Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Rapuhnya mental hingga berujung pada hilangnya nyawa kembali menjadi perhatian serius di tengah generasi muda

Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Oleh: Syahida Hima 'Aliya | Aktivis Dakwah Kampus

Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler

Rapuhnya mental hingga berujung pada hilangnya nyawa kembali menjadi perhatian serius di tengah generasi muda. Dalam beberapa hari terakhir, publik dikejutkan oleh sejumlah kasus yang menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental dan keputusasaan di kalangan generasi muda tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pada Kamis (10/9/2026), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. RR kemudian mendapatkan perawatan medis dan dilaporkan dalam kondisi stabil. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui latar belakang peristiwa tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, publik juga dikejutkan dengan meninggalnya FS (30), seorang pria yang ditemukan meninggal di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, pada Ahad (6/9/2026). Polisi menyelidiki kasus tersebut sebagai dugaan bunuh diri. Sebelumnya, FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan diketahui memberikan donasi sebesar Rp40 juta kepada komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental.

Belum usai perhatian publik terhadap kasus tersebut, peristiwa serupa kembali terjadi. Pada Rabu (16/9/2026), seorang mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) berinisial RPA ditemukan meninggal dunia di rumah kosnya di kawasan Sukolilo, Surabaya. Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi menduga korban meninggal karena bunuh diri, sementara penyebab pasti masih dalam pendalaman.

Rangkaian peristiwa tersebut tentu tidak serta-merta membuktikan bahwa semua kasus memiliki penyebab yang sama. Setiap individu memiliki latar belakang dan persoalan yang berbeda. Namun, munculnya berbagai kasus tersebut menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan jiwa, kesepian, tekanan hidup, dan keputusasaan pada generasi muda perlu mendapatkan perhatian serius.

Generasi Muda dan Krisis Keputusasaan

Data layanan dukungan psikologis Kementerian Kesehatan melalui Healing119.id menunjukkan tingginya kebutuhan bantuan psikologis di kalangan masyarakat usia muda. Dalam periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, sebanyak 15.979 orang tercatat mengakses layanan tersebut untuk berbagai kebutuhan.

Dari jumlah tersebut, 7.600 orang melakukan konseling dan 3.036 orang tercatat menyampaikan keinginan untuk mengakhiri hidup. Dari kelompok tersebut, usia 21–30 tahun merupakan kelompok terbesar, yakni 54,08 persen, disusul kelompok usia 11–20 tahun sebesar 33,04 persen.

Data tersebut memang bukan angka keseluruhan kasus bunuh diri di Indonesia, karena Healing119.id merupakan layanan dukungan psikologis. Namun, data tersebut memberikan gambaran bahwa keputusasaan dan persoalan kesehatan jiwa cukup banyak dialami oleh kelompok usia muda.

Rapuh Tanpa Pegangan Iman

Mengapa persoalan semacam ini muncul berulang kali di tengah generasi muda? Mengapa seseorang yang secara akademik cemerlang atau secara materi berkecukupan tetap dapat mengalami tekanan jiwa dan keputusasaan?

Dalam perspektif tulisan ini, persoalan tersebut tidak cukup dilihat hanya dari sisi individu. Ada pula lingkungan kehidupan yang membentuk cara manusia memandang kehidupan, kebahagiaan, kesuksesan, dan tujuan hidup.

Penerapan sekularisme, yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan, pada akhirnya dapat melahirkan generasi yang didorong untuk mengejar keberhasilan material dan duniawi, sementara pembinaan spiritual tidak selalu mendapatkan posisi yang sebanding.

Ketika agama hanya ditempatkan pada wilayah privat dan ritual, seseorang dapat kehilangan perspektif iman ketika menghadapi tekanan hidup yang berat. Padahal, dalam Islam, manusia tidak dibiarkan memandang kehidupan hanya dari ukuran materi. Kehidupan dunia dipandang sebagai bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Akidah memberikan kerangka berpikir bahwa kesulitan merupakan bagian dari ujian kehidupan. Bukan berarti orang beriman tidak boleh merasa sedih, tertekan, atau membutuhkan pertolongan. Justru ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim diperintahkan untuk mencari jalan keluar, meminta pertolongan kepada Allah, serta menggunakan ikhtiar yang dibenarkan syariat.

Islam juga dengan tegas melarang seseorang membunuh dirinya sendiri. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS. An-Nisa: 29)

Larangan tersebut menunjukkan betapa Islam memberikan perhatian serius terhadap perlindungan jiwa. Dalam pembahasan maqashid asy-syari'ah, perlindungan jiwa dikenal dengan istilah hifzh an-nafs.

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Islam tidak hanya melarang tindakan yang menghilangkan nyawa, tetapi juga membangun cara pandang agar manusia tidak mudah terjerumus dalam keputusasaan.

