Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BERPIKIR PANJANG

Mendengar kata Jepang, orang biasanya terbayang teknologi tinggi yang sangat presisi. Kesan ini bukan hal yang keliru karena produk teknologi Jepang memang menguasai pasar internasional, termasuk Indonesia, seperti mobil, sepeda motor, produk elektronika, dan lain sebagainya. Tidak seperti poduk-produk negara lain, ciri yang menonjol adalah kualitasnya dan standarnya yang sangat baik, serta tidak gampang rusak. Dengan produk-produk teknologi tinggi tersebut, orang biasanya memiliki kesan bahwa orang Jepang itu sangat cerdas. Jangankan orang Jepang asli, sekedar orang Indonesia yang sekolah di Jepang langsung serta merta dianggap sebagai orang cerdas.

Benarkah orang Jepang itu cerdas-cerdas? Benarkah teknologi itu segala-galanya bagi Jepang? Apa yang membuat Jepang seperti itu? Lalu, bagaimana dengan orang Indonesia dan umat Islam?

Tulisan ini akan sedikit memberikan gambaran tentang hal tersebut. Namun, ini hanya gambaran subyektif dari penulis yang mengamati secara parsial, bukan dengan penelitian yang mendalam menggunakan sampel yang cukup, lalu hasilnya dianalisis dengan statistik. Tidak. Tulisan ini hanya gambaran atas apa yang dilihat dan dialami penulis.

******
Mengatakan bahwa orang Jepang sangat cerdas, tidak sepenuhnya benar. Sama seperti Indonesia, di Jepang ada orang yang sangat cerdas, ada orang yang biasa saja, bahkan ada orang yang bisa dikatakan tidak cerdas. Di Jepang ada orang sehat juga ada orang sakit, ada orang normal juga ada orang cacat. Profesi orang Jepang juga sangat beragam layaknya orang Indonesia, ada peneliti, ada guru, ada pedagang, ada kasir, ada sopir, ada petugas keamanan, ada petugas kebersihan, ada petani dan lain sebagainya.

Benarkah teknologi itu segala-galanya bagi Jepang?

Bagi mereka teknologi juga bukan segala-galanya. Teknologi itu mereka jadikan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan, dan menjadi alat untuk meningkatkan daya saing dengan bangsa-bangsa lain. Mereka memang terus berusaha meningkatkan kualitas sains dan teknologi, namun teknologi itu bukan segala-galanya.

Dalam aktivitas sehari-hari, bahkan terkadang mereka tidak menggunakan teknologi tinggi. Jika kita selalu menggunakan mobil atau motor untuk transportasi, orang Jepang bahkan banyak yang menggunakan sepeda onthel. Di universitas, mayoritas mahasiswa menggunakan sepeda onthel, dan hanya sedikit sekali yang menggunakan sepeda motor. Jika menggunakan sepeda motor, itu pun biasanya motor kuno (mungkin tahun 80-an atau 90-an) dengan CC (volume silinder) yang kecil. Bahkan sepeda motornya polisi adalah motor bebek kuno, mungkin produksi tahun 80-an, seperti motor yang dipakai dalam film warkop (Dono-Kasino-Indro). Demikian pula mobil, di Jepang mayoritas memiliki CC kecil, menggunakan plat warna putih. Sangat jarang di jalanan Jepang ada mobil dengan CC besar seperti Kijang, Fotuner, Alphard, dan lain sebagainya. Bahkan seorang teman berkata, kalau ingin liha produk mobil mewah terbaru jangan di Jepang, tetapi di jalanan Indonesia.

Yang lebih menarik di Jepang ternyata bukan teknologinya, tetapi kehidupan sosialnya. Di Jepang kejahatan boleh dikata tida ada, atau sangat rendah. Hampir-hampir tidak ada penipuan, pencurian, mengambil sesuatu yang bukan haknya, mengganggu orang, dan lain sebagainya. Di Jepang, jika kita naik bus umum, kita tak akan menemukan Pak Kondektur. Yang ada hanya Pak Sopir. Bagaimana jika kita mau bayar? Kita tidak memberikan uang ke Pak Sopir, tetapi memasukkan ke kotak persis seperti jika kita memasukkan amal jariyah di Masjid. Di bus sudah ada tarif sesuai jaraknya, dan kita tingga memasukkan sesuatu tarif tersebut. Lalu bagaimana jika ada yang bayarnya kurang atau memanfaatkannya? Ternyata hampir tidak ada yang menipu meskipun tidak ada yang melihat.

