Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HTI : DARI MAN OF THE YEAR, SAMPAI ISU HTI CABANG KRISTEN


Oleh : Maulana Jati

Ketika akal tidak jalan maka pikiran dan perkataan akan semakin menunjukan ketidakrasionalan. Setiap ada kejadian yang dirasa merugikan rezim jokowi, mereka akan terus menjadikan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai kambing hitam, sebelumnya, apapun kejadian dan gerakan yang merugikan rezim akan dianggap ditunggangi HTI. Dari gerakan #2019gantipresiden ditunggangi HTI, gerakan 212 ditunggangi HTI, Prabowo ditunggangi HTI, UAS ditunggangi HTI, sampai yang paling anyar, radikalime menurut pemerintah diarahkan kepada HTI.

Ini jelas-jelas merupakan framing untuk monsterisasi HTI dan siapa pun yang menjadi lawan oposisi bagi rezim, ini sudah jadi alat persekusi politik.

Bagi HTI diframing seperti bagaimana pun tidak mempermasalahkan. Bahkan, dianggap jadi sosialisasi gratis bagi masyarakat yang tidak mengenal HTI dan juga kensep Khilafah. 

Pada saat itu, bagi HTI yang disayangkan, framing ini diarahkan kepada mubalig sebesar Abdul Somad yang beberapa kali dipercaya menyampaikan ceramah di sejumlah lembaga negara. Namun beliau masih mendapat persekusi dan ancaman seperti ini. UAS mengaku mendapat sejumlah ancaman dan intimidasi dari berbagai pihak sehingga harus membatalkan agenda dakwahnya di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.

Kemudian pada kampanye pilpres 2019, saat sesi kampanye terbuka Capres 02 Prabowo Subianto, berkibarlah bendera atau panji di beberapa tempat. Sehingga muncul dugaan ada afiliasi dengan HTI. Seketika, Prabowo dan Paslon 02 bahkan gerakan 2019 ganti presiden dikaitkan dengan gerakan Islam ini. Sampai ada pertanyaan apakah Paslon 02 ditunggangi HTI, atau sebaliknya HTI ditunggangi Paslon 02, atau justru simbiosis mutualisme?

Terakhir, usaha rezim ingin menghubungkan radikalisme dengan HTI juga tidak berhasil. Bahkan sering dijadikan olok-olok, guyona bagi yang berpikir, dan seringnya justru dikaitkan dengan pengalihan ketidakmampuan rezim menangani masalah ekonomi negara.

Framing monsterisasi HTI yang dikaitakan dengan perkara yang melawan rezim sebenarnya sangat menguntungkan HTI. Apalagi dilapangan kegiatan mereka masih berjalan dan kerjasama mereka dengan beberapa ormas masih solid. Dan lihat saja opini di media sosial terkait HTI dan Khilafah masih masif, hebatnya mereka terus melakukan opini perlawanan terhadap rezim. Masyarakat juga tidak terganggu bahkan support dengan apa yang mereka lakukan, hanya rezim yang sesungguhnya tidak menyukai HTI.

Sehingga Man of the Year di beberapa tahun ini selalu dipegang oleh HTI.

Setelah puluhan kejadian dihubungkan dengan HTI, ternyata belum usai.

Ada dua siswa SMP yang dikeluarkan dari sekolah karena tak mau hormat bendera merah putih dengan alasan keimanan. Mereka meyakini bahwa menghormati bendera Indonesia sama dengan juga menyembah bendera.

Peristiwa ini terjadi di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kemudian kedua anak tersebut dikeluarkan dari sekolah karena tidak hanya enggan hormat bendera namun juga tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya saat upacara. 

Kemudian gegap gempitalah para hater seperti diulangtahunkan. Entah terlalu membeci atau kurang kuota, kejadian ini dihubungkan dengan HTI dengan dibumbui dengan makar, anti-Pancasila dan anti-NKRI. Memang kejadian sensitif seperti ini, terasa gatal jika tidak dihubungkan dengan HTI. Padahal syabab HTI saja tidak mempermasalahkan bendera apapun dan hormat kepadanya bukan bagian penyembahan. 

Ternyata, anak-anak ini bukan anggota HTI tapi merupakan bagain dari Agama Kristen saksi Yehuwa. Kemudian terjadilah standar ganda, mereka justru diam setelah mengetahui bahwa mereka bukan bagian dari HTI atau bukan bagian Islam. Mereka juga memahami tidak mungkin ada HTI cabang Kristen.

Bahkan, mereka diam walaupun ada pembelaan atas keimanan mereka dari rohaniawan Kristen yang juga Pendeta Gereja Komunitas Anugerah (GKA) Salemba, menyebut bahwa insiden yang terjadi terhadap dua siswa di Batam adalah "ekspresi teologis yang bersinggungan dengan ekspresi nasionalisme yang sempit".

Gimana jika yang berbica seperti itu adalah anggota HTI. Kita akan tahu akhirnya akan seperti apa. Dari TV nasional sampai medsos hater akan memframingnya dengan makar dan radikalisme. Padalah jika ingin konsisten maka perbuatan tersebut adalah perbuatan makar dan saksi Yehuwa juga harus dicap makar dan radikal.

Inilah kenapa kejadian-kejadian dan opini framing monsterisasi terhadap HTI menjadi bahan olokan dan guyonan, sehingga para anggota HTI justru tidak takut dan tidak mengagap terlalu serius terhadap hadangan rezim kepada mereka. Mereka justru fokus terhadap dakwah dan pembentukan opini.

Ketidakadilan inilah yang justru membesarkan HTI ditengah-tengah masyarat, begitu juga dengan dakwah mereka baik terkait Syariah ataupun Khilafah.

Selamat Sukses, HTI yang terus menjadi Man of The Year berturut-turut. Salut. []

Post a Comment for "HTI : DARI MAN OF THE YEAR, SAMPAI ISU HTI CABANG KRISTEN"