesempatan bagi kita untuk beramal sholeh sebagai bekal kehidupan kita di alam keabadian. Maka selagi kehidupan masih ada pada diri kita; walau dalam kondisi sakit- maka beribadahlah, sholat tidak boleh ditinggalkan tapi rukhsoh, keringan diberikan kepada yang sakit, tetap harus berdzikir dan beramal sholih serta bertaubatlah atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat sehingga jika sakit menjadi jalan kematian bagi kita semoga kita dalam keadaan khusnul khotimah.

Lantas jika Alloh memberi kesembuhan kepada kita maka itulah karunia-Nya yang harus disyukuri, sanjungkan pujian kepada-Nya yang masih memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, meninggalkan keburukan amal dan menambah pundi-pundi amal sholih kita. Pergunakan dan jangan sia-siakan sisa hidup yang masih Alloh berikan kepada kita.

قُلْ اِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

     بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ .
     وَنَفَعَنِي وَ اِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
    وَ تَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، وَاِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Post a Comment for "Khutbah jum'at"