Mengapa mereka tidak menipu, padahal mereka bisa melakukan tanpa ada yang melihatnya? Jawabnya adalah karena mereka berpikir jangka panjang. Mereka berpikir: jika kami tidak membayar sesuai tarif, maka bus akan rugi. Jika bus rugi dan tidak bisa operasional, maka kami semua yang rugi.

Di Jepang, kita tidak akan menemukan sopir yang ugal-ugalan. Bahkan sopir bus, mengemudikan bus dengan sangat hati-hati. Jika belok di pertigaan atau perempatan, mereka membelokkan bus dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Mengapa demikian? Jawabnya adalah karena mereka berpikir jangka panjang. Mereka memahami bahwa membawa banyak orang. Mereka tidak ingin mencelakakan orang lain karena kecerobohan atau ketidak-hatian mereka.

Saat bus berhenti di lampu merah, dapat dipastikan sopirnya mematikan mesin bus tersebut. Untuk apa? Ternyata hanya untuk menghemat bahan bakar. Apakah lampu merahnya lama sehingga penghematan signifikan? Waktu lampu merah sama dengan di Indonesia. Tidak lama, biasa saja. Mereka memang membiasakan berpikir dan berprilaku baik, meskipun pada hal yang kita anggap sangat kecil dan remeh temeh. Namun mereka menyadari bahwa jika seperti itu dilakukan oleh hampir semua orang, berapa penghematan yang dapat diperoleh. Itulah pola pikir mereka. Bisa dibandingkan dengan di Indonesia, berapa banyak bahan bakar yang hilang sia-sia akibat kemacetan parah oleh mobil-mobil mewah dengan CC yang super besar yang terjadi setiap hari, bahkan setiap saat?

Meski jalannya tidak ngebut dan terburu-buru, tidak ada ceritanya ada bus yang telat dan tidak sesuai jadwal. Semua berjalan sesuai degan jadwal yang ada. Bahkan jadwal bus di ada di mana-mana, di tempel di pemberhentian bus, tempat-tempat publik dan di upload di internet sehingga dapat dilihat oleh siapapun dan kapanpun. Ini tentu berbeda dengan di Indonesia, jangankan bus, pesawat saja jadwalnya bisa molor dengan berbagai alasan dan dalih.

Di Jepang, orang-orang cacat atau orang tua renta tidak takut naik bus. Bahkan orang-orang yang memakai kursi roda juga naik bus. Jika ada penumpang yang cacat, maka sopirnya turun untuk membantu menaikkan dan menurunkan penumpang.

Di jalan, kita tidak akan menemukan orang parkir sembarangan di pinggir jalan. Mengapa? Sebab menurut mereka, parkir di pinggir jalan atau bukan di tempatnya, itu bisa mengganggu orang lain yang menggunakan jalan. Bukan hanya itu, bahkan parkir sembarangan itu dapat mengacaukan lalu lintas. Tentu saja, parkir sembarangan itu merupakan aib.

Di Jepang jangan harap menemukan jalan berlubang. Setiap saat ada petugas yang mengecek kondisi jalan dan segera ditambal jika ada yang mengharuskan diperbaiki. Jalan diperbaiki tidak menunggu ada laporan, apalagi ada aksi penanaman pohon pisang di lubang jalan. Mengapa? Karena orang-orang yang diberi wewenang menjalankan wewenang dengn sebaik-baiknya. Adalah aib yang luar biasa bagi pihak berwenang, jika ada jalan yang tidak standar. Itu bukan hanya di jalan-jalan pusat kota, tetapi semua jalan yang ada.

Di Jepang, tidak ada orang berebut cepat, kecuali dalam perlombaan. Di mana pun orang antri dengan tertib. Tidak ada yang main serobot, hanya karena merasa lebih kuat atau lebih kuasa. Mengapa orang tidak mau menyerobot? Sebab mereka berfikir panjang, yaitu mereka tak mau diserobot orang, makanya mereka tidak akan menyerobot orang lain.

Di Jepang, hampir-hampir tidak ada maling, pencuri, copet, atau koruptor. Bahkan barang-barang yang hilang di jalan atau di tempat umum, jika ada identitasnya, dapat dipastikan akan kembali ke kita tanpa berkurang sedikit pun isinya. Jadi, kehidupan terasa sangat aman dan tidak diliputi was-was.

