Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

2020: MEYAKINKAN UMAT BAHWA KHILAFAH MERUPAKAN SISTEM BAKU


Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Istilah Khilafah telah diucapkan langsung dari lisan Rasulullah sendiri, dan bukan karangan para sahabat, ulama, apalagi Hizbut Tahrir yang baru muncul pada 1953. Rasulullah pun telah mengabarkan tentang 5 masa kepemimpinan umat Islam hingga datangnya hari kiamat kelak.

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw., Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, “Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin?” Hudzaifah menjawab, “Saya hafal khutbah Nabi saw.” Hudzaifah berkata, “Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapuskanya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masaitu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menhapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian datanglah masa Khilafah ‘ala minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam.” [HR.Imam Ahmad, no.17680; juga musnad al-Bazzar no.2796]

Periwayatan tentang penyebutan istilah Khilafah pun disebut di hadits-hadits lainnya Musnad al-Bazzar, hadits no 1282. Musnad Ahmad, hadits no 2091 dan 20913. Sunan Abu Dawud, hadits no 4028. Sunan at-Tirmidzi, hadits no. 2152. Al-Mustadrak, hadits no. 4438.

Dilihat dari hadits riyawat Ahmad di atas, masa-masa kepemimpinan yang dimaksud Rasulullah telah terjadi, diantaranya fase kenabian, yakni tegaknya negara Islam Madinah, Rasul sekaligus sebagai kepala negara (622-632 M), fase Khilafah ala minhajin nubuwwah (Khulafa al-Rasyidin 632-661 M), fase Mulkan 'Adhan (Khilafah Umayyah, Abbasiyah, Ustmaniyah 661-1924 M), fase Mulkan Jabriyan (1924 - sekarang). Hanya tinggal tersisa 1 masa kepemimpinan lagi, yakni kembalinya Khilafah 'ala minhajin nubuwwah.

Di sisi lain, pihak Barat telah melakukan penelitian untuk memprediksi dunia di masa mendatang. Laporan National Intelligence Council's setebal 123 halaman menyatakan bahwa pada tahun 2020 "A New Caliphate" akan muncul sebagai tantangan baru bagi Barat. [NIC, Mapping the Global Future, hal. 16]

Namun, dengan melihat perkembangan dakwah dan situasi politik saat ini, berbagai potensi keruntuhan fase Mulkan Jabriyan ini memang sangat banyak sekali, ditambah lagi memang ada Khabar dari Rasulullah bahwa Khilafah 'ala minhajin nubuwwah akan kembali tegak sebagai penutup usia umat Muhammad hingga terjadinya kiamat.

Opini Khilafah pun semakin membesar, maka umat Islam pun tidak boleh sekedar menyuarakannya saja karena mengejar maslahat, maka di sini lah umat patut diedukasi mengenai Khilafah agar mempunyai pemahaman yang utuh.

Khilafah sendiri mempunyai konsep baku yang sayangnya masih banyak umat belum mengetahui hal itu, karena gambaran tentang Khilafah memang telah terhapus dalam benak pikiran dan kehidupan umat sejak 3 Maret 1924, sehingga umat hanya mengetahui fakta yang ada saat ini dijadikan sumber pijakan yang menggambarkan Khilafah kelak, padahal itu adalah hal keliru menjadikan fakta sistem saat ini dianalogikan sebagai sistem Khilafah kelak bagi yang pro. Namun bagi yang kontra malah sebaliknya, keadaan fakta saat ini sudah dianggap baku dan tidak dapat dirubah dengan Khilafah yang dianggap masih mengawang-awang, seperti yang dikatakan oleh Mahfud MD atau Nadirsyah Hosen.

Jika ditinjau lebih dalam, maka sistem Khilafah bukanlah sistem kerajaan meski ada pelecengan (human error) sejak masa Khilafah Umayyah-Ustmaniyah dalam metode pembai'atan Khalifah baru, namun sistem secara keseluruhan tetaplah Khilafah. Sistem Khilafah pun bukan imperium (kekaisaran) seperti Romawi, Persia, Jepang, Tsar Russia. Bukan pula sistem federasi dimana masing-masing daerah merdeka sendiri meski hanya diikat oleh hukum umum. Khilafah bukan pula sistem republik presidensil atau parlementer. Semua sistem itu bukanlah salah satu bentuk sistem Khilafah. Tetapi Khilafah adalah negara kesatuan yang asasnya, pemikirannya, pemahamannya, maqayis (standarnya), hukumnya, konstitusi dan undang-undang serta bentuknya disandarkan pada aqidah Islam. [Taqiyuddin An-Nabhani, Ajhizah ad-Dawlah al-Khilafah (terj), hal. 20-23]

