Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KRITIK SISTEM OLIGARKI, DIA SENDIRI MENJADI BAGIAN DARI REZIM OLIGARKI


Oleh : Joyo Pentol

Kyai Said menyebut Negara Republik Indonesia saat ini dikuasai oleh segelintir orang yang hanya punya duit.
"Sekarang ini yang korupsi triliyunan tenang-tenang saja. Kenapa? Negara ini sekarang sistem yang berjalan negara oligarch. Ini negara dikuasai oleh orang-orang yang punya duit. Atau didukung oleh orang-orang yang punya duit. Pak Jokowi tidak punya duit, Pak Jokowi tidak punya partai karena bukan ketua partai, tapi didukung yang punya duit.

"Melarat tidak punya duit jangan berharap jadi Bupati Cirebon, melarat tidak punya duit jangan berharap jadi Gubernur Jawa Barat. Yang pegang kuasa adalah Oligarch, sekelompok kecil yang punya duit. Atau didukung orang yang punya duit, paham mboten?," kata Kyai Said dengan suara lantang di hadapan para jamaah haul.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya berada dalam kondisi sangat berbahaya karena negara dikuasai oleh para Oligarki yakni dipimpin oleh sekelompok kecil yang punya uang, yang ashabul maal, kapital.

Maraknya trend ekonomi berbasis teknologi digital yang sedang berkembang pesat di Indonesia juga tak luput dari kritikan Kyai Said. Ketum PBNU dua periode ini menyebut para pemain di ekonomi digital hanya akan melahirkan kapitalis baru.

Kapitalisme ini dinilai Kyai Said sangat tidak memberikan rasa adil kepada Rakyat Indonesia. Dia juga menyinggung sila kelima dari Pancasila yang menurutnya masih jauh panggang dari api.

"Pancasila yang jauh panggang dari api adalah sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, adil tidak? Wong cilik pergi ke pengadilan kalah pasti, walaupun kita benar seribu persen menang ga kira-kira? Walau pengacaranya pinter tapi tidak punya duit tetap kalah," katanya.

Eksploitasi kekayaan alam Indonesia yang berlebihan juga diwanti-wanti oleh Kyai Said. Menurutnya, ini melanggar apa yang pernah disampaikan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW.

"Banyak hal-hal yang dilanggar oleh kita, Rasulullah mengatakan 15 abad yang lalu, tiga hal kekayaan alam tidak boleh dibisniskan; pertama air. Air tidak boleh dibisniskan sebab air adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Kalau kita beli air kemasan ada harganya 2 ribu atau 3 ribu, niat beli botol atau buat ongkos kirim. Air sekarang sudah dibisniskan dimonopoli oleh pabrik-pabrik air minum," katanya

Kyai Said mencontohkan di Sukabumi sumber-sumber air yang bersih dan bagus sudah dikuasai asing.
"Yang kedua adalah energi. Apa energi itu? Gas, minyak, batubara, listrik tidak boleh dibisniskan. Batubara punya kita bersama, minyak punya seluruh rakyat Indonesia, gas juga punya kita bersama," katanya.

"Yang namanya minyak masih dikuasai oleh sekelompok orang mafia minyak, dulu namanya Petral, sekarang dibubarkan. Pertamina, yang namanya Pertamina punya anak perusahaan 167 atau 164, itu artinya apa? Monopoli bisnis di Pertamina oleh orang-orang itu itu saja," lanjut Kyai Said.

Di bidang perbankan, Kyai Said juga mempertanyakan keberpihakan pemerintah untuk membantu rakyat kecil terkait dengan pinjaman modal rendah bunga. Hal ini mengacu yang dialami PBNU ditawari pinjaman dari Menteri Keuangan Sri Mulyani tapi ternyata bunganya memberatkan.

"Dulu pernah tiga tahun yang lalu Sri Mulyani datang ke PBNU akan mengucurkan kredit ultra mikro sebesar 1,5 Triliun untuk warga NU supaya bisnisnya jalan diutangi, eeeh ternyata bunganya 9 persen, ini sama saja dengan bank. Kalau betul-betul afirmasi berpihak pada orang kecil seharusnya 3 persen, sampai sekarang belum cair. Ini kebobrokan pemerintah sekarang, kapitalis baru, oligarki baru," ujar Kyai Said.(mr/tribun)

Dapat diketahui sebab pimpinan PBNU ini mengkritik rezim, karena yang kita tahu selama ini beliau adalah ulama rezim yang sangat setia. Ternyata ujungnya adalah ungkapan hati karena di PHP 1,5 Tiliun oleh Jeng Sri selaku menteri soal duit.