Bagaimana semua kondisi itu bisa terjadi? Kuncinya ada dua, yaitu pendidikan (baik formal maupun non formal) dan keteladanan pemimpin. Di sekolah dasar, terutama SD, anak-anak bukan dibuat pusing dengan matematika. Tetapi pendidikan benar-benar diarahkan untuk membentuk adab, moral, sopan santun, dan memahami berbagai aturan kehidupan. Nilai-nilai tersebut benar-benar ditanamkan dengan sebaik-baiknya. Orang Jepang memiliki pemahaman: yang ditakutkan bukan anaknya yang tidak bisa matematika, tetapi anaknya yang tidak bisa antri.

Ya, antri, jujur, disiplin (dan semisalnya) itu jah lebih sulit dibanding matematika yang paling sulit sekalipun!

*****
Pemikiran dan pemaham jangka panjang orang Jepang itulah yang membuat semuanya berjalan dengan tertib, harmoni dan selaras. Bahkan orang yang biasa-biasa saja juga dapat hidup dengan baik, mendapatkan hak dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Dengan pemikiran dan pemahaman inilah, Jepang mampu menghasilkan teknologi-teknolog tinggi yang membuat bangsa-bangsa lain berdecak kagum. Namun demikian, memang ada banyak kekurangan di sana sini.

Sebaliknya, berpikir jangka pendek adalah sumber kekacauan. Maling, koruptor, penipu, suka mengganggu orang dan lain sebagainya adalah contoh nyata berpikir jangka pendek. Mereka tak peduli apa yang terjadi nantinya. Pokonya ada uang dan ada kesempatan, langsung diembat. Mereka tak peduli dampaknya.

Orang-orang yang berpikir pendek juga tak peduli orang lain dan msyarakat, bahkan merek sebenarya tak peduli dirinya sendiri. Mereka hanya berpikir menang dan senang sesaat. Tak ada antrian baginya. Dia merasa berkuasa, tanpa antri pun dia bisa dapat nomer satu. Dia tak peduli kemacetan, dengan pengawalan dia mampu menendang semua orang ke pinggir jalan untuk melenggang tanpa hambatan. Dia tak peduli banjir, gunung-gunung diubah menjadi hutan beton untuk memanjakan syahwatnya. Dia tak peduli kerusakan alam, pantai-pantai dan laut disulap menjadi kawasan elit untuk memanjakan nafsu para konglomerat.

Dengan berpikir jangka pendek ini, bahkan orang-orang yang seharusnya sangat cerdas, tampak layaknya seperti orang dungu yang plonga-plongo. Di depan dan di belakang namanya berjajar huruf-huruf bukan pemberian orang tuanya (seperti Jendral, Kolonel, Prof. Dr. dr. Ir. Kyai, Haji, SH, SE, SAg, Ssi, ST, MM, MT, MSi dll) namun, prilaku dan caranya berpikir bertolak belakang dengan huruf-huruf yang menempel pada namanya. Hari-harinya diisi denan menipu dan menyusahkan orang lain. Otaknya hanya diputar untuk mencari-cari alasan. Sehingga kebodohan dan kejahatannya pun tampak sangat jelas di mata orang awam.

Berpikir pendek dan berpusat hanya pada kepentingan pribadi membuat tak punya kawan. Semua orang diposisikan sebagai lawan. Orang-orang hanya tampak sebagai kawan saat ingin meraih ambisi pribadinya. Namun, dalam waktu yang singkat, kawannya berubah menjadi lawan, saat kepentingan lainnya ingin diraih.

Singkatnya, berpikir pendek hanya akan menimbulkan kekacauan dan petaka. Dan tampaknya, inilah yang terjadi di negeri kita tercinta ini.

*****
Dari paparan di atas, tampak bahwa keunggulan Jepang muncul dari cara berpikirnya yang jangka panjang.

Lalu, seberapa panjangkah pemikiran mereka? Jawabnya: sepanjang manusia hidup. Mereka berpikir panjang agar selama hidupnya, mereka hidup dalam kebaikan. Inilah yang membuat mereka tampak cerdas.

Bagaimana setelah manusia selesai hidup? Mayoritas masyarakat Jepang, belum bisa berpikir ke arah sana. Apakah karena orang Jepang tidak akan mati? Tidak. Semua orang Jepang dan orang mana pun pasti mati, setelah hidupnya di dunia ini.

