Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hubungan Simbiosis Politik Dan Dakwah Para Raja Nusantara Dengan Khilafah

Hubungan Simbiosis Politik Dan Dakwah Para Raja Nusantara Dengan Khilafah

Oleh : Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Nusantara dan Khilafah saling mengenal satu sama lain. Hubungannya erat dan mesra. Jika melihat pada jejak sejarah, mustahil tak ada kontak antara keduanya.

Yang sering muncul di buku Sejarah Kebudayaan Islam adalah Islam dibawa masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan proses budaya. Sangat jarang diangkat aspek Politik yang dalam hubungan bilateral dua kawasan.

Khilafah telah banyak memberikan kontribusi kepada negeri nusantara. Dalam buku Api Sejarah jilid 1 karangan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, terdapat banyak bukti adanya hubungan para raja atau Sultan Nusantara dengan para Khalifah.

Pada abad ke-7 Masehi, Raja Sriwijaya Jambi memilih masuk Islam dan bersurat kepada Khalifah Umayyah, yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Raja itu memuji keluhuran dan keagungan ajaran Islam. Memandang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan gelar Raja Diraja.

Sang raja ingin diajari Islam namun sayang kerajaannya ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya Palembang. Walaupun sempat menghilang, hubungan Khilafah dan Nusantara terjalin lagi pada abad ke-13 Masehi.

Pada saat itu Majapahit menerima dakwah Islam. Ini dibuktikan dengan masuk Islamnya Pati Terbesar Majapahit yakni Gajah Mada (Gaj Ahmada). Ditambah dengan datangnya utusan Khilafah Usmani yakni Wali Songo semakin mengokohkan dakwah Islam di kalangan para Raja.

Para raja yang masuk Islam membuat rakyatnya juga masuk Islam. Kesultanan-kesultanan Islam pun terbentuk. Ada kerajaan Demak di Jawa pasca menurunnya pamor Majapahit.

Sunan Kalijaga termasuk Wali yang mampu menyebarkan Islam di Kerajaan Banten, Sunda dan Jayakarta. Selain itu kekuatan Khilafah Usmani yang mampu mengusir Portugis dari Aceh menguatkan Kesultanan Islam seperti Samudera Pasai, dan Kesultanan Melayu Islam baik di Sumatera mau pun di Malaka.

Sultan Tidore diakui memiliki hubungan nasab dengan Sunan Kalijaga. Kesultanan Tidore dan Ternate mampu melebarkan sayap Islam hingga ke Raja Empat Papua.

Bahkan merambah ke Nusa Tenggara Timur. Kerajaan-kerajaan pesisir pantai seperti di Alor dan Flores Timur pernah menerima dakwah Islam.

Hubungan erat pun terjalin antara Kesultanan Jogja dan Khilafah Usmani. Dalam pidatonya, Sultan Jogja, Sultan Hamengkubuwono X dalam KUII di Jogja mengakui adanya pengakuan dari Khalifah di Turki terhadap Raden Fatah sebagai pendiri Kesultanan Jogja.

Selain itu, dampak dari masuk Islamnya para raja, Islam pun diakui pengaruhnya hingga masuk ke dalam mata uang yang beredar di masyarakat. Mata uang Islam abad ke-15 dan 16 M menunjukkan gambar Damarwulan dan Lurah Semar yang tampak melalukan posisi attahiyat. Menunjukkan bahwa kehidupan seorang hamba Allah yang selalu ingat kepada Allah.

Begitu juga dengan mata uang dinar Kesultanan Goa pada tahun 1669-1674 M yang mengandung kaligrafi bahasa Arab. Mata uang perak VOC Tahun 1747 M bertuliskan huruf dan bahasa Arab. Ini menunjukkan pengaruh Islam yang sangat kuat.

Inilah sedikit gambaran betapa eratnya dakwah Khilafah yang secara langsung menyinari bumi Nusantara. Semoga hubungan keduanya bisa terulang lagi dalam sebuah bingkai Sistem Kepemimpinan Islam. []

Bumi Allah SWT, 6 Agustus 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Hubungan Simbiosis Politik Dan Dakwah Para Raja Nusantara Dengan Khilafah"