Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

JEAN-FRANCOIS MAYER Bicara Tentang HIZBUT TAHRIR

Jean-Francois Mayer adalah seorang sejarawan sekaligus penulis asal Switzerland. Ia juga merupakan pengamat gerakan-gerakan agama kontemporer. Beberapa waktu yang lalu ia melakukan penelitian terhadap gerakan Hizbut Tahrir. Dalam penelitian tersebut ia menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Hizbut Tahrir merupakan sebuah kondisi yang tiada duanya sebagai sebuah partai Islam internasional. Dimana ia memiliki cabang di berbagai negara di dunia ini, termasuk dunia Barat. Yang lebih mencengangkan lagi, Hizbut Tahrir di berbagai negeri itu ternyata mengikuti metode dan cara yang sama. Hal itu menunjukkan sebuah langkah yang sangat berani demi menjaga wujud ideologinya.

2. Hizbut Tahrir menolak secara keseluruhan negara-negara bangsa (nation state). Hizbut Tahrir ingin mendirikan negara Islam (Khilafah) yang akan menyatukan seluruh negeri Islam, dan pada puncaknya, seluruh dunia.

3. Hizbut Tahrir selalu mengungkapkan dibutuhkannya Khilafah sebagai sebuah solusi bagi seluruh problem yang menimpa dunia Islam.

4. Para anggota Hizbut Tahrir tidak menganggap bahwa mereka saja-lah yang benar-benar Islam. Mereka tidak menganggap orang-orang Muslim biasa sebagai orang-orang Muslim yang buruk. Hal sepenuhnya berbeda dengan pandangan sebagian kelompok Islam ekstrim yang menganggap anggotanya saja yang benar-benar Muslim, sedangkan kaum Muslim yang lain dalam kondisi murtad.

5. Hizbut Tahrir bukanlah gerakan perdamaian. Akan tetapi, pada fase ini Hizbut Tahrir tidak pernah menggunakan kekerasan dalam berbagai aktivitasnya meskipun kritiknya dan seruannya sangat ekstrim. Sungguh amat mengherankan, banyak anggotanya yang benar-benar dapat mengontrol emosinya meskipun penekanan semakin bertambah.

Jean-Francois Mayer mengakhiri pernyataannya dengan sebuah kalimat: 
"Bisa saja, Masa depan mereka (Hizbut Tahrir)  benar-benar akan cemerlang."

Sumber: Ichal Aydoğan

Post a Comment for "JEAN-FRANCOIS MAYER Bicara Tentang HIZBUT TAHRIR"