Jadi, orang Jepang itu berpikir panjang, tapi sangat terbatas. Sehingga mereka itu orang cerdas, tetapi dengan kecerdasan yang juga sangat terbatas.

Lalu siapa sesungguhnya orang cerdas yang sebenarnya?

Orang cerdas yang sebenarnya adalah mereka yang berpikir sangat panjang, bahkan setelah kematiannya. Rasulullah saw bersabda: “al-kayyisu man dana nafsahu wa amila lima ba’dal maut (orang cerdasa yan sebenarnya adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya dan berbuat untuk kemanfaatan setelah kematiannya)”.

Sabda Nabi ini adalah sesuatu yang sangat visioner. Bukan hanya kebaikan saat manusia masih hidup, tetapi kebaikan saat manusia sudah mati. Sebab, sebagaimana kita ketahui, manusia itu pasti akan mati. Sesuatu yang tidak bisa dihindari. Jadi, merupakan suatu kecerdasan yang luar biasa, jika orang mempersiapkan sesuatu yang akan terjadi, meskipun waktunya masih lama. Dan merupakan suatu kebodohan jika sesorang tidak mempersiapkan diri atas sesuatu yang pasti akan terjadi.

Jadi, semestinya orang beriman itu jauh melampaui berpikirnya orang Jepang.

Jika ada orang yang mengaku beriman, tetapi berpikir jangka pendek: suka menipu, suka mengambil hak orang lain, berbuat seenaknya, suka menggangu orang lain, suka menyakiti orang lain, dan lain sebagainya, itu hanya ada satu penjelasan: ada yang salah dengan imannya. Orang ini sejatinya orang yang tidak pernah berpikir tentang kematian dan juga tidak perah berpikir tentang sesuatu setelah kematian.

Mungkin ada yang mengatakan, tapi sholatnya rajin, puasanya rajin, jenggotnya panjang, jidatnya hitam dan lain sebagainya. Iya. Tapi semua itu mungkin hanya dilakukan dengan pemikiran jangka pendek. Yaitu agar dianggap sebagai orang baik, biar dikatakan orang beriman, biar dikatakan sebagai aktivis, biar dikatakan sebagai pembela sunnah, biar dikatakan orang sholeh, dan hal-hal jangka pendek lainnya.

Orang yang berpikir setelah kematiannya, pasti berpikir tentang kehidupannya. Oleh karena itu, orang yang mengklaim berpikir tentang kematian, tetapi tidak berpikir tentang hidupnya, pasti itu hanya kepura-puraan. Ibaratanya orang yang memahami perhitungan integral (matematika), pasti sudah beres pemahamannya tentang perkalian (matematika). Jika ada yang mengklaim paham integral, tetapi perkalian saja tidak bisa, pati itu hanya lelucon yang tak ada nilainya.

Karena itulah Rasulullah bersbda: “ad-dunya mazro’atul akhirah (dunia adalah tempat ladang akhirat)”. Artinya, dunia adalah tempat bekerja dan beraktivitas yang hasilnya di panen di akhirat. Dengan demikian, sangat tidak logis, jika pecinta akhirat tidak berbuat terbaik di dunia. Sangat masghul jika perindu akhirat menipu, korupsi, mengganggu orang, merusak alam, tidak tepat waktu, ingkar janji, menang-menangan, melupakan amanah, dan lain sebagainya.

Orang beriman pecinta akhirat jika jadi pemimpin itu seperti Umar ra. Jika malam tidak bisa tidur nyenyak, bukan karena tidak banyak hutang atau karena ada demo, tetapi karena khawatir ada rakyatnya yang kelaparan dan di akhirat nanti mengadu kepada Allah bahwa penyebab kelaparan adalah kebijakan eknomi yang dibuatnya. Bukan pemimpin yang suka jalan-jalan menghamburkan uang rakyat untuk tamasya ke bali atau tempat-tempat wisata lainnya.

Orang beriman pecinta akhirat jika jadi ilmuan itu seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Dia akan tetap berkata jujur sesuai dengan ilmunya meskipun berhadapan dengan penguasa yang bersebrangan. Sebab mereka tahu, ilmunya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt.

Jadi, tak ada ceritanya pecinta akhirat, tetapi perilakunya merusak dunia yang otomatis pasti merusak akhirat.

