Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bersegera Melaksanakan Kewajiban

Bersegera Melaksanakan Kewajiban

/ Penulis : Ustadz M Taufik NT /

Allah Swt. berfirman:

وَسَاِرعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَّبِكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Dikatakan kepada seseorang dari Bani ‘Abdul Qais, “Nasehatilah kami.” Maka ia berkata:

احذروا سوف
“Hati-hatilah dengan ‘saufa’.”[1]

Setidaknya ada dua hal yang akan terjadi ketika menunda pelaksanaan kewajiban: kematian lebih dahulu menjumpainya, atau muncul banyak hal yang membuat dia tidak bisa melaksanakannya lagi.

Ketika menafsirkan ayat:

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا
“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu” (QS. Ali Imran : 135), Sahl bin Abdullah (w. 238H) berkata:

وَالْإِصْرَارُ هُوَ التَّسْوِيفُ، وَالتَّسْوِيفُ أَنْ يَقُولَ: أَتُوبُ غَدًا، وَهَذَا دَعْوَى النفس، كيف يتوب غدا وغدا لَا يَمْلِكُهُ!
“dan ishrâr (terus-menerus berbuat keji) maknanya adalah menunda-nunda (taswîf), dan maksud menunda-nunda adalah seseorang berkata: “aku akan bertaubat besok (saja)”, dan ini adalah (sekedar) suara jiwa, bagaimana ia akan bertaubat besok, padahal besok ia tidak (bisa menjamin) memilikinya!”[2]

Rasulullah ﷺ adalah contoh terdepan dalam melaksanakan kewajiban tanpa menunda-nunda lagi. Imam Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Uqbah bin al Hârits, beliau berkata: “Suatu saat aku shalat Ashar di belakang Nabi saw. di Madinah. Kemudian beliau salam, lalu cepat-cepat berdiri, beliau melangkahi pundak orang-orang yang ada di masjid menuju ke sebagian kamar istrinya. Maka orang-orang pun merasa kaget dengan bergegasnya Nabi ﷺ . Kemudian Nabi ﷺ. keluar dari kamar istrinya menuju mereka. Nabi melihat para sahabat keheranan karena bergegasnya beliau. Maka beliau .ﷺ berkata,

ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا، فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي، فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ
“Aku teringat biji emas (zakat) yang ada padaku, aku tidak suka jika barang itu menahanku, maka aku memerintahkan untuk membagi-bagikannya.”

‘Yahbisaniy’ (menahanku) bermakna “menyibukkan pikiranku tentangnya dari bertawajjuh dan menghadap Allah Ta’ala”. [3]

Generasi sahabat–bahkan generasi setelahnya—juga menjadi contoh bagaimana meneladani Rasulullah dalam sikap bergegasnya mereka melaksanakan berbagai amal shalih.

Imam Al-Bukhâri meriwayatkan bahwa ketika turun ayat tentang perubahan arah kiblat para sahabat langsung mengubah arah Kiblat, mereka padahal mereka sedang ruku shalat Ashar.[4] Ketika para sahabat ditimpa kelaparan beberapa malam saat perang Khaibar, dan akhirnya mereka berhasil mendapatkan dan memasak keledai jinak, saat hampir masak, mereka diberitahu bahwa keledai jinak haram dimakan, maka mereka tidak jadi memakannya. [5] Rasa lapar tidak menghalangi mereka untuk bergegas menjalankan perintah Allah.

Kerugian materi juga sanggup mereka tanggung demi terlaksananya hukum Allah Ta’ala. Saat khamr diharamkan, datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah ﷺ. dan berkata, “Sesungguhnya aku menyimpan harta anak yatim lalu aku beli khamr dengan harta itu, apakah aku harus menjualnya kembali untuk mengembalikan hartanya?’ Rasulullah ﷺ. bersabda:

قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمُ الشُّحُومُ، فَبَاعُوهَا، وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا
‘Semoga Allah membinasakan kaum Yahudi, telah diharamkan atas mereka lemak, lalu mereka menjualnya dan memakan hasil penjualannya.’ Lalu lelaki tersebut berkata: Rasulullah ﷺ tidak mengizinkan aku menjual khamr” [6]

Bahkan saat itu ada sahabat yang gelas khamr sudah menempel di bibirnya, namun ketika mendengar khamr telah diharamkan, mereka segera membuangnya.[7]

Terkait menutup aurat, Siti ‘Aisyah ra. berkata:

يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ المُهَاجِرَاتِ الأُوَلَ، لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: {وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. an-Nûr: 31). Maka kaum wanita itu merobek kain mereka dan menutup kepala mereka dengan sobekan kain tersebut.”[8]

Mereka tidak menunda, apalagi mencari alasan menghindari kerudung. Itulah beberapa contoh generasi terbaik umat ini, mencontoh mereka adalah merupakan keberuntungan. Sebaliknya sikap menunda-nunda, menunggu waktu lapang, sibuk mencari alasan untuk menghindari kewajiban adalah sikap yang bukan hanya merugikan diri sendiri namun juga merupakan bentuk kebodohan diri, sebagaimana kata Ibnu Athaillah:

احالتك الأعمالَ على وجود الفَراغ من رُعُوناتِ النفس .
“Penundaanmu terhadap amal-amal kebajikan karena menunggu adanya waktu lapang, adalah sebagian dari kebodohan diri”.

Menyerah dengan menunda ketaatan, walaupun karena ada rintangan, lambat laun bisa menjatuhkan diri pada kehinaan, yakni di saat tidak ada rintanganpun Allah tidak bukakan hatinya untuk melakukan ketaatan.

الخذْلانُ كُلُّ الخذْلانِ أَنْ تَتَفَرَّغَ مِنْ الشَّواغِلِ ثُمَّ لا تَتَوَجَّهَ إلَيْهِ
“Adalah sangat hina jika engkau mendapatkan kelapangan dari segala kesibukan, namun engkau tidak menghadap kepada-Nya.”[10]

Hanya saja jika memang ada kewajiban lain yang saling berbenturan maka tidak masalah menunda suatu kewajiban, mengatur waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas untuk ia lakukan lebih dahulu. Yang menjadi masalah adalah ketika antar berbagai kewajiban tersebut sebenarnya bisa diatur agar tidak ada benturan, lalu lalai mengaturnya.

Lebih parah lagi jika masih ada waktu senggang untuk melakukan berbagai kewajiban dan kebaikan: masih sempat menghadiri halaqah, muthola’ah, dan lain-lain, lalu dia menunda-nundanya, dan malah membuat kesibukan yang tidak berguna baginya, sungguh ini adalah kerugian, bahkan bisa jadi pertanda bahwa Allah sedang berpaling dari kita. Imam Al Hasan al Bashri berkata:

مِنْ عَلَامَةِ إِعْرَاضِ اللَّهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَجْعَلَ شُغْلَهُ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ
“Diantara tanda ‘berpalingnya’ Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Dia menjadikan hamba tersebut sibuk dalam hal-hal yang tidak berguna baginya”.

Sungguh tiap detik yang dilalui seseorang, tiap detik itu pula dia menuju titik kematiannya, titik yang tidak bisa diundur barang sekejappun, tidak cukupkah kematian ini menjadi penasehat?.

Post a Comment for "Bersegera Melaksanakan Kewajiban"