Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ini bukan persoalan cebong vs kampret, tapi lebih kepada dasar politik zaman now yang dilandasi azas politik kepentingan.

Politik adalah soal kekuasaan dan kekuasaan di dunia ini adalah uang. Maka, bila uang yang berbicara, politik dapat dikuasai. Itu politik pragmatisme. Ini yang disebut low-politics, politik rendahan. Politik uang untuk memenangkan kompetisi kekuasaan. Uang bisa merajalela dan menjadi penentu bila kekuasaan sebagai tujuan (politics for power). Tapi, tidak semua politik bersifat pragmatis, oportunis dan hanya soal perebutan kekuasaan. Ada yang lebih dari itu.

Agama membimbing manusia agar politik bukan soal praktis-pragmatis, soal uang atau hanya soal berkuasa dan kekuasaan, tapi sarana untuk menciptakan kepemimpinan yang benar atau alat untuk memperjuangkan hal-hal yang lebih tinggi: keadilan, supremasi hukum atau terimplementasinya ajaran kitab suci dalam ranah politik dan kekuasaan tentang kebenaran, kejujuran, amanat dll.

Ini yang disebut high-politics, politik tingkat tinggi. Politik tingkat tinggi tidak mesti berkuasa, yang lebih penting berpengaruh.

Oleh mereka yang kesadaran dan tradisi berpikirnya praktis pragmatis, bahkan oportunis, high-politics ini akan susah difahami dan diterima karena referensi di kepalanya yang disebut politik itu ya yang praktis pragmatis dan rebutan kekuasaan semata itu.

Sama juga, bila rakyat, partai, kelompok, kaum oposan atau apa saja, orientasi politiknya kekuasaan semata atau ingin giliran berkuasa, itu pun bukan politik Islam. Maka, niat berpolitik di sini menentukan. Siapa yang tahu niat? Masing-masing diri, kelompok, partai dan sebagainya.

Niat akan menentukan nilai dan kualitas berpolitik. Oleh niat yang lurus, semua praktik politik busuk akan mudah kelihatan dan terbongkar.

Sekarang, tujuan NKRI, Pancasila, demokrasi dsb apa niatnya? Bila semua itu digunakan hanya untuk berkuasa sekompok orang, maka itulah politik kekuasaan yang rentan penyelewengan, pembusukan dan otoritarianisme atas nama Pancasila dan NKRI.

Post a Comment for "ini bukan persoalan cebong vs kampret, tapi lebih kepada dasar politik zaman now yang dilandasi azas politik kepentingan."