*****
Beripikir jangka pendek dan jangka panjang, itulah parameter kecerdasan manusia yang sesungguhnya. Semakin jauh pola pikirnya, maka semakin cerdas dia, dan sebaliknya.

Contoh paling sederhana tentang anak kecil yang sakit batuk, yang disoodori obat batuk yang pahit dan es yang enak. Kira-kira pilih mana? Adalah sangat wajar jika ada kecil itu berpikir jangka pendek, karena itulah dia dapat dipastikan akan memilih es yang rasanya enak. Dia belum bisa berpikir esuk hari, apakah dengan memilih es itu membuat sakitnya sembuh atau tambah parah. Anak kecil hanya berpikir jangka pendek. Yang penting sekarang enak, tak peduli esuk hari.

Anak SMA mestinya berpikir lebih panjang, urusan es dan obat biasanya sudah bisa memilih dengan baik. Tetapi anak SMA biasanya pemikirannya belum cukup panjang. Jika ditawarkan hura-hura bersama teman (apalagi di sana ada pujaan hati) atau belajar, kebanyakan mereka masih lebih milih hura-hura. Bagi mereka yang penting senang. Dia belum bisa berpikir 5 tahun atau 10 tahun yang akan datang. Orang tuanya yang sudah mampu berpikir 5 tahun yang akan datang, biasanya yang “cerewet” menasehati anak-anaknya yang masih selevel SMA.

Orang tua mestinya berpikir lebih panjang, urusan hura-hura anak-anak selevel SMA biasanya sudah mampu mengambil sikap dengan tepat. Tetapi banyak orag tua yang pemikirannya belum cukup panjang. Mereka memang berpikir cukup panjang sampai 10 tahun, mereka mampu melihat mobil, rumah, karir, aset, keluarga pada 10 tahun yang akan datang. Tetapi banyak diantara mereka yang belum bisa melihat apa yang terjadi 50 tahun atau 100 tahun yang akan datang.

Mungkin ada yang berkata, tak mungkin kita mengalami 100 tahun yang akan datang. Pernyataan ini justru keluar dari orang yang “maaf” sangat bodoh. Kita pasti mengalami 100 tahun bahkan 500 tahun yang akan datang. Sebab, manusia (kita semua) berjalan bersama waktu. Jika saat ini umur kita 40 tahun, maka pada tahun 2027, umur kita pasti 50 tahun. Tak mungkin pada saat itu, umur kita masih 40 tahun. Jadi, kita berjalan bersama waktu. Kita tidak bisa berhanti, apalagi berjalan mundur.

Mungkin ada yang mengatakan, bahwa saat itu kemungkinan besar kita sudah mati, nah itu pernyataan jujur dan benar. Kita pasti mengalami 100 tahun yang akan datang, hanya masalahnya kita masih hidup atau sudah mati. Namun, tidak bisa dihindari, kita pasti mengalami 100 tahun yang akan datang, meski kita sudah mati pada saat itu. Karena itu, persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk itu? Apakah saat ini, prilaku dan pemikiran kita sudah kita rancang untuk itu? Prilaku dan pemikiran kita saat ini, berdampak positif atau negatif untuk 100 ahun atau 500 tahun yang akan datang?

Jika kita belum memikirkan itu, berarti pemikiran kita memang belum cukup panjang, meskipun kita mungkin bergelar filusuf atau ahli hikmah.

Dengan demikian, perdaban Islam yang sebenarnya, merupakan peradaban yang luar biasa, jauh melampaui Jepang yang hanya dibangun dengan visi selama manusia hidup (mungkin sekitar 80 tahun).

Orang yang berpikir 5 menit yang akan datang, dia akan merasakan kebaikan pada rentang waktu itu. Orang yang berpikir 50 tahun yang akan datang, dia akan merasakan kebaikan pada rentang waktu itu. Orang yang berpikir 500 tahun yang akan datang, dia pun akan merasakan kebaikan pada rentang waktu itu bahkan lebih. Sebab, orang yang berpikir melampaui hidupnya di dunia, berarti dia telah berpikir untuk kehidupan yang selama-lamanya.

Orang cerdas adalah orang yang memiliki visi yang sangat jauh ke depan. Kata Ustadz Felix, “they can see, beyond the eyes can see”.

Wallahu a’lam.

Post a Comment for "BERPIKIR PANJANG"