Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HIZBUR-RASŪL & HIZBUT-TAHRĪR

Mentari seperti hendak membakar apapun yang disinarinya, puanas. Tapi tak sepanas para petinggi Quraisy sedang berkumpul di Dārun-Nadwah (tempat mereka biasa nongkrong sambil nyeruput susu kambing) dalam rangka membahas tentang urusan Muhammad.

Dakwah yang dilakukan oleh Muhammad, rupanya sudah mulai meresahkan mereka. Sehingga susu kambing yang mereka seruput siang itu, tak lagi serasa senikmat biasanya.

Apa yang membuat mereka resah?
Tak lain dan tak bukan, karena semakin banyak saja penduduk Mekah yang menyambut seruan dakwah Muhammad.

Padahal sebelumnya, mereka memandang sebelah mata terhadap urusan Muhammad itu. 
Bahkan Abu Jahal pun ketika bersama teman se-geng nya pernah melintasi Muhammad yang tengah mendakwahkan urusannya, sempat hanya berkata, "Lihatlah itu Muhammad dengan urusan/agama barunya yang katanya berasal dari langit."

Para dedengkot Quraisy itu tak menyangka, apa yang dahulu mereka anggap remeh itu, kini telah berubah menjadi sesuatu yang saaangat serius.

Maka, pada sesi nongkrong mereka siang itu, bukan hanya ambing kambing mereka saja yang diperas untuk mereka dapatkan susunya yang ingin mereka sruput.
Tapi "otak" mereka pun juga ikut diperas, agar mereka memperoleh solusinya yang mereka butuhkan.


Anomali

Akan tetapi ada sebuah anomali besar yang terjadi, dan itu disadari benar oleh para pemuka Quraisy itu.
Anomali yang membuat mereka jadi tak tahu apakah mereka harus marah atau harus bagaimana.

Mereka tahu. Muhammad menawarkan aturan baru yang datang dari Tuhannya, yang bertentangan dengan aturan yang selama ini berlaku.

Fanatisme dari ikatan keluarga yang selama ini dianut oleh kaum Quraisy (tak peduli benar atau salah, sesama saudara harus saling membela), akan digantikan dengan ikatan agama.

Ada standar kebenaran yang dijadikan tolok ukur dalam melakukan pembelaan.
Sehingga walaupun saudara, bila salah ya tak boleh dibela.
Yang dibela harus yang benar, meskipun bukan saudara.
Inilah di antara aturan baru yang ditawarkan oleh Muhammad.

Tapi yang membuat mereka pusing, ketika mereka (dedengkot² Quraisy itu) ingin menghukum Muhammad, eh Muhammad malah berlindung dengan memanfaatkan ikatan keluarga yang ia kritisi itu.

Ia berlindung pada Bani Hasyim. Dan Bani Hasyim pun bersedia melindunginya, bahkan misalpun sampai harus berkorban nyawa karenanya.

Padahal, tidak semua anggota Bani Hasyim itu muslim. Tapi mereka tetap bersedia memberikan perlindungan yang Muhammad butuhkan.
Mereka bersedia melakukannya, karena itu adalah norma yang mereka yakini, dan mereka tidak senang norma itu dilanggar.

Muhammad mencari perlindungan dengan memanfaatkan aturan (norma) yang berlaku saat itu. Padahal aturan tersebut adalah aturan yang senantiasa menjadi sasaran kritik Muhammad.

Inilah anomalinya.

Dan petinggi Quraisy yang hadir di Dārun-Nadwah siang itu, semuanya menyadari betapa peliknya situasi yang mereka hadapi.

Umayyah bin Khalaf sampai berkata,
"Posisi Muhammad memang tak biasa. Ia meninggalkan ikatan darah, dan menggantikannya dengan ikatan agama di antara pengikutnya, apapun keturunannya, warna kulitnya, dan pangkatnya. Tapi ketika kita mencoba mengambilnya, dia dilindungi oleh kaumnya."

Abu Jahal pun menimpali,
"Itulah. Ia mengambil keuntungan dari kita untuk dirinya dan agamanya, tapi tidak memberikan kita apa²."

Sehingga tindakan maksimal yang bisa mereka lakukan hanya cacian, hujatan dan ancaman. Penipu, Penyihir, Pemimpi dan segudang nyinyiran lainnya.


Sejarah yang Berulang

Kita tidak perlu pura² tidak tahu.
Kita punya telinga yang dengannya kita jadi bisa mendengar.
Kita juga punya mata yang dengannya kita jadi bisa membaca.

Kita tahu.
Di tengah masyarakat kita saat ini, ada segelintir orang yang hobi mengeluarkan perkataan nyinyir sebagaimana yang pernah dikatakan orang Jahiliah tempo doeloe.

Para nyinyiers itu tahu bahwa HTI menawarkan kepada Ummat ini aturan dari Allah SWT, yang itu jelas berbeda filosofinya dengan aturan buatan manusia yang saat ini berlaku.

Tapi ketika HTI memperoleh tekanan, mereka melihat HTI juga tanpa sungkan berupaya mencari perlindungan dengan memanfaatkan aturan yang berlaku.
Datang ke DPR, ke Komnas HAM, dll.
Anomali.

Apalagi ketika kini HTI membentuk tim yang dinamai Tim 1000 Advokat Pembela HTI, yang dikoordinir oleh pengacara senior Yusril Ihza Mahendra.
Maka menjadi makin parahlah tingkat kenyinyiran mereka itu.

Tim yang disiapkan oleh HTI itu, dalam melakukan pembelaannya, sudah jelas pasti bakal memanfaatkan pasal² yang terdapat dalam undang² peninggalan Belanda yang saat ini berlaku.
Tak mungkin mereka menggunakan dalil² syariah dalam pembelaannya.

Anggota timnya pun tidak semuanya benar² setuju pada pemikiran HTI.
Tapi mereka tetap bersedia memberikan pembelaan yang HTI butuhkan.
Mereka bersedia melakukannya, karena itu adalah norma yang mereka yakini, dan mereka tidak senang norma itu dilanggar.

Sungguh, pada diri RasuluLLah Muhammad SAW itu ada suri tauladan yang terbaik.
Kita harus berupaya mengajak semua manusia untuk mau meneladani Beliau.

Tapi bila ada segelintir orang yang dengan penuh kesadaran lebih memilih untuk menjadi Neo-Jahiliah...
atau lebih suka untuk mengucapkan kata-kata serupa nyinyiran Jahiliah Tempo Doeloe, seperti utopis, absurd, ilusif, dan sejenisnya.
Apa boleh buat? []

#KamiBersamaHTI
#1000AdvokatMembelaHTI


[Mengambil faedah dari coretan Yogie W. Abarri, dengan sedikit perubahan]

Post a Comment for "HIZBUR-RASŪL & HIZBUT-TAHRĪR"