Allah SWT berfirman:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak diajarkan untuk menyerah pada keadaan. Kesulitan tetap harus dihadapi dengan ikhtiar, doa, kesabaran, dan mencari pertolongan.

Kesepian di Lingkungan Kapitalistik

Selain persoalan sekularisme, tulisan ini juga melihat sistem kapitalisme sebagai salah satu lingkungan struktural yang dapat memperkuat individualisme. Dalam masyarakat yang sangat menekankan pencapaian materi, keberhasilan seseorang sering kali diukur melalui karier, pendapatan, prestasi, jabatan, kepemilikan, dan validasi sosial.

Kehidupan kemudian mudah berubah menjadi arena kompetisi. Seseorang merasa harus selalu lebih berhasil daripada orang lain. Media sosial semakin memperkuat keadaan tersebut dengan menghadirkan gambaran kehidupan orang lain yang tampak sempurna.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pula budaya toxic positivity, yaitu kecenderungan untuk menuntut seseorang selalu terlihat kuat, optimistis, dan berhasil tanpa memberi ruang yang cukup untuk mengakui kesulitan yang sedang dihadapi.

Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa dirinya harus menyelesaikan semua persoalan seorang diri. Ketika tidak mampu mencapai standar yang dibentuk lingkungan, ia dapat merasa gagal, terasing, dan tidak memiliki tempat untuk berbagi.

Padahal manusia bukanlah makhluk yang hidup sendirian. Ia membutuhkan keluarga, teman, masyarakat, dan lingkungan yang saling menguatkan.

Kelalaian Negara dalam Membina Generasi

Dalam perspektif Islam, persoalan generasi tidak hanya menjadi urusan individu dan keluarga. Negara juga memiliki tanggung jawab dalam mengurus rakyat.

Rasulullah SAW bersabda:

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna raa'in menunjukkan bahwa negara tidak sekadar menjadi pembuat aturan, tetapi memiliki tanggung jawab untuk mengurus dan melindungi rakyat.

Karena itu, pembinaan generasi tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan ketika masalah telah muncul. Negara juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya individu yang kuat secara akidah, sehat secara fisik dan mental, memperoleh pendidikan yang baik, serta memiliki akses terhadap kebutuhan dasar kehidupan.

Khilafah sebagai Pelindung Generasi

Islam memiliki konsep yang menyeluruh dalam membangun individu dan masyarakat. Pembinaan tersebut dimulai dari akidah, kemudian diwujudkan dalam sistem pendidikan, kehidupan sosial, ekonomi, hukum, hingga pemerintahan.

Dalam konsep masyarakat Islam, hubungan antarmanusia tidak dibangun semata-mata atas kepentingan materi, tetapi juga atas dasar akidah dan ukhuwah Islamiyah. Masyarakat dididik untuk saling memperhatikan, saling menasihati dalam kebaikan, serta membantu orang yang sedang mengalami kesulitan.

Dengan demikian, orang yang sedang menghadapi masalah tidak semestinya dibiarkan menanggung bebannya seorang diri. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki peran masing-masing untuk memberikan pertolongan.

Negara juga bertanggung jawab memastikan tersedianya layanan kesehatan yang memadai. Persoalan kesehatan jiwa tidak cukup diselesaikan dengan nasihat keagamaan saja. Orang yang mengalami gangguan atau krisis psikologis juga membutuhkan bantuan profesional, pendampingan, dan pelayanan kesehatan yang tepat.

Karena itu, keberadaan layanan seperti Healing119.id, klinik kesehatan mental, psikolog, psikiater, serta layanan konseling merupakan bagian penting dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat.

Namun, dalam perspektif Islam yang menjadi dasar tulisan ini, penanganan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem yang lebih luas. Pembinaan akidah, keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan negara harus berjalan secara terpadu.

Islam Membangun Generasi yang Tidak Sendirian

Krisis kesehatan mental tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan kurangnya iman, lemahnya individu, atau satu faktor tunggal. Setiap kasus memiliki latar belakang yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Namun, Islam memberikan fondasi penting: manusia memiliki tujuan hidup, kehidupan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah, jiwa wajib dijaga, dan manusia tidak hidup sendirian.

Islam membangun individu dengan akidah, membangun masyarakat dengan ukhuwah, dan menempatkan negara sebagai raa'in yang bertanggung jawab mengurus rakyat.

Dengan demikian, persoalan generasi tidak cukup diselesaikan hanya dengan meminta anak muda agar “lebih kuat”. Yang perlu dibangun adalah lingkungan kehidupan yang membuat mereka memiliki pegangan ketika menghadapi kesulitan, memiliki masyarakat yang peduli ketika mereka terjatuh, serta memiliki negara yang hadir ketika mereka membutuhkan pertolongan.