Sistem Khilafah sendiri adalah salinan dari af'al, qaul dan taqrir Rasulullah mulai dari hijrahnya hingga wafatnya, yakni negara Islam Madinah yang dipimpin Rasulullah sendiri selama 10 tahun lamanya. Sehingga para sahabat pun meneruskan pelaksanaan negara dengan nama Khilafah, karena para sahabat menggantikan Rasulullah menjadi para Khalifah. Sebagaimana hadits berikut :

"Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para Nabi. Setiap kali seorang nabi wafat maka diganti oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, yang ada adalah para khalifah dan mereka semakin banyak….” [HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Anbiya`, Bab Ma Dzukira ‘an Bani Isra`il, no. 3268]

Lalu apa saja struktur negara Khilafah yang menjadi penopang sistemnya?
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani sebagai seorang Mujadid ke-14 abad 21 sekaligus Mujtahid telah melakukan pendalaman terhadap nash-nash yang berkaitan dengan struktur negara Khilafah. Dalam karyanya kitab Ajhizah ad-Dawlah al-Khilafah diterangkan sebagai berikut:

1. Khalifah (pemimpin Khilafah), dalilnya HR. Muslim no. 1844, 4899; Bukhari no. 2797, 3268; dsb.

2. Mu'awin at-Tafwidh (pembantu Khalifah urusan pemerintahan), dalilnya QS. Thaha: 29; al-Furqon: 35; HR. Hakim dan Tirmidzi dari Abi Sa'id al-Khudri.

3. Mu'awin at-Tanfidz (pembantu Khalifah urusan administrasi), dalilnya HR. Muslim no. 4707; Bukhari no. 2941, dsb.

4. Wali (gubernur), dalilnya af'al Rasulullah yang mengangkat Mu'adz bin Jabal jadi wali di Janad, Ziyad bin Walid di Hadhramaut,  Abu Musa al-'Asy'ari di Zabid dan 'Adn, Uttab bin Ustad di Makkah, 'Amr bin Al-'Ash di Oman, dsb.

5. Amir al-Jihad (departemen peperangan), dalilnya QS. Al-Anfal: 39, 60; HR. Bukhari no. 1189; dsb.

6. Departemen Keamanan Dalam Negeri (Da'irah al-Amni ad-Dakhili) yang diketuai oleh Mudir (Mudir al-Amni ad-Dakhili), dalilnya HR. Bukhari no. 6622.

7. Departemen Luar Negeri (Kharijiyah) dalilnya adalah af'al dan qaul Rasulullah yang Utsman bin Affan untuk berunding dengan Quraisy, lalu mengutus beberapa sahabat untuk menyampaikan surat ke raja-raja sekitar Madinah.

8. Departemen Perindustrian (Ash-Shina'ah), dalilnya QS. Al-Anfal: 60.

9. Peradilan (Al-Qadha), dalilnya QS. Al-Maidah: 49; QS. An-Nur: 48; dsb.

10. Kemaslahatan Umum (Mashalih an-Nas), dalilnya HR. Tirmidzi no. 681; Bukhari no. 2075; Muslim no. 1042; dsb.

11. Baitul Mal, dalilnya HR. Bukhari no. 411; dsb.

12. Departemen Penerangan/Informasi-Komunikasi (Al-I'lam), dalilnya QS. An-Nisa: 84; QS. Al-Hujurat: 6; HR. Bukhari no. 2856; Muslim no. 154; dsb.

13. Majelis Umat (Syuro dan Muhasabah), dalilnya QS. Ali-Imran: 159; QS. Asy-Syura: 38; af'al Rasul yang mengangkat Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Hamzah, Bilal dan 7 orang lainnya menjadi anggota Majelis Umat.

Itulah bukti nyata bahwa Khilafah adalah sistem baku yang sudah Rasulullah wariskan, kemudian diteruskan oleh Khulafah al-Rasyidin. Oleh karena itu sistem Khilafah wajib menjadi agenda umat di 2020 agar terwujud kembali. []

Wallahu alam bishowab.

Post a Comment for "2020: MEYAKINKAN UMAT BAHWA KHILAFAH MERUPAKAN SISTEM BAKU"