Dari deretan kritik Pak Kyai seharusnya kasih solusi islami, jangan hanya uneg-uneg sakit hati karena dikadali. Negara ada dalam kendali oligarki solusinya apa ?, calon pemimpin dalam pemilu ditopang yang punya duit dengan konsekuensi 'balas jasa' tidak ada makan siang gratis, kolusi bagi-bagi proyek solusinya apa Pak Kyai ?, Kapitalisme tidak memberikan rasa adil kepada rakyat (lha itu memang watak ideologi Kapitalisme), terus solusinya apa Pak Kyai ?, Pancasila tidak hanya sila kelima, semua sila tidak bisa menolong rakyat atas kejahatan Kapitalisme dan oligarki, terus solusinya apa Pak Kyai ?, 3 hal kekayaan alam yang menurut Islam tidak boleh dikuasai oleh individu apalagi asing, nyatanya jatuh ditangan asing dengan atas nama undang-undang privatisasi, terus solusinya apa Pak Kyai ?

Kemarin-kemarin kemana manusia ini ?, bukankah yang dia sampaikan ini adalah kebobrokan-kebobrokan sistem bernegara yang pernah diungkap oleh HTI?. Inilah sistem Demokrasi, bobrok mboten Pak Kyai ?

Panjenengan tahu akar masalahnya dan bagaimana solusinya Pak Kyai ?, HTI menilai akar masalahnya adalah penerapan sistem Demokrasi Kapitalisme Liberal dan solusinya adalah tegakkan Khilafah !. Kalau solusi dari anda seperti apa ?, apakah ketika gerombolan oligarki mencairkan 1,5 Trilyun cash tanpa embel-embel pinjaman, pasti yang nyangkut dikantong anda lumayan besar akan menjadi solusi diamnya anda, apakah begitu ?, dan anda langsung berikrar setia untuk kembali menjadi bagian dari rezim oligarki ?

Rakyat Indonesia tidak bodoh-bodoh amat dan tahu persis diposisi mana Pak Kyai dengan memanfaatkan ormas yang dipimpinnya. Semua orang tahu bahwa dia adalah ulama stempel rezim, ulama yang berada dipintu penguasa. Sepak terjangnya membersamai rezim dan diplot sebagai corong rezim untuk menghadapi siapapun yang bersebrangan.

Strategi pecah belah( adu domba ) rezim Demokrasi Oligarki Kapitalisme Sekuler Liberal  dengan memanfaatkan Banser untuk dibenturkan dengan saudara seimannya, untuk menjaring perolehan suara yang besar dalam pemilu dipakailah Kyai Ma'ruf Amin. NKRI harga mati, Pancasila yang dibuat tameng oleh rezim oligarki untuk merampok aset negeri ini, sampai isu kebhinekaan dan toleransi, merekalah yang vokal dan nyaring bersuara. Apakah tidak disadari oleh para oknumnya bahwa tingkah polah mereka itu sangat menguntungkan rezim oligarki?.

Ketika komponen umat menginginkan perubahan fundamental dengan menjadikan Islam sebagai sandaran dalam mengelola negara, barisan merekalah yang bertugas menghadang dengan menjadi kepanjangan tangan asing Kapitalis penjajah dengan isu radikalisme.

Lha dia sekarang teriak-teriak oligarki !, bukankah selama ini anda menjadi bagian dari rezim oligarki ?. "Kan NKRI sudah final ?", dengan finalnya NKRI berarti Pak Kyai telah mengokohkan sistem oligarki. Karena sistem oligarki ini hanya bisa ditumbangkan dengan ganti sistem, yakni sistem Islam, yang pada faktanya dakwah sistem Islam ini selalu dihadang dengan jargon NKRI sudah final.

Kemarin-kemarin kemana mbah ?, kok baru sekarang kritik model penyelenggaraan negara. Segala kebobrokan sistem sekarang ini sudah diungkap sejak dulu oleh ormas yang konsisten menyuarakan penerapan Syariah Islam secara kaffah ketika anda masih garang-garangnya dan aktif menjadi bagian dari rezim oligarki.

Sekarang ketika kerja kerasnya selama ini yang menjadi penjaga rezim, penjilat rezim dan berhasil memenangkannya dipertarungan pilpres tetapi tidak mendapatkan imbalan yang menggiurkan, tiba-tiba merasa dimanfaatkan, di tipu, di PHP, dikhianati dan bak negarawan sejati sok-sok an mengkritik kebobrokan rezim dengan sistem penyelenggaraan negara yang dikuasai oleh segelintir gerombolan oligarki, padahal dia sendiri menjadi bagian penting dari rezim oligarki. Ketahuilah Pak Kyai, rezim oligarki yang anda kritik, wapresnya dari kalangan anda. Ketika mencalonkan wapres, punya duit tidak ?, dibiayai sekelompok kecil yang punya duit kan ?, berarti bagian dari rezim oligarki.[]

Post a Comment for "KRITIK SISTEM OLIGARKI, DIA SENDIRI MENJADI BAGIAN DARI REZIM OLIGARKI"