Dalam perspektif Islam, seluruh aspek tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.

Generasi yang tangguh bukanlah generasi yang tidak pernah mengalami kesedihan. Generasi yang tangguh adalah generasi yang ketika menghadapi kesulitan mengetahui kepada siapa ia harus bersandar, ke mana ia harus mencari pertolongan, dan untuk apa ia menjalani kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Catatan: Tulisan ini membahas bunuh diri dari sisi sosial, kesehatan jiwa, dan perspektif Islam. Kasus-kasus yang disebutkan merupakan peristiwa yang diberitakan media dan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan satu penyebab yang sama pada setiap individu.

COMMENTS

Name

afkar,6,agama bahai,1,Agraria,2,ahok,2,Analysis,52,aqidah,9,artikel,13,bedah buku,2,bencana,25,berita,49,berita terkini,228,Breaking News,8,Buletin al-Islam,13,Buletin kaffah,54,catatan,5,cek fakta,2,Corona,122,curang,1,Dakwah,43,demokrasi,52,Dunia Islam,2,Editorial,5,Ekonomi,204,fikrah,9,Fiqih,18,fokus,3,Geopolitik,20,gerakan,5,Hukum,95,ibroh,17,Ideologi,72,Indonesia,1,info HTI,10,informasi,1,inspirasi,32,Internasional,3,islam,192,Kapitalisme,23,keamanan,8,keluarga,55,Keluarga Ideologis,2,kesehatan,90,ketahanan,2,khi,1,Khilafah,292,khutbah jum'at,3,Kitab,4,klarifikasi,4,Komentar,76,komunisme,2,konspirasi,1,kontra opini,28,korupsi,40,Kriminal,1,Legal Opini,17,liberal,2,lockdown,24,luar negeri,52,mahasiswa,3,Medsos,5,migas,1,militer,1,Motivasi,3,muhasabah,18,Musibah,4,Muslimah,91,Nafsiyah,9,Naratif Reflektif,1,Nasihat,9,Nasional,2,Nasjo,12,ngaji,1,Opini,3784,opini islam,91,Opini Netizen,2,Opini Tokoh,102,ormas,4,Otomotif,1,Pandemi,4,parenting,5,Pemberdayaan,1,pemikiran,22,Pendidikan,137,Peradaban,1,Peristiwa,19,pertahanan,1,pertanian,2,politik,328,Politik Islam,14,Politik khilafah,1,Press Release,1,propaganda,5,Ramadhan,6,Redaksi,3,remaja,14,Renungan,5,Review Buku,5,rohingya,1,Sains,3,santai sejenak,2,sejarah,70,Sekularisme,5,Sepiritual,1,Sistem Islam,1,skandal,3,Sorotan,1,sosial,80,Sosok,1,Surat Pembaca,1,syarah hadits,8,Syarah Kitab,1,Syari'ah,47,Tadabbur al-Qur’an,1,tahun baru,2,Tarikh,2,Tekhnologi,3,Teladan,7,timur tengah,38,tokoh,49,Tren Opini Channel,3,tsaqofah,8,tulisan,5,ulama,5,Ultimatum,7,video,1,
ltr
item
Tren Opini: Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler
Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler
Rapuhnya mental hingga berujung pada hilangnya nyawa kembali menjadi perhatian serius di tengah generasi muda
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirRFQgfh-XjtYetbDhX7DSws_6g1VcNKekZHykDLmvWxXtXepZx-BkktCUsjDxqUWfNQSxa-DQMZNmCDptNrt3JIWbsHx2ZU5qd2Y6isfBXJO4hDL6K94_GL7VS8W-3TEG0FmqkaDPZMHly6Qi8C48kpkhnpTd2k7EPclLFtfgY9INWPZdSkvUspPiFBk/w640-h512/Kesepian%20di%20Tengah%20Keramaian,%20Potret%20Kelam%20Generasi%20Sekuler_.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirRFQgfh-XjtYetbDhX7DSws_6g1VcNKekZHykDLmvWxXtXepZx-BkktCUsjDxqUWfNQSxa-DQMZNmCDptNrt3JIWbsHx2ZU5qd2Y6isfBXJO4hDL6K94_GL7VS8W-3TEG0FmqkaDPZMHly6Qi8C48kpkhnpTd2k7EPclLFtfgY9INWPZdSkvUspPiFBk/s72-w640-c-h512/Kesepian%20di%20Tengah%20Keramaian,%20Potret%20Kelam%20Generasi%20Sekuler_.jpg
Tren Opini
https://www.trenopini.com/2026/09/kesepian-di-tengah-keramaian-potret.html
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/2026/09/kesepian-di-tengah-keramaian-potret.html
true
6964008929711366424
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy