Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Optimisme menyongsong Kemenangan Islam


Oleh : _Al Azizy Revolusi_

Empat belas abad yang lalu Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, sepeninggalku akan ada para penguasa negara yang mementingkan diri sendiri dan membuat kebijakan-kebijakan yang tidak kalian sukai.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami ketika mengalami peristiwa tersebut?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (HR Muslim).

Apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. tersebut tampak jelas dalam perilaku para penguasa saat ini. Dilansir oleh beritagar.id, posisi utang hingga akhir Mei 2019 mencapai Rp4.571, 89 triliun. Posisi itu naik dibandingkan Mei 2018, sebesar Rp4.169 triliun. (beritagar.di, 25/06/19) Tentu, ini harus dibayar oleh rakyat. Namun, realitasnya uang rakyat itu digasak oleh penguasa alias dikorupsi dan tidak ada tanda penurunan indeks korupsi Indonesia seolah dibiarkan saja.

Sebagai contoh, kasus hukum yang melibatkan pejabat seperti kasus E-KTP, Setya Novanto tidak diselesaikan dengan serius. Terakhir, beredar foto-foto Setya Novanto yang diduga sedang plesiran di Kabupaten Bandung Barat. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Novanto sedang dalam sebuah gedung toko Bangunan, ada juga yang mengatakan ia berada di sebuah rumah di jalan Panywangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Padahal majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi telah menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada mantan Ketua DPR RI tersebut. Fenomena demikian adalah fenomena gunung es.

Sadar atau tidak, para penguasa sedang menggiring kita secara sengaja, terprogram dan terencana menuju kebinasaan. Lupakah kita bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang sebelum kalian menjadi binasa karena jika ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) mencuri, mereka membiarkannya dan jika ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) mencuri, mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya. Demi Allah, sendainya Fatimah binti Muhamamd mencuri, pasti aku potong tangannya.” (HR al-Bukhari).

Rakyat makin dicekik. Dengan berbagai dalih, ‘subsidi’ BBM dicabut. Padahal pihak yang pertama kali merasakan dampak kenaikan harga-harga akibat hal tersebut adalah rakyat kecil. Mereka tetap bergeming saat banyak pihak mengkritik kebijakan tersebut, seakan mereka kebal kritik dan kebal hukum.

Pemilu 2019 berlalu sudah, namun para elit masih saling sikut untuk memperebutkan kursi dan presiden/wakil presiden hingga ke MK. Mereka makan uang rakyat, tetapi tidak mengurusi rakyat. Realitas ini semakin membuat masyarakat memahami makna sabda Rasul Muhammad saw., “Pada Hari Kiamat kelak setiap pengkhianat akan membawa bendera yang dia kibarkan tinggi-tinggi sesuai dengan pengkhianatannya. Ketahuilah, tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan seorang penguasa terhadap rakyatnya.” (HR Muslim).

Masyarakat makin paham tentang realitas ini. Karenanya, tidaklah mengherankan bila berbagai survey menunjukkan semakin menurunnya kepercayaan rakyat kepada penguasa daripada tahun ke tahun. Penguasa yang mengaku paling pancasilais.

Di tengah derasnya ketidakpercayaan rakyat terhadap penguasa, wakil rakyat, dan partai politik yang menerapkan kapitalisme, ternyata masyarakat menaruh harapan pada syariah Islam dan Khilafah. Dari penelitian Kemenhan, menurut Ryamizard, Pancasila diragukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Di tingkat mahasiswa, ada 23,4 persen responden yang ditanyai setuju dengan jihad untuk tegaknya negara islam atau khilafah. Angka yang tak terlalu berbeda, 23,3 persen responden juga muncul dari kalangan pelajar SMA. Sedangkan di kalangan pegawai swasta, ada 18,1 persen pegawai yang tak setuju dengan ideologi Pancasila. Di kalangan Pegawai Negeri Sipil ada 19,4 persen. Bahkan di jajaran pegawai BUMN, Kemenhan menemukan 9,1 persen yang menyatakan tak setuju dengan Pancasila. Kurang lebih tiga persen, ada TNI terpengaruh dan tak setuju Pancasila. (nasional.tempo.co, 19/6/2019)

Hal ini menunjukkan rakyat semakin sadar bahwa negeri Muslim terbesar ini tengah sakit dan obatnya adalah Islam. Dari sini juga dapat dilihat bahwa propaganda yang memberikan cap negatif (stigma) terhadap gagasan syariah dan Khilafah hanyalah sebuah upaya untuk membungkam jiwa rakyat yang menaruh harapan pada Islam sebagai satu-satunya solusi. Justru respon positif umat terhadap Islam merupakan sikap optimisme tersendiri.

Terkait masalah ini ada dua pelajaran penting. Pertama: optimisme menyongsong kemenangan Islam. Allah SWT telah berjanji memenangkan agama ini dan memberikan pertolongan kepada kaum Mukmin. Upaya musuh-musuh Islam untuk memadamkan Islam sebagai cahaya petunjuk dari Allah SWT pasti kandas.

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS at-Taubah [9]: 32).

Ibnu Katsir mengatakan bahwa upaya mereka memadamkan cahaya Allah ini sebagaimana mereka hendak memadamkan sinar matahari hanya dengan meniupkan mulut mereka. Ini mustahil berhasil (Tafsir al-Quran al-‘Azhim, IV/136).

Kedua: kondisi yang makin parah dan sambutan masyarakat terhadap penerapan syariah dan penyatuan umat dalam Khilafah sejatinya makin mendorong kita untuk terus mendakwahkan kebenaran (al-haq). Kewajiban seorang Muslim saat mengetahui kebenaran adalah mengikuti kebenaran itu dan menyatakan kebenaran itu tanpa rasa takut kepada siapapun. Ini adalah bagian amar makruf nahi munkar. Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu. Bagaimana mungkin ada seseorang dapat dihinggapi rasa takut kepada manusia melebihi takutnya kepada Allah. Hal ini tidak boleh terjadi baik pada individu Muslim maupun gerakan/lembaga Islam. Sebab, seorang Muslim, saat mengetahui kebenaran, harus bertawakal untuk mengikuti kebenaran tersebut, mendakwahkannya, serta menjelaskannya. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Post a Comment for "Optimisme menyongsong Kemenangan Islam"